Laba Bersih BRI Ambruk 58 Persen di Januari 2025, Ini Sebabnya

AKURAT.CO PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan laba bersih (bank only) sebesar Rp2 triliun di Januari 2025, atau turun 58% secara tahunan dan bulan.
Penyusutan laba bersih tersebut utamanya ditekan oleh beban provisi (credit cost) yang membengkak ke level Rp5,6 triliun. Padahal posisi Januari 2024 lalu masih di level Rp2 triliun dan di Desember 2024 Rp1,2 triliun.
Penyebab lainnya yakni Net Interest Margin (NIM) yang turun ke level 6,15%, dibandingkan posisi Januari 2024 yang sebesar 6,63% dan Desember 2024 yang sebesar 6,94%.
Mengutip Stockbit, Sabtu (1/3/2025), manajemen BBRI dalam earnings call setahun penuh 2024 pada pertengahan Februari 2025 mengatakan bahwa akan ada potensi one–off adjustment dari modification loss dan front–loading provisions yang dapat berimbas pada NIM dan credit cost selama paruh pertama 2025, meski tanpa memberikan proyeksi angka yang spesifik.
"Pemulihan kinerja BBRI pada bulan–bulan mendatang menjadi fokus yang perlu dicermati oleh investor, terutama terkait beban provisi, percepatan kredit, dan kondisi likuiditas. Dari sisi valuasi, saham BBRI di harga saat ini diperdagangkan pada valuasi yang terendah sejak pandemi Covid–19 (1,32 kali)," tulis riset Stockbit tersebut.
Baca Juga: BRI Lebak Bulus Digugat Nasabah, Ini Sebabnya
Sementara dari aspek risiko, terdapat potensi pemangkasan estimasi laba bersih 2025 konsensus jika pemulihan kinerja pada bulan–bulan mendatang berjalan lambat.
Saat ini, konsensus memproyeksikan pertumbuhan laba bersih tahun 2025 yang relatif flat di angka Rp60,7 triliun rupiah dibanding tahun 2024 sebesar Rp60,2 triliun.
Walaupun sudah terdapat ekspektasi penurunan NIM dan lonjakan provisi tersebut, pasar tampak terkejut dengan angka realisasi kinerja BBRI pada Januari 2025, sehingga saham BBRI turun 7,44% atau 270 poin ke Rp3.360 pada penutupan perdagangan Jumat (28/2/2025).
Dalam call pada hari ini, manajemen BBRI menjelaskan bahwa dari total Rp5,6 triliun beban provisi bank only yang dibukukan pada Januari 2025, sekitar Rp2 triliun merupakan provisi secara sistem (penilaian portofolio kredit secara menyeluruh).
Sementara itu, sekitar Rp3,5 triliun merupakan tambahan provisi dari manajemen (management overlay) seiring dengan potensi risiko terkait progres restrukturisasi kredit Kupedes (sub–segmen mikro).
Menurut manajemen BBRI, overlay masih berpotensi muncul pada bulan–bulan berikutnya, tetapi dengan jumlah yang lebih kecil sehingga beban provisi diproyeksikan akan menurun.
Manajemen BBRI mengkonfirmasi bahwa guidance atas credit costs sekitar 300–320 basis poin secara konsolidasi untuk tahun fiskal 2025 sudah memperhitungkan angka management overlay yang dicatatkan pada Januari 2025.
Meski beban provisi diproyeksikan akan menurun di bulan–bulan mendatang, pencapaian guidance atas credit costs sekitar 300–320 basis poin pada 2025 akan sangat bergantung pada realisasi asumsi–asumsi kunci, seperti pertumbuhan kredit dan pembiayaan konsolidasi sekitar 7–9% YoY dan penyelesaian proses restrukturisasi kredit Kupedes.
Dengan demikian, manajemen BBRI mengatakan bahwa pihaknya tidak menutup kemungkinan terhadap potensi penurunan laba bersih secara konsolidasi pada tahun ini.
Meski kinerja kredit dan NIM masih cenderung rendah pada awal tahun, manajemen BBRI mengekspektasikan pertumbuhan kredit dan kondisi likuiditas akan mulai membaik pada kuartal II-2025.
Manajemen BBRI juga mengatakan bahwa diskusi terkait dividen tahun buku 2024 mengarah ke dividend payout ratio (DPR) dengan kisaran 85%, lebih tinggi dibandingkan DPR tahun buku 2023 di level 80%.
Dengan DPR 85%, maka potensi dividen final BBRI adalah 204 rupiah per saham, yang mengindikasikan dividend yield sebesar 6,1% berdasarkan harga penutupan hari ini di level 3.360 rupiah per lembar.
Adapun kebijakan mengenai DPR ke depan masih akan wait and see seiring mulai beroperasinya BBRI di bawah Danantara, menurut manajemen.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










