Akurat

Investor Kabur ke Safe Haven Efek Tarif Resiprokal Trump, IHSG Aman?

Hefriday | 3 April 2025, 12:05 WIB
Investor Kabur ke Safe Haven Efek Tarif Resiprokal Trump, IHSG Aman?

AKURAT.CO Pasar keuangan dunia mengalami guncangan besar setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan tarif baru yang jauh lebih tinggi dari perkiraan. 

Langkah ini langsung memicu aksi jual besar-besaran di bursa saham global, sementara investor bergegas mencari perlindungan di aset-aset aman atau safe haven seperti emas dan obligasi.
 
Dikutip dari laman Reuters, Kamis (3/4/2025), tekanan terbesar dirasakan oleh sektor teknologi, terutama perusahaan yang memiliki rantai pasok di China dan Taiwan. 
 
Nasdaq futures anjlok hingga 4%, dengan nilai pasar raksasa teknologi seperti Apple kehilangan sekitar USD760 miliar dalam perdagangan setelah jam kerja.
 
Saham Apple bahkan jatuh hampir 7% karena produksi iPhone yang bergantung pada manufaktur di China.
 
 
Indeks S&P 500 dan FTSE juga mengalami tekanan besar, masing-masing turun 3,3% dan 1,8%, sementara pasar Eropa juga terseret hampir 2%. 
 
Pasar Asia pun tidak luput dari dampak ini, dengan indeks Nikkei Jepang turun 3,9% ke level terendah dalam delapan bulan. Sektor pengapalan, perbankan, dan ekspor menjadi korban utama kebijakan tarif ini.
 
Di sisi lain, harga emas melonjak ke rekor tertinggi sepanjang sejarah di atas USD3.160 per ons, seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven.
 
Sementara itu, harga minyak anjlok lebih dari 3%, dengan Brent futures turun ke USD72,56 per barel, mencerminkan kekhawatiran akan melambatnya pertumbuhan ekonomi global.
 
Obligasi AS juga mengalami lonjakan, dengan imbal hasil Treasury 10 tahun turun 14 basis poin ke level 4,04%, terendah dalam lima bulan terakhir.
 
Investor semakin mempertimbangkan kemungkinan penurunan suku bunga oleh The Fed dalam beberapa bulan mendatang, sebagai respons terhadap potensi perlambatan ekonomi AS.
 
Langkah Trump ini bukan hanya sekadar menaikkan tarif impor secara umum, tetapi juga memberlakukan tarif khusus yang sangat tinggi terhadap beberapa negara mitra dagang utama. China dikenai tarif 34%, Jepang 24%, Vietnam 46%, dan Korea Selatan 25%.
 
Bahkan, Uni Eropa pun tidak luput dengan tarif baru sebesar 20%. Kebijakan ini dikhawatirkan akan memperparah ketegangan perdagangan global dan menekan rantai pasokan manufaktur di Asia.
 
Dampak kebijakan ini juga terasa di pasar mata uang. Dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang Asia, kecuali yen yang melonjak melewati level per USD148 sebagai bentuk perlindungan dari ketidakpastian global. 
 
Sementara itu, yuan China menyentuh level terendah dalam dua bulan di perdagangan luar negeri, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak tarif terhadap ekonomi China.
 
Tak hanya itu, Trump juga menutup celah impor paket bernilai rendah dari China, yang berpotensi menghantam industri e-commerce raksasa negara tersebut.
 
Langkah ini diprediksi akan meningkatkan biaya barang impor dan bisa berdampak pada harga konsumen di AS sendiri.
 
Para analis memperingatkan bahwa tarif tinggi ini bisa memicu gelombang pembalasan dari negara mitra dagang AS. Jika negosiasi tidak segera dilakukan, ekspektasi terhadap resesi ekonomi di AS bisa meningkat drastis. 
 
"Tarif yang diumumkan hari ini jauh melebihi perkiraan, dan jika tidak segera dinegosiasikan ulang, risiko resesi AS akan melonjak," kata salah satu analis pasar dari IG, Tony Sycamore. 
 
Dengan ketidakpastian yang semakin meningkat, investor dan pelaku pasar kini menunggu langkah selanjutnya dari negara-negara yang terdampak.
 
Apakah akan ada perang dagang yang lebih luas, ataukah negosiasi baru akan dilakukan? Yang jelas, pasar global tengah berada dalam situasi yang sangat rapuh akibat kebijakan ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa