Apakah Harga Emas Bisa Turun? Ini Penjelasan Lengkap Mengenai Faktor Penyebab dan Data Terbarunya

AKURAT.CO Harga emas selama ini identik sebagai aset aman yang nilainya cenderung naik ketika kondisi ekonomi penuh ketidakpastian. Tidak heran banyak orang menganggap emas kebal terhadap penurunan harga. Namun, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Sejarah, riset ekonomi, dan data pasar membuktikan bahwa harga emas bisa turun, bahkan setelah periode kenaikan panjang. Lantas, apa saja faktor yang membuat logam mulia ini tertekan, bagaimana mekanismenya, dan indikator apa yang perlu dipantau agar tidak terjebak dalam euforia? Berikut penjelasan lengkap berbasis data dan kajian kredibel.
Mengapa Harga Emas Bisa Turun
Harga emas bergerak mengikuti dinamika ekonomi global, kebijakan moneter, dan perilaku investor. Beberapa faktor utama yang terbukti menekan harga emas antara lain:
Suku Bunga Riil Naik
Kenaikan suku bunga riil (suku bunga nominal dikurangi inflasi) menjadi salah satu pemicu paling kuat turunnya harga emas. Emas tidak memberikan imbal hasil seperti bunga obligasi atau dividen saham. Ketika suku bunga riil naik, memegang emas menjadi kurang menarik karena biaya peluang meningkat. Riset bank sentral dan ekonom internasional menegaskan hubungan negatif antara suku bunga riil dan harga emas.
Penguatan Dolar AS
Emas diperdagangkan dalam mata uang dolar Amerika Serikat. Jika dolar menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Akibatnya, permintaan global berkurang dan harga emas cenderung turun. Penelitian makroekonomi menemukan korelasi negatif jangka panjang antara indeks dolar (DXY) dan pergerakan harga emas.
Berkurangnya Permintaan Safe-Haven
Emas sering dicari ketika pasar keuangan dilanda ketidakpastian. Namun, ketika ekonomi global membaik dan pasar saham memberikan imbal hasil menarik, minat investor terhadap emas bisa menurun. Arus modal pun bergeser ke aset berisiko, menekan harga logam mulia.
Kenaikan Pasokan Tambang dan Daur Ulang
Produksi emas dari sektor pertambangan yang meningkat atau lonjakan pasokan dari emas daur ulang juga menambah tekanan. Saat harga emas sedang tinggi, banyak pemilik perhiasan yang melepas emasnya, menambah pasokan dan memicu koreksi harga.
Pergerakan Dana Investasi dan Kebijakan Bank Sentral
Emas modern bukan hanya soal perhiasan fisik. Banyak investor institusional mengaksesnya melalui Exchange Traded Fund (ETF). Ketika dana besar melakukan aksi jual (outflow) dalam jumlah signifikan, harga emas bisa turun cepat. Selain itu, aksi jual atau penghentian pembelian emas oleh bank sentral — meski jarang — tetap berpotensi mengubah arah pasar.
Bukti Sejarah Penurunan Harga Emas
Anggapan bahwa emas selalu naik terpatahkan oleh beberapa peristiwa penting:
-
1980: Emas sempat mencetak rekor harga, namun kemudian jatuh selama bertahun-tahun setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga secara agresif untuk meredam inflasi.
-
2011 hingga 2015: Setelah puncak harga pada 2011, emas terkoreksi tajam akibat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter dan berakhirnya program pelonggaran kuantitatif di Amerika Serikat.
-
Maret 2020: Di awal pandemi Covid-19, emas sempat anjlok dalam sehari karena investor mencari likuiditas tunai, meski kemudian kembali menguat sebagai aset lindung nilai.
Contoh-contoh ini menjadi bukti bahwa meskipun emas sering dianggap aset aman, nilainya tetap bisa tergerus oleh tekanan ekonomi dan kebijakan moneter.
Indikator yang Perlu Dipantau
Bagi investor yang ingin mengantisipasi potensi penurunan harga emas, beberapa indikator berikut layak diperhatikan:
-
Pergerakan suku bunga riil di Amerika Serikat, khususnya imbal hasil obligasi pemerintah dikurangi inflasi.
-
Kebijakan Federal Reserve dan proyeksi arah suku bunga.
-
Indeks Dolar AS (DXY) yang mencerminkan kekuatan dolar terhadap mata uang utama dunia.
-
Arus dana ETF emas, baik inflow maupun outflow, yang mencerminkan sentimen investor besar.
-
Permintaan perhiasan fisik dari negara konsumen utama seperti India dan Tiongkok.
-
Produksi tambang dan emas daur ulang yang dapat menambah pasokan global.
Memantau indikator ini membantu investor membaca sinyal pasar sebelum harga emas bergerak terlalu jauh.
Perbedaan Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Dalam jangka pendek, harga emas sangat sensitif terhadap berita ekonomi, kebijakan bank sentral, dan perubahan sentimen pasar. Rilis data inflasi atau pernyataan pejabat bank sentral bisa memicu fluktuasi tajam hanya dalam hitungan jam. Namun dalam jangka panjang, tren besar seperti laju inflasi, stabilitas dolar, dan kebijakan cadangan emas bank sentral akan lebih menentukan arah harga.
Apa Artinya bagi Investor
Kesimpulan pentingnya jelas: emas bukan aset yang kebal koreksi. Diversifikasi tetap menjadi strategi terbaik agar portofolio tidak terpukul saat harga emas jatuh. Memantau suku bunga riil, kebijakan moneter, dan pergerakan dolar dapat membantu investor mengambil keputusan lebih rasional, bukan sekadar mengikuti tren.
Penutup
Harga emas memang punya reputasi sebagai pelindung nilai, tapi sejarah dan data membuktikan bahwa logam mulia ini tetap bisa mengalami penurunan signifikan. Memahami faktor pemicu dan indikator penting akan membantu investor mengantisipasi pergerakan harga dan mengelola risiko dengan lebih bijak. Jika tertarik mengikuti perkembangan terbaru seputar emas dan pasar keuangan, pantau terus update selanjutnya.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini, 23 September 2025: Termahal Rp2.153.000 per Gram!
Baca Juga: Kenapa Harga Emas Naik Terus? Simak Penjelasan Lengkapnya!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









