Akurat

Ingin Mempersiapkan Masa Pensiun? Inilah Tips dari DBS untuk Mencapai Stabilitas Finansial demi Kehidupan yang Tenteram

Idham Nur Indrajaya | 20 Januari 2026, 15:18 WIB
Ingin Mempersiapkan Masa Pensiun? Inilah Tips dari DBS untuk Mencapai Stabilitas Finansial demi Kehidupan yang Tenteram

AKURAT.CO Fenomena masyarakat menua kini bukan lagi isu masa depan, melainkan realitas yang sedang berlangsung di Asia, termasuk Indonesia. Perubahan struktur demografi berjalan cepat, sementara kesiapan masyarakat dalam menghadapi masa pensiun masih tergolong rendah. Menjawab tantangan ini, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation meluncurkan kampanye “Pensiun Gak Susah”, sebuah inisiatif yang mengajak masyarakat mulai merancang masa pensiun sejak dini agar tetap sejahtera, aktif, dan bermakna di usia lanjut.

Kampanye ini hadir di tengah pergeseran besar komposisi penduduk Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada 2035 lebih dari 14 persen penduduk Indonesia akan berusia di atas 60 tahun. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 20 persen atau setara 63 juta jiwa pada 2045. Kondisi ini menandai berakhirnya bonus demografi dan menuntut kesiapan yang lebih matang, baik dari sisi individu, ekosistem, maupun kebijakan publik.

Perubahan Demografi dan Tantangan Pensiun di Indonesia

Lonjakan populasi lanjut usia membawa implikasi besar bagi kehidupan sosial dan ekonomi. Jika tidak diantisipasi, peningkatan usia harapan hidup berpotensi memicu berbagai persoalan, mulai dari tekanan finansial, akses layanan kesehatan, hingga menurunnya kualitas hidup di masa tua.

Namun, di sisi lain, penuaan populasi juga membuka peluang baru. Dengan dukungan sistem yang tepat, kelompok lansia tetap dapat hidup mandiri, produktif, dan berkontribusi dalam masyarakat. Kunci utamanya terletak pada perencanaan jangka panjang yang tidak hanya berfokus pada dana, tetapi juga pada kualitas hidup secara menyeluruh.

Sejalan dengan komitmen ‘Best Bank for a Better World’, DBS Foundation menempatkan isu ageing society sebagai salah satu fokus utama. Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa usia panjang harus diiringi dengan kehidupan yang layak, bermartabat, dan penuh makna.

Pensiun Bukan Akhir, Tapi Fase Hidup yang Perlu Dirancang

Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, mengatakan bahwa perubahan demografi yang terjadi hari ini menuntut pergeseran cara pandang dalam mempersiapkan masa depan.

Pensiun tidak lagi bisa diposisikan sebagai fase akhir yang dipikirkan belakangan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang perlu dirancang sejak dini dan disesuaikan dengan dinamika kehidupan.

"Sebagai purpose-driven bank, Bank DBS Indonesia berkomitmen memberdayakan populasi menua, salah satunya melalui panduan dan wawasan menyeluruh untuk membantu masyarakat merencanakan pensiun secara holistik, agar setiap individu dapat menikmati hidup yang bermakna di setiap fase usia,” ujar Mona Monika dalam acara Journalist Class “Merancang Pensiun yang Berkualitas: Lebih dari Sekadar Finansial” yang diselenggarakan DBS Indonesia di Jakarta, Senin, 19 Januari 2026. 

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pensiun bukan sekadar berhenti bekerja, melainkan transisi menuju fase kehidupan baru yang tetap membutuhkan arah, tujuan, dan kesiapan mental.

Retirement Goal Calculator, Alat Praktis untuk Rencana Pensiun

Sebagai bagian dari kampanye “Pensiun Gak Susah”, Bank DBS Indonesia menghadirkan Retirement Goal Calculator. Alat ini dirancang untuk membantu masyarakat mendapatkan gambaran kebutuhan pensiun secara realistis dan terukur, tidak hanya dari sisi kebutuhan dasar, tetapi juga gaya hidup yang ingin dipertahankan di masa tua.

