Ekonom: Pertumbuhan Ekonomi RI 2025 Tertekan Risiko Global dan Struktural

AKURAT.CO Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melambat pada 2025 akibat tekanan global dan tantangan struktural di dalam negeri. Melemahnya daya beli masyarakat hingga naikknya PHK di sektor manufaktur, serta ketidakpastian eksternal menjadi faktor utama revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional ke bawah 5%.
Menurut Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, sejumlah dinamika global dan domestik diperkirakan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025.
Meskipun ada sentimen positif dari deeskalasi ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China, dampaknya terhadap perekonomian nasional dinilai masih bersifat terbatas dan berisiko jangka pendek.
Baca Juga: Perang Dagang China-AS Mulai Mereda, Pasar Obligasi Global Malah Terguncang?
Menurut Josua, meskipun terdapat sinyal penurunan tarif dari AS terhadap China yang dari sebelumnya 145% menjadi 30%, kondisi ini masih menunjukkan adanya kenaikan tarif secara keseluruhan.
“Ini bukan berarti tanpa hambatan, karena tarif masih tetap diberlakukan pada sejumlah produk tertentu seperti aluminium. Artinya, perlambatan ekonomi global tetap menjadi risiko yang perlu diantisipasi,” ujarnya setelah sesi paparan bersama Permata Bank di Jakarta, Rabu (14/5/2025).
Dari sisi domestik, Josua menyoroti permasalahan struktural yang turut menekan prospek pertumbuhan, seperti melambatnya daya beli masyarakat kelas menengah dan meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor manufaktur padat karya.
Dengan mempertimbangkan kondisi ini, pihaknya merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional dari 5,11% menjadi di bawah 5%, tepatnya pada kisaran 4,5 hingga 5,0%.
Tak hanya itu, pertumbuhan kredit perbankan juga diperkirakan akan terdampak akibat investor yang cenderung menunda ekspansi usaha.
Proyeksi pertumbuhan kredit tahun ini diperkirakan berada di bawah 10%, yakni pada kisaran 8,88% hingga 9,36%. Hal ini mencerminkan melemahnya permintaan pembiayaan baik untuk modal kerja maupun investasi.
Baca Juga: Harga Konsumen China Turun Lagi, Perang Dagang Perburuk Deflasi
Sementara itu, gejolak eksternal turut memengaruhi arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Meski sentimen global saat ini mulai membaik pasca gencatan senjata dagang antara AS dan China, Josua mengingatkan bahwa efek ini bersifat sementara dan masih sangat tergantung pada hasil negosiasi lanjutan dalam 90 hari ke depan.
Pergerakan pasar saham yang menguat pasca kesepakatan tersebut menunjukkan adanya optimisme investor. Namun, pergerakan nilai tukar rupiah masih terbatas akibat ketidakpastian global yang belum sepenuhnya reda.
“Investasi tak hanya ditentukan oleh sentimen, tapi juga oleh fundamental. Sayangnya, data sektor riil kita belum cukup kuat,” tambahnya.
Terkait kebijakan suku bunga, Josua menyatakan bahwa meskipun inflasi AS cenderung menurun, kebijakan moneter The Fed masih akan sangat hati-hati, mengingat tekanan terhadap sektor ketenagakerjaan di AS serta efektivitas kebijakan efisiensi fiskal yang diterapkan pemerintah AS.
“Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga. Namun fokus jangka pendek tetap pada stabilitas nilai tukar dan pengendalian tekanan eksternal. Jika kondisi global membaik dan risiko mulai mereda, BI berpotensi shifting ke arah kebijakan pro-pertumbuhan,” jelas Josua.
Secara keseluruhan, Josua menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko eksternal serta percepatan reformasi struktural domestik.
“Keseimbangan antara respons kebijakan jangka pendek dan penguatan fundamental jangka menengah akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas dan momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tahun mendatang,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










