Zurich Soroti Kolaborasi Lintas Sektor Hadapi Risiko Iklim Global

AKURAT.CO Zurich Insurance Group merilis laporan terbaru bertajuk Climate Risks: Strategies for Building Resilience in a More Volatile World yang menggarisbawahi urgensi kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi risiko iklim yang kian meningkat.
Laporan ini menyoroti pentingnya aksi kolektif untuk membangun ketahanan masyarakat dan ekonomi dari ancaman cuaca ekstrem dan bencana alam.
Dalam laporannya, Zurich mencatat bahwa kerugian ekonomi akibat bencana alam seperti badai, banjir, dan kebakaran hutan telah mencapai angka fantastis, yakni lebih dari USD2 triliun selama satu dekade terakhir.
Sedangkan Data dari Kamar Dagang Internasional (International Chamber of Commerce) menunjukkan bahwa frekuensi dan intensitas peristiwa cuaca ekstrem tersebut terus meningkat, diperparah oleh dampak perubahan iklim jangka panjang seperti naiknya suhu global, permukaan laut, serta perubahan pola curah hujan.
Baca Juga: TUGU Catat Kenaikan Hasil Jasa Asuransi Jadi Rp228 Miliar Usai Terapkan PSAK 117
CEO Zurich untuk wilayah Eropa, Timur Tengah, dan Afrika, Alison Martin menekankan bahwa industri asuransi memiliki peranan penting dalam mendukung ketahanan terhadap risiko iklim secara fisik. Namun demikian, dirinya menegaskan bahwa besarnya biaya akibat bencana tidak dapat ditanggung oleh industri ini sendirian.
“Perlu ada tindakan kolektif yang cepat dari berbagai pemangku kepentingan. Laporan ini menjadi panduan penting bagi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam membangun ketahanan terhadap risiko iklim,” kata Alison dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (21/5/2025).
Saat ini, perlindungan asuransi terhadap risiko bencana belum mencakup seluruh lapisan masyarakat dan sektor usaha. Banyak pihak yang belum terlindungi secara memadai, sehingga rentan mengalami kerugian besar ketika bencana terjadi.
Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan baru dalam penyediaan asuransi dan manajemen risiko.
Zurich mendorong penguatan strategi yang tidak hanya fokus pada penanggulangan pasca-bencana, tetapi juga pengurangan risiko sejak dini. Menurut Zurich, industri asuransi dapat berperan aktif dengan memberikan wawasan manajemen risiko, mendukung pendanaan infrastruktur ketahanan iklim, dan memperluas akses perlindungan melalui produk-produk inovatif.
Chief Risk Officer Zurich Indonesia, Kabilarang Sinabang, menambahkan bahwa pendekatan preventif harus menjadi prioritas utama.
“Ketahanan iklim sebaiknya dibangun sebelum bencana terjadi. Edukasi kepada masyarakat dan sinergi dengan sektor publik dan swasta adalah kunci untuk menciptakan skema perlindungan yang inovatif dan adaptif,” ujarnya.
Baca Juga: BGN Beri Asuransi untuk Program MBG, dari Kebakaran hingga Kecelakaan Tak Terduga
Laporan Zurich mengajukan tiga rekomendasi utama untuk memperkuat ketahanan terhadap risiko iklim. Pertama, pemerintah didorong untuk meningkatkan investasi pada upaya pencegahan dan pengurangan risiko. Hal ini meliputi penguatan regulasi tata ruang, penerapan standar bangunan tahan bencana, hingga pemanfaatan teknologi dan riset ilmiah dalam mitigasi risiko.
Kedua, Zurich menekankan pentingnya memperluas akses dan keterjangkauan asuransi melalui kerangka kebijakan yang mendukung. Ini termasuk peningkatan kesadaran publik akan risiko cuaca ekstrem dan pemberian insentif bagi individu maupun pelaku usaha untuk memiliki perlindungan asuransi yang memadai.
Ketiga, Zurich menyarankan pengembangan skema pembagian risiko antara sektor publik dan swasta. Inovasi seperti blended finance dan reinsurance pool dinilai dapat memperluas cakupan perlindungan dan mencegah lahirnya area-area yang tidak memiliki akses terhadap asuransi.
Zurich juga menegaskan komitmennya untuk terus menjalin kolaborasi dengan pemerintah, industri, dan organisasi internasional dalam membangun ketahanan iklim secara global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Dulu Minta Gibran Diganti, Kini Syahganda Bilang Sikapnya Berubah: Sekarang Saya di Pemerintahan
- 2Jokowi Muncul di Kertanegara, Prabowo Pergi Tak Lama Setelah Pertemuan
- 3Pengurus PCNU Serahkan Bukti dan Kembalikan Uang Risywah Muktamar ke KPK
- 4Daftar 26 Produk Indonesia yang Disebut Diboikot di Malaysia Usai FIFA ASEAN Cup 2026
- 5Link Live Score Indonesia vs Thailand Final FIFA ASEAN Cup 2026, Cek Skor dan Susunan Pemain Sekarang!
- 6Di Balik Sukses Emil Audero di Final, Ada Rasa Cemas yang Dirasakan Sang Ayah
- 7Link Live Streaming Indonesia vs Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026, Nonton di Sini!
- 8Kalender Jawa 5 Oktober 2026: Watak Weton Senin Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 9Peluang Gibran di Pilpres 2029 Tetap Terbuka Lebar Meski Lawan Politik Terus Bermanuver
- 10Presiden Prabowo Minta Perekrutan TNI-Polri Tidak Melulu Lihat Fisik, Boleh Berkacamata Asal Pintar








