Akurat

Platform FTMO Kian Digandrungi Trader, Ini Alasannya

Hefriday | 2 November 2025, 14:56 WIB
Platform FTMO Kian Digandrungi Trader, Ini Alasannya

AKURAT.CO Di tengah berkembangnya industri keuangan digital, istilah FTMO semakin sering terdengar di kalangan trader Indonesia.

Platform ini menjadi magnet bagi para trader ritel yang ingin menjajal kemampuan mereka di dunia profesional tanpa harus memiliki modal besar. Namun, di balik peluang yang ditawarkan, ada pula risiko dan tantangan yang perlu dipahami secara mendalam.

Dikutip dari berbagai sumber, Minggu (2/11/2025) FTMO merupakan sebuah perusahaan proprietary trading (prop firm) yang berbasis di Praha, Republik Ceko.

Didirikan pada tahun 2015 oleh sekelompok trader profesional, FTMO menawarkan kesempatan bagi trader di seluruh dunia untuk mengelola dana besar dari perusahaan, setelah berhasil melewati serangkaian uji kompetensi trading.

Secara sederhana, FTMO bukanlah broker tempat orang menyetor uang untuk trading. Melainkan, FTMO menguji kemampuan trader melalui simulasi dengan aturan ketat. Jika trader lulus, FTMO akan memberikan akun dana perusahaan untuk dikelola. 

Baca Juga: Ini Sebab Fondeo Dinilai Sebagai Salah Satu Perusahaan Prop Trading Kripto Terbaik

Sebagai imbalan, trader akan mendapatkan bagi hasil dari keuntungan trading, yang umumnya mencapai 80–90% dari total profit.

Sistem ini menjadikan FTMO sebagai jembatan antara trader ritel yang berbakat dengan modal terbatas, dan dunia trading profesional yang membutuhkan konsistensi dan disiplin tinggi.

FTMO memiliki model bisnis berbasis seleksi bertahap. Trader tidak langsung mendapatkan akses ke dana perusahaan. Mereka harus melewati dua fase utama sebelum bisa disebut sebagai “FTMO Trader”.

Pertama, FTMO Challenge. Tahap pertama disebut Challenge. Trader harus membayar biaya pendaftaran yang bervariasi tergantung besar akun yang dipilih, mulai dari USD10.000 hingga USD200.000. Biaya ini bukan deposit trading, melainkan biaya evaluasi.

Dalam tahap ini, trader diberi waktu 30 hari untuk mencapai target profit sebesar 10% dari modal simulasi, tanpa melanggar aturan utama, yaitu Daily loss limit yakni kerugian harian tidak boleh melebihi 5%. 
 
Maximum loss limit yaitu total kerugian tidak boleh lebih dari 10%. Tidak boleh melanggar batas waktu atau menggunakan strategi curang seperti copy trading atau latency arbitrage. Bila trader berhasil memenuhi target dengan tetap menjaga risiko, mereka berhak melanjutkan ke tahap berikutnya.

Kedua, Verification. Tahap kedua disebut Verification atau verifikasi, yang berfungsi sebagai uji konsistensi. Pada fase ini, trader diberi waktu 60 hari untuk meraih target keuntungan 5%, dengan aturan risiko yang sama. Tujuannya adalah memastikan bahwa keberhasilan pada tahap pertama bukan sekadar keberuntungan.

Ketiga, FTMO Account (Akun Dana Sungguhan). Jika berhasil melewati dua tahap tersebut, trader akan mendapatkan akun FTMO yang didanai perusahaan. Trader kini resmi menjadi funded trader dan bisa mulai mendapatkan bagian dari keuntungan riil.

FTMO biasanya menawarkan profit split 80:20 hingga 90:10, di mana 80–90 persen keuntungan menjadi milik trader, sementara 10–20% sisanya untuk FTMO. Pembayaran dilakukan setiap 14 hingga 30 hari sekali.

Dalam beberapa tahun terakhir, FTMO mengalami pertumbuhan pesat dan menjangkau trader dari lebih dari 180 negara.
 
Terdapat sejumlah faktor yang menjadikan FTMO begitu populer, terutama di kalangan trader muda.

Pertama, Akses Modal Besar Tanpa Risiko Pribadi. Banyak trader ritel kesulitan berkembang karena keterbatasan modal. Dengan FTMO, mereka dapat mengelola dana hingga ratusan ribu dolar tanpa harus mempertaruhkan uang pribadi, selain biaya challenge.

Jika mereka kehilangan dana trading dalam akun perusahaan, kerugian tersebut tidak menjadi tanggungan trader, mereka hanya kehilangan biaya evaluasi awal. Model ini memberikan rasa aman bagi banyak trader yang ingin berkembang.

Kedua, Transparansi dan Reputasi Internasional. FTMO dikenal memiliki transparansi tinggi dalam sistem evaluasi dan pembayaran. Perusahaan ini rutin merilis laporan keuangan dan penghargaan dari lembaga internasional. 
 
Pada 2020, FTMO bahkan meraih penghargaan Deloitte Technology Fast 50 Central Europe, menandakan reputasinya di dunia bisnis teknologi keuangan.

Ketiga, Fleksibilitas dan Kebebasan. Trader FTMO bebas menggunakan berbagai strategi antara lain scalping, swing, news trading, hingga algorithmic trading, selama tidak melanggar aturan risiko. FTMO juga menyediakan akun dengan berbagai platform, seperti MetaTrader 4 (MT4), MetaTrader 5 (MT5), dan cTrader, sesuai preferensi trader.

Keempat, Edukasi dan Dukungan Komunitas. FTMO tidak hanya fokus pada profit. Mereka juga menyediakan fitur analisis performa, jurnal otomatis, dan psikologi trading tools yang membantu trader memahami kelemahan mereka. Komunitas global FTMO juga aktif berbagi strategi dan pengalaman, membuat banyak trader merasa terbimbing.

Meski peluangnya besar, tidak sedikit trader yang gagal melewati tahap Challenge dan Verification. Data internal FTMO yang dirilis pada 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 90% peserta gagal di tahap awal. Angka ini menunjukkan bahwa kesuksesan di FTMO bukan hal mudah.

Pertama, Tekanan Psikologis dan Disiplin Ketat. Batas waktu dan aturan risiko yang ketat sering kali menjadi tantangan utama. Trader yang biasanya santai bisa merasa tertekan karena harus mencapai target dalam waktu terbatas. Kesalahan kecil dalam manajemen emosi dapat menyebabkan diskualifikasi.

Kedua, Strategi Tidak Cocok dengan Kondisi Pasar. Banyak trader menggunakan strategi yang sebelumnya berhasil di akun pribadi, namun tidak cocok dengan kondisi pasar saat Challenge. Volatilitas tinggi atau kondisi sideways dapat membuat target profit sulit tercapai.

Ketiga, Biaya Challenge yang Tidak Murah. Meski bukan biaya trading, harga challenge FTMO terbilang tinggi bagi sebagian trader. Untuk akun USD100.000 misalnya, biaya challenge mencapai sekitar EUR540 (sekitar Rp9 juta). Jika gagal, uang tersebut hangus, sehingga perlu kesiapan mental dan finansial.
 
Keempat, Risiko Ketergantungan pada Prop Firm. Sebagian pakar menilai munculnya tren “prop firm trader” seperti FTMO dapat menimbulkan ketergantungan baru. Alih-alih membangun modal sendiri, banyak trader hanya fokus pada lolos challenge tanpa membangun fondasi pengetahuan pasar yang kuat.

Dalam beberapa tahun terakhir, FTMO juga mulai populer di Indonesia. Sejumlah komunitas dan influencer trading aktif membahas strategi “cara lolos FTMO Challenge”. Banyak pula yang menganggapnya sebagai “bukti profesionalisme” bagi trader lokal.

Namun, regulasi di Indonesia masih belum secara spesifik mengatur keberadaan prop firm seperti FTMO. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Bappebti hanya mengawasi broker dan lembaga keuangan yang beroperasi di Indonesia, bukan platform internasional berbasis luar negeri.

Hal ini membuat FTMO termasuk kategori layanan internasional yang tidak tunduk pada hukum domestik. Artinya, jika terjadi sengketa atau pelanggaran, penyelesaian hanya dapat dilakukan berdasarkan hukum Uni Eropa.

Meski demikian, banyak trader Indonesia tetap memanfaatkan peluang ini sebagai sarana pengembangan karier. Beberapa trader lokal bahkan berhasil menembus tahap funded dan mendapatkan penghasilan rutin dari profit split.

FTMO membuka babak baru dalam dunia trading modern. Dengan sistem berbasis kemampuan, bukan modal, FTMO memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk menjadi trader profesional. Transparansi, teknologi, dan reputasi global menjadikannya salah satu prop firm paling kredibel di dunia.

Namun, di balik peluang itu tersimpan tantangan besar. Hanya trader yang disiplin, sabar, dan matang secara psikologis yang mampu bertahan. FTMO bukan tempat untuk mencari “keberuntungan cepat”, melainkan wadah pembentukan karakter dan konsistensi dalam dunia trading.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa