Akurat

Buyback BMRI Lebih Bersifat Psikologis untuk Jaga Kepercayaan Pasar

Yosi Winosa | 5 Desember 2025, 12:23 WIB
Buyback BMRI Lebih Bersifat Psikologis untuk Jaga Kepercayaan Pasar

AKURAT.CO Langkah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang akan melakukan aksi korporasi pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp1,17 triliun dinilai memiliki tujuan utama menjaga kepercayaan pasar di tengah volatilitas harga saham perbankan.

Aksi tersebut dipandang sebagai sinyal positif bagi investor bahwa Bank Mandiri tetap menjadi pilihan investasi yang menarik.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas PGRI Semarang, Heri Prabowo, menilai langkah buyback Bank Mandiri tergolong konservatif dan lebih menekankan pada aspek psikologis ketimbang fundamental.

“Tujuan utama buyback bukan semata memperbaiki kinerja keuangan, tetapi memberi sinyal ke pasar bahwa manajemen berkomitmen menjaga stabilitas harga saham dan keyakinan investor,” ujarnya.

Menurut Heri, aksi buyback umumnya dilakukan perusahaan ketika merasa valuasi sahamnya berada di bawah nilai intrinsik. Dengan menggunakan kas internal, manajemen ingin menunjukkan kepercayaan bahwa saham Bank Mandiri masih undervalued dan prospek bisnis ke depan tetap solid.

Baca Juga: Misbakhun: Buyback Saham BMRI Ikut Dongkrak Kepercayaan Publik terhadap Negara

“Ini juga bagian dari strategi untuk menyeimbangkan kondisi pasar dan menunjukkan kepercayaan diri manajemen terhadap fundamental perusahaan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Heri menambahkan bahwa aksi buyback berpotensi meningkatkan laba per saham (earning per share/EPS) melalui pengurangan jumlah saham beredar. “Buyback bisa memperbaiki rasio keuangan, terutama EPS, sehingga valuasi saham menjadi lebih menarik di mata investor,” kata Heri.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa buyback bukan tanpa tantangan. Penggunaan dana yang terlalu besar dapat mengurangi fleksibilitas perusahaan dalam melakukan ekspansi atau investasi baru. “Kalau buyback dilakukan hanya untuk mempercantik citra tanpa disertai perbaikan fundamental, justru bisa mengecewakan pasar,” tegasnya.

Heri juga menyoroti pandangan sebagian pihak yang menilai buyback berisiko mengurangi likuiditas saham di pasar dan berpotensi merugikan pemegang saham minoritas.

Meski begitu, dari sisi fundamental, Bank Mandiri dinilai masih memiliki kinerja yang kuat. Hingga akhir September 2025, pertumbuhan kredit tercatat sekitar 11% year-on-year, sementara total aset konsolidasinya naik 10,3% menjadi sekitar Rp2.563 triliun.

Meski profitabilitas sempat tertekan—dengan laba bersih turun 10,3% dan rasio cost to income meningkat akibat biaya operasional—kualitas aset Bank Mandiri tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL Gross) hanya sekitar 1,03% dan rasio permodalan di atas 20%. Kondisi tersebut memberi ruang bagi manajemen untuk melaksanakan buyback tanpa mengganggu ekspansi bisnis.

“Dari sisi nominal, nilai buyback Rp1,17 triliun masih relatif kecil, hanya sekitar 0,27% dari kapitalisasi pasar dan 0,65% dari laba bersih tahunan. Secara finansial aman, tapi dampaknya terhadap harga saham mungkin belum signifikan,” jelas Heri.

Ia memperkirakan efek buyback akan terasa lebih kuat jika nilainya mencapai 1–2% dari kapitalisasi pasar, atau sekitar Rp2,5–3 triliun. “Meski demikian, langkah tersebut tetap penting secara psikologis untuk meredam tekanan jual dan menjaga kepercayaan investor di tengah ketidakpastian ekonomi global,” tukasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa