Akurat

Cara Menabung dengan Gaji Pas-pasan di 2025: Strategi, Prioritas, dan Momentum yang Tepat

Naufal Lanten | 13 Agustus 2025, 22:16 WIB
Cara Menabung dengan Gaji Pas-pasan di 2025: Strategi, Prioritas, dan Momentum yang Tepat

AKURAT.CO Biaya hidup naik turun, gaji pas-pasan, tapi kebutuhan masa depan semakin banyak dan mahal. Akan tetapi, bukan berarti kamu tidak bisa jadi orang kaya seperti yang kamu impikan.  Menabung itu bukan soal besar-kecil gaji saja—melainkan strategi, disiplin, dan urutan prioritas.

Kabar baiknya: lingkungan makro Indonesia relatif kondusif untuk mulai menabung—inflasi tahunan 2024 hanya 1,57%, salah satu yang terendah dalam beberapa tahun, sementara BI-Rate sudah memangkas suku bunga ke 5,25% (Juli 2025) sehingga tabungan berimbal hasil dan cicilan lebih terukur. Artinya, kamu punya latar untuk membangun kekayaan, dimulai dari menyisihkan dana darurat dan portfolio investasi. 


Peta Realitas: Seberapa “Ngepas” Gaji Rata-rata?

  • Data BPS terbaru menunjukkan rata-rata upah/gaji bersih bulanan berbeda antarprovinsi. Ini menguatkan alasan kenapa strategi nabung harus disesuaikan lokasi & biaya hidup—bukan copy–paste. 

  • Di sisi lain, indeks inklusi keuangan Indonesia sudah tinggi (85,10%), namun literasi keuangan baru 49,68%. Banyak yang sudah punya akses rekening, tetapi belum semua paham cara mengoptimalkannya. Inilah celah strategi nabung “gaji pas-pasan” memenangkan permainan. 

Inti masalahnya sering bukan akses, melainkan kebiasaan & urutan prioritas keuangan—yang bisa kamu ubah mulai bulan ini.


Kerangka Besar: Urutan Prioritas Keuangan Pemula

1) Amankan Dana Darurat Dulu

Target konservatif yang banyak direkomendasikan lembaga keuangan: 3–6 bulan biaya hidup—cukup likuid, bukan instrumen yang fluktuatif. Mulailah dari nominal kecil tapi konsisten; tujuan utamanya daya tahan saat kejutan terjadi (PHK, sakit, biaya darurat).

Contoh hitung cepat (realistis):
Jika biaya hidupmu Rp3,0 juta/bulan, maka target dana darurat = Rp9–18 juta. Alihkan auto-transfer setelah gajian ke rekening/produk simpanan terpisah agar tidak “terpakai tanpa sadar”. 

2) Bangun Kebiasaan Nabung Otomatis

Prinsip pay yourself first: sisihkan 10–20% gaji di awal. Di fase awal, nominal kecil lebih penting daripada menunggu “uang lebih”. Dukungan behavioral seperti auto-debit, “round-up saving”, hingga tantangan 52-minggu terbukti membantu konsistensi menabung dalam riset ekonomi-perilaku.

3) Lanjut ke Investasi Pemula

Setelah dana darurat mulai terbentuk, barulah pindah ke instrumen bertumbuh dan tetap sesuai profil risiko. Di periode inflasi tahunan yang relatif rendah seperti 2024–2025, imbal hasil riil dari produk pendapatan tetap/berisiko-rendah lebih terasa. Mulai kecil, konsisten, dan dievaluasi berkala. 


Strategi Menabung yang Terbukti Efektif untuk Gaji Pas-pasan

A. “Know Your Money Flow”: Audit 30 Hari

Catat semua pengeluaran selama 30 hari (app spreadsheet sederhana cukup). Kelompokkan: kebutuhan (sewa, makan, transport), keharusan finansial (cicilan, asuransi), dan gaya hidup (nongkrong, langganan). Tujuannya menemukan kebocoran halus (subscription dobel, biaya impulsif) untuk dialihkan ke tabungan.

Tip praktis: kunci sukses di gaji pas-pasan ada di penghematan kecil berulang: potong Rp10–20 ribu/hari ⇒ Rp300–600 ribu/bulan ⇒ Rp3,6–7,2 juta/tahun. Itu separuh–seperempat dana darurat level minimum!

