Ekonomi Indonesia Dinilai Stabil, IMF Ingatkan Tantangan Produktivitas

AKURAT.CO Pujian dari Dana Moneter Internasional (IMF) terhadap Indonesia sebagai salah satu bright spot ekonomi global menjadi sinyal positif di tengah ketidakpastian global.
Namun, di balik apresiasi tersebut, tantangan struktural dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing nasional masih menjadi pekerjaan besar pemerintah.
Menteri Keuangan RI,Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa IMF menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, didukung kondisi fiskal yang solid serta bantalan anggaran yang memadai.
Baca Juga: IMF Pangkas Proyeksi Global, Perang dan Harga Minyak Jadi Pemicu Utama
Penilaian tersebut sejalan dengan data makroekonomi terkini. Mengutip hasil data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 berada di kisaran 5,05%, relatif stabil dibandingkan negara berkembang lainnya.
Sementara itu, rasio utang pemerintah tetap terkendali di level sekitar 38% terhadap PDB, jauh di bawah batas aman internasional sebesar 60%.
Dari sisi eksternal, stabilitas juga tercermin pada cadangan devisa yang pada awal 2026 masih berada di atas USD 140 miliar, cukup untuk membiayai lebih dari enam bulan impor.
Sehingga kondisi tersebut semakin memperkuat posisi Indonesia di tengah tekanan global akibat suku bunga tinggi dan perlambatan ekonomi dunia.
Namun demikian, IMF juga menyoroti bahwa untuk mencapai target ambisius pemerintah yakni pertumbuhan ekonomi 8% dalam jangka menengah Indonesia perlu melakukan reformasi struktural yang lebih dalam.
Baca Juga: Menkeu: IMF, Bank Dunia dan Investor Global Merespons Positif Kebijakan Fiskal Indonesia
Salah satu tantangan utama adalah produktivitas tenaga kerja yang masih relatif rendah. Data menunjukkan kontribusi sektor informal masih mendominasi, dengan sekitar 57% tenaga kerja Indonesia berada di sektor informal. Kondisi ini membuat efisiensi ekonomi dan kualitas pertumbuhan menjadi terbatas.
Purbaya menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah untuk menjawab tantangan tersebut. Reformasi dilakukan melalui hilirisasi industri, penguatan sektor digital, serta peningkatan iklim investasi.
Selain itu, pemerintah juga berupaya mendorong transformasi UMKM agar lebih produktif dan terintegrasi dalam rantai pasok global.
Namun, ekonom menilai transformasi ini tidak bisa instan. Produktivitas UMKM masih terkendala akses pembiayaan, literasi keuangan, hingga kapasitas manajemen usaha.
Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan kontribusi UMKM terhadap PDB mencapai lebih dari 60%, tetapi akses terhadap pembiayaan formal masih terbatas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat









