Akurat

Kala Keperkasaan Dolar Terancam Pudar

Demi Ermansyah | 12 Mei 2025, 07:40 WIB
Kala Keperkasaan Dolar Terancam Pudar

AKURAT.CO Selama lebih dari tujuh dekade, dolar Amerika Serikat (USD) telah menjadi jangkar utama sistem keuangan global. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, posisi dominan dolar mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan.

Fenomena de-dolarisasi yakni upaya negara-negara untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar semakin menguat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik, ketidakstabilan kebijakan ekonomi AS, serta inovasi teknologi finansial.

Dominasi dolar tidak terlepas dari sistem Bretton Woods yang disepakati pada 1944, yang menetapkan dolar AS sebagai mata uang acuan dunia, didukung oleh cadangan emas. Walaupun sistem tersebut berakhir pada 1971, dominasi dolar tetap bertahan, ditopang oleh kekuatan ekonomi dan militer AS, serta kepercayaan investor global. Namun, kepercayaan itu mulai goyah, khususnya pasca-pandemi dan perang dagang antara AS dan China.

Baca Juga: Kebijakan Pertama Menkeu AS, Dollar Kuat Perang Dagang Berjalan

Salah satu faktor utama yang mempercepat de-dolarisasi adalah penggunaan dolar sebagai senjata politik. Amerika Serikat kerap menjatuhkan sanksi ekonomi kepada negara-negara yang dianggap mengancam kepentingannya.

Sanksi ini tidak hanya menargetkan individu atau perusahaan, tetapi juga membatasi akses negara-negara terhadap sistem keuangan global, termasuk jaringan SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication) yang berpusat di AS. Akibatnya, negara-negara seperti Rusia, Iran, dan Venezuela mulai mencari alternatif agar tak lagi terjebak dalam dominasi dolar.

Sedangkan sisi lainnya, kebijakan fiskal dan moneter AS yang agresif turut mendorong kekhawatiran. Defisit anggaran yang membengkak, perang dagang, dan peningkatan tarif impor menimbulkan ketidakpastian.

Mengutip dari laman reuters, Mantan bankir Morgan Stanley, David Roche menyampaikan bahwa nilai dolar bisa terdepresiasi 15% hingga 20% dalam 5-10 tahun ke depan jika kebijakan-kebijakan tersebut terus berlanjut.

"Ditambah lagi, pemilu AS yang semakin polarisatif menciptakan ketidakstabilan politik yang turut mengguncang pasar global," paparnya,

Negara-negara berkembang kini mulai memposisikan diri untuk mengurangi ketergantungan mereka terhadap dolar. Salah satu kekuatan penggerak utamanya adalah kelompok BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan), yang mulai aktif mempromosikan perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal.

Upaya BRICS untuk menciptakan mata uang bersama, didukung oleh teknologi digital dan cadangan emas, menunjukkan ambisi yang serius dalam meruntuhkan hegemoni dolar.

Salah satu contoh konkret adalah pengembangan sistem pembayaran alternatif seperti BRICS Pay yang memungkinkan transaksi lintas batas tanpa melalui dolar. Langkah ini diperkuat dengan upaya China mempromosikan penggunaan yuan dalam perdagangan energi dan inisiatif Belt and Road.

Baca Juga: Marak Dedolarisasi, Status Dollar Mulai Runtuh?

Bahkan beberapa waktu lalu saja, Arab Saudi dikabarkan mulai membuka opsi menjual minyak dalam yuan, sebuah langkah yang akan sangat signifikan jika direalisasikan, mengingat selama ini transaksi minyak dunia hampir seluruhnya menggunakan dolar.

Bank sentral di berbagai negara juga mulai mendiversifikasi cadangan devisa mereka dengan meningkatkan kepemilikan emas. Mengutip dari data World Gold Council mencatat bahwa pembelian emas oleh bank sentral mencapai rekor tertinggi pada 2022 silam.

Tentunya hal ini menandakan meningkatnya keinginan untuk mencari instrumen cadangan yang lebih netral dan tahan terhadap risiko geopolitik.

Namun, proses de-dolarisasi bukanlah tanpa tantangan. Infrastruktur keuangan global masih didominasi oleh dolar. Sistem pembayaran internasional, pasar obligasi, dan aset-aset likuid dunia masih banyak berdenominasi dolar.

Selain itu, kepercayaan terhadap alternatif seperti yuan atau mata uang BRICS masih belum setara, mengingat masih adanya kekhawatiran atas transparansi, stabilitas ekonomi, dan likuiditas pasar.

Meski begitu, arah pergerakan dunia menuju sistem yang lebih multipolar semakin nyata. Munculnya Central Bank Digital Currencies (CBDC) menjadi penanda bahwa negara-negara mulai membangun arsitektur finansial baru yang lebih inklusif dan mandiri. Dalam skenario ini, dominasi tunggal dolar akan digantikan oleh sistem yang lebih seimbang dan terdiversifikasi.

Indonesia, sebagai negara berkembang dengan keterlibatan aktif dalam perdagangan global, juga mulai merespons fenomena ini. Bank Indonesia menginisiasi kerja sama Local Currency Settlement (LCS) dengan negara mitra seperti Malaysia, Jepang, dan Tiongkok.

Baca Juga: Stablecoin Berbasis Emas, Akankah Jadi Ancaman Baru bagi Dominasi Dollar?

Skema ini memungkinkan transaksi perdagangan dan investasi dilakukan dalam mata uang masing-masing negara, tanpa perlu konversi ke dolar terlebih dahulu.

Oleh karena itu, di tengah pergeseran tatanan global, masa depan dolar tidak serta merta suram. AS tetap memiliki keunggulan dalam kekuatan militer, stabilitas institusional, dan daya tarik pasar keuangan.

Namun, ketergantungan dunia terhadap satu mata uang akan semakin menipis seiring diversifikasi ekonomi dan berkembangnya teknologi finansial.

Bahkan dalam beberapa dekade ke depan, peran dolar mungkin tidak lagi sebagai raja tunggal, melainkan sebagai bagian dari sistem mata uang global yang lebih plural.

Dengan segala dinamika yang terjadi, pertanyaan besar yang kini bergulir adalah, apakah dunia benar-benar siap hidup tanpa dominasi dolar? Atau, justru dunia sedang mempersiapkan dirinya untuk tatanan keuangan baru yang lebih setara dan berimbang?

Satu hal yang pasti, kala kejayaan dolar yang dulu tak tergoyahkan, kini mulai terancam pudar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.