Satu Tahun Danantara

AKURAT.CO Tepat pada 24 Februari 2025 lalu, Pemerintah Indonesia resmi memperkenalkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara.
Selang setahun berlalu, di usianya yang masih terbilang bayi ini Danantara sudah menorehkan berbagai capaian positif. Danantara menjelma menjadi Sovereign Wealth Fund (SWF) domestik yang mengelola 7 BUMN besar. Fokus utamanya mencakup restrukturisasi BUMN, efisiensi operasional, dan persiapan dividen Rp 150 triliun.
Setidaknya, ada 5 capaian Danantara dalam setahun belakangan. Pertama, konsolidasi aset raksasa. Danantara mengelola aset BUMN strategis senilai total Rp15.000 triliun lebih, termasuk perbankan (BRI, Mandiri, BNI), energi (Pertamina, PLN), telekomunikasi (Telkom), dan pertambangan (Mind ID).
Baca Juga: Dividen Dikelola Danantara, Pemerintah Jaga Defisit dan Utang
Kedua, transformasi dan restrukturisasi BUMN. Danantara melakukan pembenahan fundamental bisnis, termasuk efisiensi biaya dan restrukturisasi BUMN Karya, serta memberikan shareholder loan (misalnya ke Garuda Indonesia).
Ketiga, meningkatkan kinerja dan target dividen. Danantara menargetkan laba bersih BUMN sebesar Rp350 triliun pada 2026 dan membidik setoran dividen Rp150 triliun per tahun untuk modal investasi produktif.
Keempat, proyek strategis. Danantara mengelola investasi untuk 4 proyek strategis dengan total nilai Rp 202,4 triliun. Kelima, efisiensi dan Efektivitas. Danantara mendorong peningkatan laba BUMN melalui efisiensi struktur biaya dan perbaikan margin EBITDA.
"Apa yang dilakukan Danantara saat ini memberikan harapan baru bahwa saat BUMN dikelola secara profesional, tidak kalah dengan standar sektor swasta," ujar Enggartiasto Lukito, Menteri Perdagangan RI era 2016-2019.
Terpenting, kehadiran dan pengelolaan Danantara sejauh ini membawa pesan kuat pemerintah: ada perubahan besar dalam cara negara mengelola kekayaannya.
Saat ini aset negara benar-benar dikeloa sebegitu maksimal untuk menghasilakan nilai tambah ekonomi, termasuk ekonomi kerakyatan lewat penciptakan berbagai lapangan kerja baru.
Aset negara tak lagi sekadar angka-angka di pos laporan neraca ataupun laba rugi, namun memperkuat kedaulatan negara. Kepercayaan investor global pun terus naik merefleksikan kekuatan ekonomi Indonesia yang stabil di kawasan Asia.
Lewat percepatan hilirisasi, terutama di sektor energi hijau dan baterai listrik yang menjadi sumber pertumbuhan baru, pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa harus menarik utang baru.
Ke depan, Danantara diharapkan kian transparan, akuntabel, dan punya visi panjang. Dengan demikian, Danantara bisa menjadi motor transformasi ekonomi nasional yang membantu Indonesia keluar dari jebakan middle income trap.
Dengan begitu, cita-cita Indonesia Emas 2045 dimana negara menjadi mandiri, berdaulat, dan berdaya saing tinggi tak sekadar angan-angan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









