Akurat

Gara-gara 3 Hal Ini, Harga Emas Bakal Tembus USD3.400

Hefriday | 2 Juni 2025, 21:49 WIB
Gara-gara 3 Hal Ini, Harga Emas Bakal Tembus USD3.400

AKURAT.CO Harga emas dunia kembali menunjukkan tren penguatan yang signifikan. Dalam perdagangan terbaru, logam mulia tersebut telah menembus level USD3.360 per ounce (oz) dan diprediksi bisa mencapai USD3.400 per ounce dalam waktu dekat.

Menurut pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, lonjakan ini bukan tanpa sebab. Dirinya menjelaskan bahwa penguatan harga emas ini didorong oleh tiga faktor utama yang berasal dari dinamika geopolitik dan kebijakan ekonomi global.

Faktor pertama, eskalasi konflik antara Rusia dan Ukraina yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. 

Ketegangan yang terus membara menyebabkan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa, menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia. Sanksi tersebut memicu ketidakpastian global dan mendorong investor untuk mencari aset lindung nilai seperti emas. 

“Situasi ini memicu kekhawatiran di pasar global, dan seperti biasa, ketika krisis geopolitik meningkat, emas menjadi pilihan utama sebagai safe haven,” terang Ibrahim di Jakarta, Senin (2/6/2025).
 
Baca Juga: Dipicu Utang AS hingga Konflik Timur Tengah, Harga Emas Dunia Bakal Tembus USD3.261

Faktor kedua yang tak kalah penting adalah memanasnya kembali hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China. Pemerintahan Amerika di bawah kebijakan tarif baru menaikkan biaya impor baja dan aluminium hingga 50%.
 
Padahal, Amerika merupakan salah satu importir baja terbesar di dunia, dengan volume mencapai 26,7 juta ton per tahun berdasarkan data 2024.

“Langkah ini memicu reaksi keras dari sejumlah negara, seperti China, Australia, Selandia Baru, hingga negara-negara Eropa yang menjadi eksportir utama komoditas tersebut,” kata Ibrahim. 
 
Ketegangan dagang ini dinilai meningkatkan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global, sehingga kembali mendorong minat pada aset berisiko rendah seperti emas.

Faktor ketiga berasal dari kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat. Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, mengindikasikan adanya kemungkinan penurunan suku bunga pada akhir tahun. Hal ini seiring dengan terus menurunnya angka inflasi Amerika dari bulan ke bulan.

Meskipun demikian, kebijakan tersebut masih bersifat tentatif dan sangat bergantung pada perkembangan lanjutan dari tarif impor.
 
Ibrahim menambahkan bahwa kemungkinan Amerika juga akan menaikkan bea impor sebesar 50% terhadap produk dari Uni Eropa pada Juli mendatang, yang bisa memperkuat tren penguatan harga emas.

Dari sisi lain, indeks dolar Amerika atau DXY mengalami tekanan yang signifikan. Saat ini, indeks dolar berada di level 98,80, dan berpotensi turun lebih lanjut ke angka 98. Melemahnya dolar AS biasanya berbanding lurus dengan menguatnya harga emas, karena membuat emas lebih murah bagi investor dengan mata uang lain.

Dengan kombinasi tiga faktor ini ketegangan geopolitik, perang dagang, dan kebijakan moneter longgar pasar komoditas logam mulia diprediksi akan tetap dalam tren bullish. Namun, Ibrahim juga mengingatkan agar investor tetap waspada terhadap fluktuasi pasar dan tidak berspekulasi tanpa dasar analisis yang kuat.

“Kondisi pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika global. Bagi masyarakat atau investor ritel di Indonesia yang tertarik berinvestasi emas, penting untuk memahami konteks global yang memengaruhi pergerakan harganya,” tukas Ibrahim.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa