HSBC Rombak Strategi Investasi, Fokus ke Sektor Potensial Berbasis Asia

AKURAT.CO HSBC Holdings Plc kembali mengguncang lanskap industri perbankan global dengan menjalankan restrukturisasi menyeluruh dalam bisnis perbankan investasinya.
Di bawah kepemimpinan CEO Georges Elhedery, bank berbasis di London itu kini mengarahkan fokus ke sektor-sektor dengan potensi pendapatan tinggi, utamanya di Asia.
Langkah ini ditandai dengan penggabungan sejumlah divisi strategis dan pemangkasan lebih dari 20 analis, termasuk tokoh senior seperti Steven Major, Kepala Riset Pendapatan Tetap Global HSBC yang berbasis di Dubai. Sumber internal menyebut, sebagian besar pengurangan staf terjadi di Eropa.
Baca Juga: Gandeng BNP Paribas, HSBC Indonesia Luncurkan Reksa Dana Anyar
"Restrukturisasi ini merupakan bagian dari upaya menyelaraskan struktur organisasi dengan fokus bisnis jangka panjang," ujar salah satu pejabat internal HSBC yang tidak ingin disebut namanya dikutip dari laman bloomberg.
Elhedery yang mulai menjabat pada September lalu menargetkan efisiensi operasional lewat berbagai langkah strategis.
HSBC telah memisahkan entitas bisnis Inggris dan Hong Kong, serta menutup sejumlah unit merger dan akuisisi di AS dan Eropa daratan. Di sisi lain, bank ini semakin agresif mengembangkan bisnis di pasar kredit swasta yang sedang bertumbuh.
Divisi pasar modal dan penasihat korporat juga telah dilebur menjadi satu kesatuan yang lebih ramping. Nama-nama seperti Kepala Pasar Modal Ekuitas Global, Ed Sankey, serta bankir senior Greg Guyett, termasuk yang dilaporkan akan meninggalkan perusahaan.
Untuk memperkuat tim riset global, HSBC menempatkan Murat Ulgen sebagai Kepala Sementara Strategi Makro. Di sektor ekuitas, tanggung jawab kini dibagi antara Eliot Camplisson dan Raj Sinha. Janet Henry tetap memimpin tim ekonomi global HSBC.
Baca Juga: Kerja Sama, HSBC dan Plaza Indonesia Tingkatkan Pengalaman Berbelanja dan Kuliner
HSBC memproyeksikan biaya restrukturisasi ini mencapai 1,8 miliar dolar AS selama dua tahun ke depan. Namun, dana tersebut akan dialokasikan kembali ke unit-unit berdaya saing tinggi, terutama di pasar Asia yang menjadi sumber utama pendapatan perusahaan.
Dengan pertumbuhan saham yang naik lebih dari 10 persen sepanjang 2025, langkah ini diyakini sebagai respons terhadap tantangan global, termasuk meningkatnya tensi perdagangan antara AS dan China.
Sebagai salah satu penyedia pembiayaan perdagangan terbesar dunia, HSBC kini memusatkan perhatian pada kekuatan utamanya di Asia demi menjaga relevansi dalam lanskap perbankan internasional yang semakin kompetitif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T