B. Formula Bujet yang Ramah Dompet Tipis

Boleh gunakan versi luwes dari 50–30–20 (kebutuhan–keinginan–tabungan/utang), tapi elastiskan sesuai kota & biaya hidup:

  • 60–25–15 di kota mahal (porsi kebutuhan lebih besar), atau

  • 55–20–25 jika kamu ngejar dana darurat lebih cepat.
    Yang terpenting: porsi tabungan muncul duluan, bukan sisa-sisa.

C. Manfaatkan Momentum Makro

Dengan inflasi terkendali dan suku bunga acuan mulai turun pada Mei & Juli 2025, kamu bisa meraih kombinasi: simpanan likuid yang masih memberi bunga wajar plus cicilan (jika ada) yang berpotensi lebih ringan. Review kembali produk simpanan berimbal hasil dan bandingkan biaya administrasi vs bunga bersih. 

D. Taktik “Micro-saving” & Tantangan 52 Minggu

Mulai Rp10.000 di minggu pertama, naikkan Rp10.000 tiap minggu. Di akhir tahun jumlahnya belasan juta rupiah—cukup untuk “mengunci” dana darurat dasar. Strategi bertahap seperti ini punya dukungan riset perilaku: target kecil + otomatis + gamifikasi meningkatkan keberlanjutan kebiasaan. 


Baca Juga: Investasi Jangka Pendek vs Jangka Panjang: Strategi Cerdas Membangun Kekayaan

Menyeimbangkan Tabungan & Investasi

1) Setelah Dana Darurat: Ke Mana?

Banyak orang berhenti setelah punya dana darurat 3–6 bulan biaya hidup, padahal di titik ini justru momentum emas untuk mengembangkan aset. Prinsipnya, dana darurat adalah pondasi, sedangkan instrumen keuangan berikutnya adalah “bangunan” yang akan menopang kestabilan finansialmu di masa depan.

Begitu dana darurat aman dan tersimpan di tempat yang likuid (tabungan, deposito jangka pendek, atau reksa dana pasar uang), kamu bisa mulai mengalokasikan sebagian surplus bulanan ke instrumen yang memberi imbal hasil lebih tinggi—dengan catatan disesuaikan profil risiko, tujuan, dan jangka waktu.

Berikut panduan ringkas namun komprehensifnya:

a) Reksa Dana Pasar Uang (RDPU)

  • Cocok untuk: Tujuan jangka pendek–menengah (≤3 tahun).

  • Kelebihan: Likuid, minim risiko, bisa mulai dari Rp10 ribu, potensi return di atas tabungan/deposito.

  • Risiko: Lebih rendah dari saham, tapi return bisa fluktuatif sedikit jika pasar obligasi jangka pendek terganggu.

  • Contoh praktik: Uang untuk DP motor 2 tahun lagi atau biaya kuliah adik.

b) Reksa Dana Pendapatan Tetap / Obligasi

  • Cocok untuk: Tujuan menengah (3–5 tahun).

  • Kelebihan: Return lebih tinggi dibanding RDPU, tapi risiko juga sedikit lebih besar.

  • Jenis populer: Obligasi negara (SBR, ORI) yang dijamin pemerintah—aman dan rutin bayar kupon.

  • Contoh praktik: Simpanan untuk biaya menikah 4 tahun lagi atau modal bisnis kecil.

c) Emas (Fisik & Digital)

  • Cocok untuk: Lindung nilai (hedging) terhadap inflasi, tujuan jangka panjang.

  • Kelebihan: Nilai relatif stabil, mudah dicairkan, bisa dibeli mulai dari 0,01 gram lewat platform digital resmi (Antam, Pegadaian).

  • Risiko: Tidak ada imbal hasil pasif, harga bisa fluktuatif di jangka pendek.

  • Contoh praktik: Menyimpan sebagian tabungan anak untuk pendidikan.

d) Reksa Dana Saham / ETF Saham

  • Cocok untuk: Tujuan jangka panjang (≥5 tahun).

  • Kelebihan: Potensi return tinggi, cocok untuk dana pensiun atau kebebasan finansial.

  • Risiko: Fluktuasi besar; butuh mental tahan guncangan dan pemahaman dasar analisis.

  • Contoh praktik: Menyisihkan dana investasi untuk 10–15 tahun ke depan.

e) Deposito Berjangka

  • Cocok untuk: Dana yang tidak ingin dipakai dalam periode tertentu (3–12 bulan) dan ingin bunga pasti.

  • Kelebihan: Imbal hasil terjamin, risiko rendah.

