Daya Beli Konsumen Kelas Atas Jadi Penopang Prospek Saham MAPI

AKURAT.CO Saham emiten ritel PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan anak usahanya PT MAP Aktif Persada Tbk (MAPA) dinilai masih menjanjikan dari sisi prospek keuntungan (cuan), meskipun menghadapi tantangan pada kuartal pertama 2025.
Dukungan utama terhadap prospek ini datang dari segmen konsumen kelas menengah atas yang tetap kuat menjaga pola konsumsinya.
Menurut riset OCBC Sekuritas, yang dikutip dari laman Investor, Kamis (29/5/2025), pertumbuhan penjualan toko lama atau same store sales growth (SSSG) MAPI hanya mencatat 0,1% pada kuartal I-2025.
Baca Juga: Saham TUGU Cuan Potensial! Ajaib Sekuritas: Saatnya Koleksi
Angka ini mencerminkan lemahnya belanja masyarakat, bahkan di tengah momentum Ramadan dan Lebaran yang biasanya menjadi pendorong konsumsi ritel. Hal serupa juga terjadi pada segmen ritel MAPI yang mencatatkan SSSG stagnan di level 0,1%.
Sementara itu, segmen olahraga dan gaya hidup aktif MAPA menunjukkan kinerja yang lebih baik. MAPA mencatatkan pertumbuhan SSSG sebesar 2,4% dan menunjukkan tren pemulihan.
Adapun anak usaha lainnya, MAPB, juga membaik meskipun SSSG-nya masih terkontraksi 9,4%. Ini lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya yang mengalami penurunan sebesar 27,6%.
OCBC Sekuritas optimistis tren pemulihan ini akan berlanjut pada kuartal kedua 2025, didorong oleh peluncuran produk teknologi seperti iPhone 16 pada awal April lalu. Produk ini dianggap turut mendorong belanja konsumen kelas atas, terutama di pusat perbelanjaan premium yang menjadi salah satu titik penjualan utama MAPI.
Baca Juga: Mandiri Sekuritas Jajaki Sektor Potensial IPO
Sepanjang 2025, manajemen MAPI menargetkan pertumbuhan SSSG dalam kisaran satu digit. OCBC juga memperkirakan MAPA akan menjadi kontributor utama bagi pertumbuhan laba bersih MAPI, seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap gaya hidup aktif dan olahraga.
MAPI bahkan berencana membuka 450 gerai baru MAP Active tahun ini, dengan mayoritas atau sekitar 91% berada di pasar domestik.
Lebih jauh, proyeksi pendapatan MAPI pada 2025 diperkirakan tumbuh sebesar 8,2%. Pertumbuhan ini ditopang oleh rencana ekspansi yang ambisius, yakni pembukaan total 700 gerai baru.
Segmen ritel MAPI sendiri diperkirakan akan tumbuh 12%, dengan kontribusi sebesar 86% terhadap total penjualan perusahaan.
Dari sisi profitabilitas, manajemen MAPI menargetkan margin laba kotor (gross margin) sebesar 42,7% dan margin EBIT (earning before interest and taxes) sebesar 9,1% untuk tahun ini. Sementara itu, belanja modal (capital expenditure) dipatok sebesar Rp2 triliun, mencerminkan komitmen perusahaan dalam memperluas jaringan ritelnya.
Valuasi saham MAPI saat ini juga dinilai cukup menarik. Berdasarkan analisis OCBC Sekuritas, saham MAPI diperdagangkan dengan price to book value (PBV) 1,6 kali dan price to earning ratio (PER) 10,9 kali. Ini berada di bawah rata-rata lima tahun terakhir, atau sekitar -1,3 standar deviasi, yang menandakan bahwa saham ini berada dalam kondisi undervalued.
OCBC Sekuritas pun memberikan rekomendasi beli (buy) untuk saham MAPI dengan target harga Rp1.800. Target ini memberikan potensi kenaikan sebesar 38% dibandingkan harga pasar terakhir yang tercatat di kisaran Rp1.300. Hal ini mempertegas bahwa saham MAPI masih memiliki ruang apresiasi yang besar.
Dengan kuatnya daya beli kelas menengah atas, ekspansi agresif, dan diversifikasi merek yang dimiliki MAPI dan MAPA, para analis pasar modal menilai kedua emiten ini sebagai pilihan investasi yang solid di sektor ritel tahun ini. Investor pun diimbau untuk mencermati peluang ini sebelum valuasinya menyesuaikan dengan fundamental barunya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










