Akurat

IPO Awal 2026 Masih Sepi, Citi: Akan Bergairah di Semester II

Yosi Winosa | 16 Januari 2026, 20:35 WIB
IPO Awal 2026 Masih Sepi, Citi: Akan Bergairah di Semester II

AKURAT.CO Aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Indonesia diperkirakan masih belum menunjukkan geliat signifikan pada paruh pertama 2026. Proyeksi ini disampaikan Citigroup yang menilai kondisi pasar saham domestik belum sepenuhnya pulih dalam jangka pendek. 

Lemahnya likuiditas perdagangan serta minimnya aktivitas equity capital market (ECM) menjadi faktor utama yang membuat investor dan calon emiten cenderung menahan langkah. 
 
Meski demikian, peluang kebangkitan IPO dinilai mulai terbuka pada paruh kedua tahun ini, seiring tren penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan membaiknya kinerja harga komoditas. Kondisi ini berpotensi mengubah peta minat investor, khususnya pada sektor-sektor berbasis sumber daya alam.

Citi: IPO Indonesia Belum Menarik di Paruh Pertama 2026

Head of Asia Equity Capital Markets Syndicate Citigroup, Rob Chan, menyampaikan bahwa pihaknya belum melihat adanya rencana IPO berskala signifikan di Indonesia pada semester pertama 2026.
 

“Aktivitas IPO dalam jangka pendek di Indonesia, kami tidak memperkirakan adanya IPO signifikan pada paruh pertama tahun ini,” ujar Rob dalam Asia South Investment Banking Outlook 2026 yang digelar secara daring, Jumat (16/1/2026).

Menurutnya, kinerja pasar saham dalam negeri masih belum menunjukkan pemulihan yang cukup kuat untuk mendorong aksi korporasi besar dalam waktu dekat.

Nilai ECM Indonesia Masih Terbatas

Rob mengungkapkan, sepanjang tahun lalu total aktivitas equity capital market (ECM) di Indonesia hanya berada di kisaran USD1 miliar. Angka tersebut relatif stagnan dan tidak jauh berbeda dibandingkan capaian tahun sebelumnya.

Kondisi ini mencerminkan masih terbatasnya pendalaman pasar serta minimnya transaksi besar di bursa saham domestik.

Likuiditas Jadi Pertimbangan Utama Investor

Salah satu faktor utama yang membuat pasar IPO belum bergairah adalah likuiditas perdagangan saham. Rob menilai, aspek likuiditas masih menjadi pertimbangan krusial bagi investor dalam mengambil keputusan investasi di pasar modal Indonesia.

“Secara keseluruhan, salah satu pertimbangan utama yang dimiliki orang-orang Indonesia masih akan tertuju pada likuiditas perdagangan saham di situ,” jelasnya.

Likuiditas yang terbatas dinilai menurunkan daya tarik saham baru, terutama bagi investor institusional.

Peluang IPO Mulai Terbuka di Semester II-2026

Meski demikian, Citigroup melihat peluang perbaikan mulai muncul pada paruh kedua 2026. Rob menyoroti tren penguatan IHSG dalam beberapa waktu terakhir sebagai sinyal awal membaiknya sentimen pasar.

Perbaikan kinerja indeks diyakini dapat mendorong kembali minat emiten untuk masuk ke pasar modal, terutama jika tren tersebut berlanjut secara konsisten.

Saham Komoditas Berpotensi Jadi Primadona

Dalam pandangan Citigroup, sektor berbasis komoditas berpotensi menjadi penarik utama minat investor. Hal ini sejalan dengan penguatan harga komoditas global yang terjadi belakangan ini.

“Perusahaan-perusahaan tersebut mungkin akan mendapat manfaat dari peningkatan perhatian investor untuk melihat potensi peluang penggalangan modal ekuitas tambahan,” ujar Rob.

Sektor ini dinilai memiliki daya tarik lebih kuat karena didukung fundamental harga dan prospek pendapatan yang membaik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa