Naik 34 Persen, Saham SSTM Bangkit dari Tidur Panjang?
Hefriday | 21 Juni 2025, 16:41 WIB

AKURAT.CO Saham PT Sunson Textile Manufacturer Tbk (SSTM) mencuri perhatian publik selama perdagangan Jumat (20/6/2025), melonjak tajam sebesar 34,12% ke level Rp228 per saham, mencapai Auto Rejection Atas (ARA) dan menjadi salah satu top gainer di Bursa Efek Indonesia.
Lonjakan luar biasa ini terjadi setelah sebelumnya harga saham menempuh laut rendah sekitar Rp111 pada awal Desember 2024 naik 105% dari titik terendahnya .
Pergerakan harga yang ekstrem tersebut diawali oleh aksi beli agresif para investor, terutama pelaku pasar spekulatif atau momentum trader yang memborong saham setelah lama terabaikan.
Volume perdagangan pada hari itu mencapai 2,77 juta lembar, melampaui rata-rata bulanan sebanyak sekitar 295.000 lembar, menandakan lonjakan aktivitas pasar .
Dikutip dari laman Reuters, Sabtu (21/6/2025), Sunson Textile bergerak di bisnis manufaktur benang dan kain, dengan segmen utama meliputi pemintalan dan penenunan, serta pemasaran domestik dan ekspor ke negara Asia, Eropa, Amerika, dan Afrika.
Meskipun perusahaan mencatat rugi bersih sekitar Rp18 miliar pada tahun 2024, namun kuartal I-2025 menunjukkan tanda-tanda pemulihan kecil dengan laba bersih mencapai Rp2,6 miliar, meski turun dibandingkan kuartal I-2024 sebesar Rp6 miliar.
Dari perspektif rasio, fundamental Sunson Textile masih menunjukkan tantangan yaitu P/E negatif sekitar 16,8× pada 2024, ROE 12,7%, serta beberapa kali mencatat kerugian selama tiga tahun berturut-turut.
Meskipun begitu, perusahaan relatif sehat karena minim hutang jangka panjang (tingkat hutang terhadap modal sekitar 0,7×) dan memiliki posisi kas memadai untuk pertumbuhan organik atau restrukturisasi.
Kenaikan harga ini memicu spekulasi bahwa saham SSTM tengah merespons potensi perbaikan struktur biaya atau adanya pengumuman korporasi positif seperti perolehan kontrak ekspor, restrukturisasi utang, atau efisiensi energi sebagaimana diberitakan pihak perusahaan akan fokus pada peningkatan efisiensi energi dan operasional.
Analis Investing menyoroti bahwa saham lapis ketiga seperti SSTM rentan terhadap lonjakan harga berbasis spekulasi. Jika tak disertai informasi kuat dari manajemen, risiko koreksi lanjutan tinggi.
Namun, rebound awal ini bisa menjadi penanda transformasi positif atau sekadar lonjakan jangka pendek.
Jika mengamati dari struktur valuasi, saat ini Sunson diperdagangkan dengan rasio Price-to-Book (PBV) sekitar 0,9× dan EV/EBITDA sangat tinggi ~59×, menunjukkan valuasi ekstrem dibandingkan peer yang rata-rata PBV sekitar 1,4×. Sementara itu, forward P/E negatif, menandakan laba masih belum stabil .
Investor yang berniat berpartisipasi dalam kenaikan ini disarankan menerapkan strategi konservatif yakni menggunakan pendekatan averaging (masuk bertahap), menetapkan stop-loss, dan mengikuti perkembangan resmi seperti RUPST atau rilis laporan kuartalan.
Sektor tekstil memang menjanjikan, dengan Kementerian Perindustrian memproyeksi pertumbuhan industri 6,9% di tahun 2025, namun keputusan investasi tetap harus berhati-hati.
Secara teknikal, grafik SSTM menunjukkan sinyal bullish setelah harga menembus moving average 50 hari dan 15 hari pada hari Jumat, menunjukkan potensi momentum berlanjut . Kendati demikian, penguatan volume spekulatif tanpa konfirmasi fundamental dapat memicu volatilitas tinggi dalam jangka pendek.
Secara historis, Sunson Textile pernah melonjak hingga Rp 450 pada Juli 2024, lalu terkoreksi panjang ke Rp 111 pada Desember, pergerakan besar ini menunjukkan potensi pasar jangka pendek yang tinggi, namun risiko bagi investor jangka panjang pun signifikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