  • Risiko: Likuiditas rendah—penarikan sebelum jatuh tempo biasanya kena penalti.

  • Contoh praktik: Menyimpan dana untuk renovasi rumah tahun depan.

f) P2P Lending (Peer-to-Peer)

  • Cocok untuk: Investor berani risiko yang mengerti mekanisme pinjaman online resmi.

  • Kelebihan: Potensi bunga tinggi.

  • Risiko: Risiko gagal bayar (credit risk) cukup signifikan, mitigasi dengan diversifikasi borrower.

  • Catatan: Wajib pilih platform berizin OJK dan mulai dengan nominal kecil.


Strategi praktisnya:

  1. Bagi surplus bulanan menjadi 2–3 keranjang sesuai tujuan: jangka pendek, menengah, panjang.

  2. Gunakan instrumen rendah risiko untuk tujuan dekat, dan instrumen bertumbuh untuk tujuan jauh.

  3. Evaluasi portofolio minimal tiap 6 bulan atau saat kondisi finansial berubah (naik gaji, pindah kota, menikah).

Dengan cara ini, uangmu tidak hanya diam di tabungan tapi aktif “bekerja” untuk masa depan—tanpa mengorbankan keamanan dana darurat.

2) Menakar “Daya Beli Riil”

Kalibrasi target return vs inflasi. Dengan inflasi 2024–2025 yang rendah (sekitar 1,5–2,4% di data BI/BPS), produk pendapatan tetap yang bersih dari biaya bisa memberi imbal hasil riil positif—asalkan biaya & pajak diperhitungkan. 

Kalau bicara menabung dan investasi, banyak orang fokus ke nominal tabungan atau imbal hasil investasi saja. Padahal yang lebih penting adalah daya beli riil—yaitu seberapa besar kemampuan uangmu membeli barang/jasa setelah “dimakan” inflasi dan biaya-biaya lain.

Misalnya, kamu menabung Rp10 juta di produk tabungan dengan bunga 3% per tahun. Secara nominal, setahun kemudian uangmu menjadi Rp10,3 juta. Tapi kalau inflasi tahunan 2%, maka daya belinya hanya naik sekitar 1% saja. Artinya, dari sisi kekuatan membeli, kenaikannya jauh lebih kecil dibanding kenaikan angka nominalnya.

Kenapa ini penting? Karena di Indonesia, inflasi dan suku bunga acuan (BI-Rate) selalu memengaruhi hasil tabungan dan investasi. Data BPS dan Bank Indonesia menunjukkan:

  • Inflasi tahunan 2024 hanya sekitar 1,57%—terendah dalam beberapa tahun terakhir, memberi “ruang lega” bagi tabungan untuk tumbuh riil.

  • BI-Rate sempat berada di level 6%, lalu dipangkas menjadi 5,25% pada Juli 2025. Dampaknya, bunga tabungan bisa menyesuaikan turun, tapi cicilan kredit biasanya ikut longgar.

Menakar daya beli riil membantu kamu memilih instrumen simpanan atau investasi yang memberi hasil bersih lebih tinggi dari inflasi. Misalnya:

  • Kalau inflasi 2% dan kamu taruh dana di deposito berbunga 4% (bunga bersih setelah pajak misalnya 3,4%), maka daya beli riil tumbuh +1,4% per tahun.

  • Kalau inflasi 2% tapi bunga bersih produk hanya 1,5%, maka daya beli justru turun -0,5% meski nominal tabungan bertambah.

Cara praktis mengukurnya:

  1. Catat tingkat bunga atau return investasi kamu setelah pajak & biaya admin.

  2. Kurangi dengan angka inflasi tahunan (bisa cek di situs BPS atau BI setiap bulan).

  3. Hasilnya adalah pertumbuhan riil daya beli uangmu.

Untuk generasi muda, pemahaman ini bikin kamu terhindar dari jebakan “nominal naik, tapi nilai sebenarnya turun”. Inilah alasan kenapa strategi keuangan sehat tidak berhenti di menabung, tapi juga mencari instrumen yang memberi hasil positif setelah dihitung inflasi—khususnya saat inflasi rendah seperti 2024–2025, momentum ini sayang dilewatkan.


Baca Juga: Panduan Lengkap Menabung Deposito: Aman, Efektif, dan Cocok untuk Pemula

Studi Singkat: Kenapa Banyak Orang Sulit Konsisten Nabung?

  • Akses vs Literasi: Indonesia punya inklusivitas tinggi tapi literasi baru ~50%. Akibatnya, rekening ada, tapi perilaku (urutan prioritas, pemilihan produk, dan automasi) belum optimal. 

  • Tanpa Dana Darurat, Risiko “Jebol” Tinggi: Riset lembaga edukasi keuangan konsumen menunjukkan dana darurat mengurangi perilaku tarik-dini tabungan pensiun/produk jangka panjang—mereka yang punya bantalan kas cenderung lebih stabil saat krisis kecil muncul. 

Implikasi untuk kamu: fokuskan energi di 3 hal—(1) otomatisasi, (2) kanal tabungan terpisah, (3) tujuan yang terlihat (mis. progress bar). Ini sejalan dengan strategi berbasis bukti untuk meningkatkan tabungan. 


Contoh Rencana 90 Hari (Mobile-first, Praktis)

Hari 1–7

  • Audit 30 hari pengeluaran; tandai 3 pos terbesar non-esensial.

  • Buka rekening/produk simpanan khusus dana darurat (jangan dicampur).

  • Set auto-transfer Rp25–50 ribu/hari (atau mingguan).

Minggu 2–4

  • Aktifkan round-up saving manual: setiap transaksi, bulatkan ke atas, selisihnya ditabung.

  • Potong 1–2 langganan jarang dipakai; alihkan ke tabungan.

Bulan 2

  • Mulai tantangan 52 minggu.

  • Review efek penghematan kecil (kopi/jajan/ongkir). Target bulan ini: ≥Rp750 ribu masuk dana darurat.

Bulan 3

  • Jika saldo dana darurat ≥1× biaya hidup, sisihkan 10–20% porsi tabungan ke instrumen pendapatan tetap/emas/reksa dana pasar uang (tujuan ≤3 th), tetap lanjutkan dana darurat sampai 3–6 bulan.

  • Evaluasi: perbarui auto-transfer, naikkan nominal 10–20% bila nyaman.


Baca Juga: Sholawat Nabi Muhammad SAW Minggu Siang, Jika Diamalkan Insya Allah Bisa Cepat Kaya!

Tanya-Jawab Cepat yang Sering Bikin Ragu

Q: Gaji UMR, masih bisa nabung?
Bisa. Kuncinya urutan prioritas. Dengan data BPS menunjukkan upah rata-rata berbeda antarprovinsi, konsepnya adalah elastis: naikkan porsi kebutuhan, tapi tetap kunci porsi tabungan di depan walau kecil. Bahkan Rp10–20 ribu/hari konsisten itu signifikan setahun. 

Q: Kapan mulai investasi?
Setelah punya dana darurat 1–3 bulan versi awal. Begitu stabil, lanjutkan ke 3–6 bulan sambil mulai investasi nominal kecil. Rekomendasi internasional soal dana darurat 3–6 bulan ditujukan agar kamu tidak “menukik” ke utang mahal saat krisis. 

Q: Kenapa sekarang momen bagus?
Inflasi sedang rendah dan BI memangkas suku bunga pada Mei dan Juli 2025. Lingkungan ini relatif ramah untuk menata ulang tabungan, mengevaluasi produk simpanan, dan menata cicilan. 


Ringkasan Kunci

  1. Mulai dari dana darurat 3–6 bulan biaya hidup (likuid, mudah dicairkan). 

  2. Otomatisasi tabungan: auto-transfer + tantangan kecil berulang—terbukti membantu konsistensi. 

  3. Kalibrasi dengan data Indonesia: ikuti pergerakan inflasi & BI-Rate agar strategi menabung dan investasi tetap relevan. 

  4. Akses bukan masalah utama—literasi adalah kunci: inklusi 85,10% tapi literasi 49,68%. Fokus pada perilaku & urutan prioritas. 


Menabung dengan gaji pas-pasan bisa—asal urutannya tepat dan konsisten. Dengan inflasi yang terkendali, suku bunga yang mulai turun, serta akses keuangan yang luas, waktunya mengubah akses menjadi kebiasaan. Kalau kamu butuh panduan lanjutan (template bujet, kalkulator dana darurat, dan daftar produk pemula), pantau terus update terbaru di Akurat.co—kita akan rilis seri lanjutan yang bisa langsung kamu praktikkan.

Baca Juga: Trading Kripto Bikin Banyak Orang Rungkad, Ini Alasannya dan Tips untuk Menghindarinya!

Baca Juga: Bukan Cuma Disisihkan, Ini 5 Cara Menabung Efektif ala Pakar Keuangan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.