Akurat

Perdagangan Karbon Tembus 1,6 Juta Ton Setara Rp77,95 Miliar

Hefriday | 15 Juli 2025, 15:34 WIB
Perdagangan Karbon Tembus 1,6 Juta Ton Setara Rp77,95 Miliar

AKURAT.CO Sejak resmi diluncurkan pada 26 September 2023, pasar karbon Indonesia yang dikelola PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Hingga 11 Juli 2025, volume perdagangan karbon tercatat hampir mencapai 1,6 juta ton setara karbon dioksida (SPE-GRK) dengan nilai transaksi sebesar Rp77,95 miliar.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (15/7/2025), mengungkapkan bahwa jumlah pengguna jasa di pasar karbon juga melonjak tajam.

Dari semula hanya 16 pengguna saat peluncuran, kini tercatat telah mencapai 113 entitas, mencerminkan peningkatan minat dan partisipasi berbagai pihak dalam perdagangan karbon nasional.

Lebih lanjut, Iman menyoroti peningkatan signifikan dalam penggunaan (retirement) kredit karbon, yakni dari hanya 6.260 ton pada tahun 2023 menjadi 980.475 ton hingga pertengahan 2025.

Kredit karbon yang sudah digunakan tersebut berarti tidak lagi tersedia di pasar dan telah dialokasikan untuk mengimbangi emisi gas rumah kaca oleh entitas yang membelinya.

Baca Juga: Investor Asing Lirik Bursa Karbon RI, BEI Bakal Revisi Aturan Untuk Permudah Akses

“Data dari Sistem Registri Nasional (SRN) menunjukkan bahwa lembaga jasa keuangan kini semakin aktif terlibat dalam inisiatif ini. Dari 15 pembeli awal, enam di antaranya berasal dari sektor jasa keuangan,” ujar Iman.

BEI pun tidak tinggal diam dalam mendukung dekarbonisasi. Bursa meluncurkan berbagai program strategis, seperti ESG Core Matrix yang disusun bersama bursa-bursa di ASEAN sebagai panduan pelaporan emisi.

Selain itu, program Net Zero Incubator juga diperkenalkan untuk membantu perusahaan tercatat dalam menghitung dan mengelola emisi mereka secara sistematis.

Sebagai langkah lebih lanjut, BEI tengah mengembangkan Green Equity Designation—sebuah sistem pemberian label hijau bagi perusahaan yang menjalankan kegiatan ramah lingkungan, berdasarkan taksonomi keuangan berkelanjutan yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pada tahun ini, perdagangan karbon Indonesia memasuki babak baru: transaksi internasional. Iman menyebut bahwa pada 20 Januari 2025, Indonesia berhasil mencatat transaksi perdana unit karbon ke pasar global dengan otorisasi dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Hal ini menandai kesiapan Indonesia untuk menjadi pemain aktif di pasar karbon internasional. Langkah strategis lainnya ditandai dengan penandatanganan Mutual Recognition Agreement (MRA) antara KLH dan Registry International Gold Standard pada 8 Mei 2025.

Kerja sama ini membuka peluang besar bagi karbon kredit Indonesia untuk diakui secara global, sekaligus memperluas akses pelaku usaha dalam negeri ke pasar internasional.

Kemajuan ini pun mendapat pengakuan internasional. Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon), sebagai bagian dari BEI, menerima penghargaan “Best Official Carbon Exchange in an Emerging Market” dalam ajang Carbon Positive Award 2025 yang digelar Green Cross UK.

IDXCarbon menjadi satu-satunya wakil Indonesia dari 100 pemenang yang terpilih dari 1.428 nominasi global.

“Penghargaan ini mencerminkan keberhasilan kerja sama erat antara BEI, OJK, KLH, serta seluruh pemangku kepentingan lainnya dalam membangun ekosistem perdagangan karbon yang kredibel dan transparan,” kata Iman.

Iman juga menambahkan, pengawasan dari OJK dan integrasi sistem dengan SRN merupakan fondasi penting dalam membangun kepercayaan publik dan investor terhadap pasar karbon Indonesia.

Dengan ekosistem yang terus dikembangkan, BEI berharap sektor jasa keuangan dapat memainkan peran yang lebih strategis dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa