Akurat

INDEF: Investor Kini Cari Kepastian, Bukan Sekadar Tax Holiday

Hefriday | 30 Desember 2025, 09:30 WIB
INDEF: Investor Kini Cari Kepastian, Bukan Sekadar Tax Holiday

AKURAT.CO Pemerintah dinilai perlu mengubah pendekatan dalam menarik investasi asing ke Indonesia. Insentif fiskal seperti tax holiday dan tax incentive disebut tak lagi cukup efektif untuk memikat investor global agar menanamkan modalnya di Tanah Air.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti mengatakan, Indonesia membutuhkan kebijakan yang lebih disesuaikan atau customized policy dengan kebutuhan investor. Menurutnya, potensi sumber daya alam yang melimpah belum otomatis menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi utama.

“Kita punya banyak natural resources, tetapi kenapa investor tidak terlalu tertarik datang ke Indonesia. Salah satunya karena paket kebijakan kita belum benar-benar customized,” ujar Esther di Jakarta, Selasa (30/12/2025).

Baca Juga: INDEF: 84 Persen Warganet Dukung Larangan Rangkap Jabatan

Esther menilai, strategi pemberian keringanan pajak yang selama ini diandalkan pemerintah mulai kehilangan relevansi. Investor asing saat ini lebih mempertimbangkan faktor kepastian usaha, kemudahan berbisnis, serta ekosistem industri yang mendukung operasional jangka panjang.

Dirinya menekankan, ketersediaan infrastruktur yang andal menjadi prasyarat utama bagi investor, khususnya di sektor manufaktur. Infrastruktur dasar seperti pasokan listrik, gas, dan air bersih dinilai harus tersedia secara memadai sebelum investor memutuskan membangun pabrik.

“Investor butuh hal lain. Infrastruktur harus firm dulu, ada gas, listrik, dan air bersih, sehingga mereka bisa langsung membangun pabrik di situ,” jelasnya.

Hal serupa juga berlaku di sektor pariwisata. Esther menyebut, investor akan lebih tertarik berinvestasi di destinasi wisata yang memiliki konektivitas transportasi yang baik, terutama akses penerbangan. Tanpa dukungan infrastruktur transportasi, potensi pariwisata sulit dikapitalisasi secara optimal.

Selain infrastruktur, kualitas sumber daya manusia (SDM) juga menjadi perhatian utama investor. Esther menilai pasar tenaga kerja domestik masih rapuh karena didominasi sektor informal, yang kerap tidak sesuai dengan kebutuhan industri modern.

Baca Juga: INDEF: Dana Rp200 T Harus Efektif Dorong Kredit dan UMKM

Esther menyoroti adanya persoalan skill mismatch atau ketidakcocokan keterampilan, serta rendahnya tingkat pendidikan tenaga kerja. Kondisi ini membuat industri kesulitan mendapatkan pekerja dengan kompetensi yang dibutuhkan.

“Sebagian besar tenaga kerja kita masih di sektor informal. Ini dipengaruhi oleh mismatch skill dan tingkat pendidikan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Kolaborasi Internasional INDEF Imaduddin Abdullah menambahkan bahwa penguatan riset dan pengembangan atau Research and Development (R&D) juga krusial untuk meningkatkan daya tarik investasi Indonesia.

Menurut Imaduddin, inovasi yang dihasilkan dari R&D dapat mendorong adopsi teknologi dan meningkatkan produktivitas industri nasional. Hal tersebut akan memberikan keyakinan lebih besar bagi investor asing untuk menanamkan modalnya.

Esther menilai, tanpa inovasi dan efisiensi biaya operasional, Indonesia berisiko kalah bersaing dengan negara-negara tetangga dalam menarik investasi asing. Padahal, persaingan antarnegara di kawasan semakin ketat.

“Kalau tidak menerapkan R&D, saya pikir Indonesia tidak akan bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atas atau upper middle-income trap,” kata Imaduddin.

INDEF pun mendorong pemerintah untuk tidak hanya fokus pada insentif pajak, tetapi membangun ekosistem investasi yang menyeluruh. Mulai dari infrastruktur, SDM, hingga inovasi industri dinilai harus menjadi satu paket kebijakan agar Indonesia mampu bersaing di mata investor global.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi