Akurat

Rupiah Tembus Rp16.945, BI Gencarkan Intervensi Pasar NDF dan DNDF

Yosi Winosa | 21 Januari 2026, 15:51 WIB
Rupiah Tembus Rp16.945, BI Gencarkan Intervensi Pasar NDF dan DNDF

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) kembali memperkuat strategi stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya tekanan global.

Pada perdagangan 20 Januari 2026, nilai tukar rupiah tercatat melemah ke level Rp16.945 per USD atau turun 1,53% secara point to point (ptp) dibandingkan posisi akhir Desember 2025. 

Kondisi ini mendorong BI untuk meningkatkan intensitas intervensi di berbagai instrumen pasar, mulai dari non-delivery forward (NDF) offshore dan onshore, domestic non-delivery forward (DNDF), hingga pasar spot. 
 
Di tengah ketidakpastian pasar keuangan global, kebijakan BI ini menjadi perhatian pelaku pasar, investor, dan masyarakat yang memantau pergerakan rupiah serta dampaknya terhadap ekonomi nasional.

BI Tingkatkan Intervensi untuk Jaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia menempuh dan meningkatkan intensitas langkah stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar NDF, baik offshore maupun onshore, DNDF, serta pasar spot.
 
 
Gubernur BI, Perry Warjiyo menegaskan, respons kebijakan tersebut efektif menjaga volatilitas nilai tukar rupiah agar tetap terkendali dan sejalan dengan upaya pencapaian sasaran inflasi nasional.
 
“Respon kebijakan ini dapat menjaga volatilitas nilai tukar rupiah dan tetap konsisten dengan upaya pencapaian sasaran inflasi 2,5 plus minus 1 persen pada 2026,” ujar Perry dalam konferensi pers daring di Jakarta, Rabu (21/1/2026).

Ketidakpastian Global Tekan Nilai Tukar Rupiah

Perry menjelaskan, pelemahan rupiah dalam beberapa pekan terakhir dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global.
 
Tekanan tersebut mendorong terjadinya aliran keluar modal asing dari pasar keuangan domestik, yang kemudian berdampak pada pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Permintaan Valas Domestik Ikut Berpengaruh

Selain faktor global, kinerja rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan valuta asing (valas) dari perbankan dan korporasi domestik.
 
Kenaikan permintaan valas ini sejalan dengan aktivitas ekonomi yang terus bergerak, terutama untuk kebutuhan pembayaran impor, utang luar negeri, dan transaksi bisnis lainnya.

BI Optimistis Rupiah Berpeluang Menguat ke Depan

Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi yang terukur di pasar NDF, DNDF, dan spot, serta penguatan strategi operasi moneter yang pro-market.
 
Menurut Perry, fundamental ekonomi Indonesia masih memberikan dukungan positif bagi stabilitas rupiah.
 
“Bank Indonesia meyakini ke depan rupiah akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat, didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik,” kata Perry.
 
Dengan kombinasi intervensi pasar yang agresif namun terukur serta fundamental ekonomi yang relatif solid, Bank Indonesia optimistis stabilitas nilai tukar rupiah dapat terus terjaga di tengah gejolak global. 
 
Bagi pelaku pasar dan masyarakat, langkah BI ini menjadi sinyal kuat bahwa otoritas moneter tetap waspada dalam menjaga kepercayaan pasar dan momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa