Akurat

Apakah Harga Emas Bisa Turun? Ini Penjelasan Lengkap Mengenai Faktor Penyebab dan Data Terbarunya

Naufal Lanten | 23 September 2025, 12:27 WIB
Apakah Harga Emas Bisa Turun? Ini Penjelasan Lengkap Mengenai Faktor Penyebab dan Data Terbarunya

 

AKURAT.CO Harga emas selama ini identik sebagai aset aman yang nilainya cenderung naik ketika kondisi ekonomi penuh ketidakpastian. Tidak heran banyak orang menganggap emas kebal terhadap penurunan harga. Namun, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Sejarah, riset ekonomi, dan data pasar membuktikan bahwa harga emas bisa turun, bahkan setelah periode kenaikan panjang. Lantas, apa saja faktor yang membuat logam mulia ini tertekan, bagaimana mekanismenya, dan indikator apa yang perlu dipantau agar tidak terjebak dalam euforia? Berikut penjelasan lengkap berbasis data dan kajian kredibel.


Mengapa Harga Emas Bisa Turun

Harga emas bergerak mengikuti dinamika ekonomi global, kebijakan moneter, dan perilaku investor. Beberapa faktor utama yang terbukti menekan harga emas antara lain:

Suku Bunga Riil Naik

Kenaikan suku bunga riil (suku bunga nominal dikurangi inflasi) menjadi salah satu pemicu paling kuat turunnya harga emas. Emas tidak memberikan imbal hasil seperti bunga obligasi atau dividen saham. Ketika suku bunga riil naik, memegang emas menjadi kurang menarik karena biaya peluang meningkat. Riset bank sentral dan ekonom internasional menegaskan hubungan negatif antara suku bunga riil dan harga emas.

Penguatan Dolar AS

Emas diperdagangkan dalam mata uang dolar Amerika Serikat. Jika dolar menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Akibatnya, permintaan global berkurang dan harga emas cenderung turun. Penelitian makroekonomi menemukan korelasi negatif jangka panjang antara indeks dolar (DXY) dan pergerakan harga emas.

Berkurangnya Permintaan Safe-Haven

Emas sering dicari ketika pasar keuangan dilanda ketidakpastian. Namun, ketika ekonomi global membaik dan pasar saham memberikan imbal hasil menarik, minat investor terhadap emas bisa menurun. Arus modal pun bergeser ke aset berisiko, menekan harga logam mulia.

Kenaikan Pasokan Tambang dan Daur Ulang

Produksi emas dari sektor pertambangan yang meningkat atau lonjakan pasokan dari emas daur ulang juga menambah tekanan. Saat harga emas sedang tinggi, banyak pemilik perhiasan yang melepas emasnya, menambah pasokan dan memicu koreksi harga.

Pergerakan Dana Investasi dan Kebijakan Bank Sentral

Emas modern bukan hanya soal perhiasan fisik. Banyak investor institusional mengaksesnya melalui Exchange Traded Fund (ETF). Ketika dana besar melakukan aksi jual (outflow) dalam jumlah signifikan, harga emas bisa turun cepat. Selain itu, aksi jual atau penghentian pembelian emas oleh bank sentral — meski jarang — tetap berpotensi mengubah arah pasar.


Bukti Sejarah Penurunan Harga Emas

Anggapan bahwa emas selalu naik terpatahkan oleh beberapa peristiwa penting:

  • 1980: Emas sempat mencetak rekor harga, namun kemudian jatuh selama bertahun-tahun setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga secara agresif untuk meredam inflasi.

  • 2011 hingga 2015: Setelah puncak harga pada 2011, emas terkoreksi tajam akibat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter dan berakhirnya program pelonggaran kuantitatif di Amerika Serikat.

  • Maret 2020: Di awal pandemi Covid-19, emas sempat anjlok dalam sehari karena investor mencari likuiditas tunai, meski kemudian kembali menguat sebagai aset lindung nilai.

Contoh-contoh ini menjadi bukti bahwa meskipun emas sering dianggap aset aman, nilainya tetap bisa tergerus oleh tekanan ekonomi dan kebijakan moneter.


Indikator yang Perlu Dipantau

Bagi investor yang ingin mengantisipasi potensi penurunan harga emas, beberapa indikator berikut layak diperhatikan:

  • Pergerakan suku bunga riil di Amerika Serikat, khususnya imbal hasil obligasi pemerintah dikurangi inflasi.

  • Kebijakan Federal Reserve dan proyeksi arah suku bunga.

  • Indeks Dolar AS (DXY) yang mencerminkan kekuatan dolar terhadap mata uang utama dunia.

  • Arus dana ETF emas, baik inflow maupun outflow, yang mencerminkan sentimen investor besar.

  • Permintaan perhiasan fisik dari negara konsumen utama seperti India dan Tiongkok.

  • Produksi tambang dan emas daur ulang yang dapat menambah pasokan global.

Memantau indikator ini membantu investor membaca sinyal pasar sebelum harga emas bergerak terlalu jauh.


Perbedaan Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Dalam jangka pendek, harga emas sangat sensitif terhadap berita ekonomi, kebijakan bank sentral, dan perubahan sentimen pasar. Rilis data inflasi atau pernyataan pejabat bank sentral bisa memicu fluktuasi tajam hanya dalam hitungan jam. Namun dalam jangka panjang, tren besar seperti laju inflasi, stabilitas dolar, dan kebijakan cadangan emas bank sentral akan lebih menentukan arah harga.


Apa Artinya bagi Investor

Kesimpulan pentingnya jelas: emas bukan aset yang kebal koreksi. Diversifikasi tetap menjadi strategi terbaik agar portofolio tidak terpukul saat harga emas jatuh. Memantau suku bunga riil, kebijakan moneter, dan pergerakan dolar dapat membantu investor mengambil keputusan lebih rasional, bukan sekadar mengikuti tren.


Penutup

Harga emas memang punya reputasi sebagai pelindung nilai, tapi sejarah dan data membuktikan bahwa logam mulia ini tetap bisa mengalami penurunan signifikan. Memahami faktor pemicu dan indikator penting akan membantu investor mengantisipasi pergerakan harga dan mengelola risiko dengan lebih bijak. Jika tertarik mengikuti perkembangan terbaru seputar emas dan pasar keuangan, pantau terus update selanjutnya.


Baca Juga: Harga Emas Hari Ini, 23 September 2025: Termahal Rp2.153.000 per Gram!

Baca Juga: Kenapa Harga Emas Naik Terus? Simak Penjelasan Lengkapnya!

FAQ

1. Apakah harga emas benar-benar bisa turun?
Ya. Meski dikenal sebagai aset aman, harga emas tetap bisa turun akibat faktor ekonomi, kebijakan moneter, dan perubahan permintaan pasar. Sejarah mencatat beberapa periode koreksi besar, seperti pada 1980 dan 2011–2015.

2. Faktor apa yang paling memengaruhi penurunan harga emas?
Beberapa faktor kunci meliputi kenaikan suku bunga riil, penguatan dolar Amerika Serikat, berkurangnya permintaan safe-haven, peningkatan pasokan tambang dan daur ulang, arus keluar dana ETF emas, serta kebijakan jual-beli emas oleh bank sentral.

3. Bagaimana hubungan suku bunga dengan harga emas?
Ketika suku bunga riil naik, biaya peluang memegang emas meningkat karena emas tidak menghasilkan bunga. Kondisi ini membuat investor lebih memilih aset berimbal hasil sehingga harga emas cenderung tertekan.

4. Apakah penguatan dolar AS selalu menurunkan harga emas?
Tidak selalu, tetapi secara umum penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar Amerika Serikat. Permintaan global pun bisa menurun sehingga harga emas terdorong turun.

5. Apakah permintaan perhiasan memengaruhi harga emas global?
Ya. Permintaan fisik dari negara konsumen besar seperti India dan Tiongkok berperan penting. Jika permintaan menurun, pasokan yang melimpah dapat menekan harga.

6. Apa perbedaan pengaruh jangka pendek dan jangka panjang terhadap harga emas?
Dalam jangka pendek, harga emas dipengaruhi sentimen pasar, rilis data ekonomi, dan kebijakan bank sentral. Sementara jangka panjang lebih dipengaruhi tren besar seperti inflasi, cadangan bank sentral, dan kekuatan dolar.

7. Indikator apa saja yang bisa dipantau untuk memprediksi pergerakan harga emas?
Beberapa indikator penting antara lain suku bunga riil Amerika Serikat, kebijakan Federal Reserve, indeks dolar (DXY), aliran dana ETF emas, serta laporan produksi tambang dan daur ulang emas.

8. Bagaimana cara investor melindungi diri saat harga emas turun?
Diversifikasi portofolio menjadi langkah paling bijak. Investor juga perlu memantau suku bunga, nilai dolar, dan pergerakan ETF emas agar dapat mengambil keputusan berdasarkan data, bukan sekadar mengikuti tren.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.