Kalkulator ini sejalan dengan misi ‘Live more, Bank less’, yaitu menyederhanakan proses perencanaan keuangan agar lebih mudah diakses dan dipahami. Dengan begitu, masyarakat bisa fokus menjalani hidup sekaligus mempersiapkan masa depan dengan lebih tenang.

Sebagai ilustrasi, Reza berusia 30 tahun dan berencana pensiun di usia 55 tahun dengan harapan hidup hingga 71 tahun. Ia memiliki tabungan deposito Rp10 juta, investasi Rp15 juta, serta rutin menabung Rp3 juta per bulan dengan estimasi imbal hasil tahunan 5,57 persen. Saat ini, kebutuhan bulanannya mencakup Rp13 juta untuk kebutuhan dasar dan Rp7,5 juta untuk kebutuhan lainnya.

Dengan estimasi kebutuhan pensiun sekitar Rp19,5 juta per bulan (dalam nilai saat ini) dan masa pensiun selama 16 tahun, Reza membutuhkan dana sekitar Rp2,52 miliar. Perhitungan ini sudah memperhitungkan inflasi 3,1 persen dan mencakup kebutuhan hidup dasar hingga gaya hidup seperti olahraga dan liburan.

Pensiun Bukan Hanya Soal Uang

Meski perhitungan finansial penting, kesiapan pensiun tidak berhenti di angka. Banyak orang mengalami “kejutan pensiun” karena kehilangan rutinitas, peran sosial, hingga rasa tujuan hidup. Tanpa persiapan mental dan gaya hidup, masa pensiun justru bisa menjadi fase yang penuh tekanan.

Karena itu, memahami ekspektasi sejak dini menjadi langkah krusial. Masa pensiun idealnya dipandang sebagai fase aktif yang tetap memberi ruang untuk berkarya, berkontribusi, dan menikmati hidup dengan cara baru.

Ligwina Hananto, Founder & CEO QM Financial, mengatakan bahwa banyak orang menunda perencanaan pensiun karena menunggu momen yang dianggap ideal dengan penghasilan stabil, tanggungan berkurang, atau kondisi ekonomi membaik.

Padahal, perencanaan pensiun tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesinambungan. Baik dimulai di usia 20-an maupun 40-an, keputusan paling krusial adalah memulai sekarang dengan pendekatan yang relevan terhadap kondisi saat ini agar strategi yang dibangun tetap adaptif dan mampu bertumbuh seiring perubahan fase hidup.

"Salah satu strategi praktis yang bisa diterapkan adalah formula pos pengeluaran 10/20/30/40. Dari pendapatan bulanan, idealnya minimal 10% dialokasikan untuk menabung atau investasi, maksimal 20% untuk gaya hidup, maksimal 30% untuk cicilan, dan sisanya 40% untuk kebutuhan rutin sehari-hari,” kata Ligwina dalam kesempatan yang sama. 

Silver Economy dan Peluang Masa Depan

Urgensi perencanaan pensiun juga tercermin dalam tren global. Studi CIO Insights bertajuk Ekonomi Umur Panjang mencatat bahwa harapan hidup manusia meningkat drastis, dari sekitar 40 tahun pada 1900 menjadi lebih dari 74 tahun saat ini. Peningkatan ini akan mendorong lonjakan kebutuhan layanan kesehatan, proteksi, dan sistem pensiun yang lebih matang.

Di sinilah konsep silver economy mengambil peran. Ekonomi lansia mencakup berbagai sektor, mulai dari kesehatan, perumahan, transportasi, teknologi, hingga gaya hidup, yang dirancang untuk mendukung kualitas hidup kelompok usia lanjut. Dengan potensi pasar bernilai triliunan dolar, silver economy kini berada di titik emas dan menjadi peluang strategis yang semakin relevan.

Investasi dan Proteksi sebagai Fondasi Pensiun

Masa pensiun yang tenang membutuhkan keseimbangan antara pertumbuhan aset dan perlindungan risiko. Investasi tanpa proteksi bisa rentan, sementara proteksi tanpa perencanaan keuangan jangka panjang juga tidak cukup.

“Dengan menggabungkan investasi yang bijak dan proteksi melalui asuransi, nasabah dapat menjaga daya beli dan aset, memperoleh ketenangan pikiran, tetap mandiri, dan menikmati masa tua dengan percaya diri. Sebagai mitra tepercaya dalam manajemen kekayaan, Bank DBS Indonesia berkomitmen mendampingi nasabah di setiap fase kehidupan melalui solusi perbankan yang mendukung kesiapan pensiun,” ujar Head of Investment & Insurance Products Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Djoko Sulistyo.

Menata Masa Depan Sejak Hari Ini

Kampanye “Pensiun Gak Susah” menegaskan bahwa perencanaan pensiun bukan sesuatu yang rumit atau menakutkan. Dengan langkah kecil namun konsisten, serta dukungan informasi dan alat yang tepat, masa depan bisa disiapkan sejak sekarang.

Bagi yang ingin mulai menghitung kebutuhan pensiun secara mandiri, Retirement Goal Calculator dari Bank DBS Indonesia dapat menjadi titik awal yang praktis. Sementara itu, informasi lebih lanjut tentang DBS Foundation bisa diakses melalui laman resmi dan akun Instagram @dbsfoundationid.

Kalau kamu tertarik dengan isu perencanaan pensiun, perubahan demografi, dan peluang ekonomi masa depan, pantau terus update terbaru seputar keuangan dan gaya hidup berkelanjutan di AKURAT.CO.

Baca Juga: Strategi Menghadapi Inflasi agar Dana Pensiun Tetap Bertahan

Baca Juga: Total Mencapai Rp12 Miliar, Mantan Sekjen Kemenaker Heri Sudarmanto Masih Terima Uang Hasil Pemerasan RPTKA Setelah Pensiun

FAQ

Apa itu kampanye “Pensiun Gak Susah”?

“Pensiun Gak Susah” adalah kampanye dari Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation yang bertujuan mendorong masyarakat merencanakan masa pensiun sejak dini agar tetap sejahtera, aktif, dan bermakna di usia lanjut.

Mengapa perencanaan pensiun semakin penting di Indonesia?

Struktur penduduk Indonesia sedang berubah. Berdasarkan proyeksi BPS, jumlah penduduk berusia di atas 60 tahun akan meningkat signifikan hingga 2045. Tanpa perencanaan yang matang, banyak orang berisiko menghadapi ketidakpastian finansial dan penurunan kualitas hidup saat pensiun.

Apakah perencanaan pensiun hanya soal menabung uang?

Tidak. Selain dana, perencanaan pensiun juga mencakup kesiapan mental, gaya hidup, perlindungan kesehatan, serta peran dan aktivitas yang ingin dijalani di masa tua agar tetap produktif dan bermakna.

Apa fungsi Retirement Goal Calculator dari Bank DBS Indonesia?

Retirement Goal Calculator membantu memberikan gambaran kebutuhan dana pensiun berdasarkan usia, target pensiun, estimasi inflasi, imbal hasil investasi, dan gaya hidup yang diinginkan. Alat ini memudahkan perencanaan secara lebih terarah dan realistis.

Apakah kalkulator pensiun ini hanya untuk nasabah Bank DBS?

Tidak. Retirement Goal Calculator dapat digunakan sebagai referensi awal bagi masyarakat umum yang ingin memahami gambaran kebutuhan pensiun secara sederhana dan mudah dipahami.

Kapan waktu terbaik untuk mulai merencanakan pensiun?

Tidak ada kata terlalu cepat atau terlambat. Yang paling penting adalah mulai sekarang dengan strategi yang sesuai kondisi saat ini dan terus menyesuaikannya seiring perubahan fase hidup.

Apa itu silver economy dan mengapa relevan?

Silver economy adalah aktivitas ekonomi yang berfokus pada kebutuhan dan pemberdayaan kelompok lansia, mulai dari layanan kesehatan, perumahan, hingga gaya hidup. Dengan meningkatnya usia harapan hidup, sektor ini memiliki potensi pasar bernilai triliunan dolar secara global.

Mengapa investasi dan proteksi perlu berjalan bersamaan?

Investasi membantu menumbuhkan aset, sementara proteksi seperti asuransi menjaga nilai aset dan daya beli dari risiko tak terduga. Kombinasi keduanya memberikan ketenangan dan kemandirian di masa pensiun.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.