Saham Unilever (UNVR) Sepekan Anjlok, Waktunya Lego, Hold, Atau Serok?

AKURAT.CO Emiten konsumer PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) harus menutup tahun buku 2024 dengan kinerja yang kurang bergairah. Hal ini terpantau dari penurunan laba bersih yang dipicu oleh melemahnya penjualan perseroan.
Sejalan dengan kinerja tersebut, harga saham UNVR pada sesi pertama perdagangan Kamis, 13 Februari 2025, turut terkoreksi 1,06% ke level Rp1.360 per saham. Secara year to date (YtD), saham ini telah melemah 25,89%. Dalam sepekan terakhir, saham UNVR pun susut 115 poin atau 7,65% ke 1.395, berdasarkan data Google Finance, Kamis (13/2/2025) siang pukul 12.35 WIB.
Lalu, bagaimana prospek saham UNVR ke depan? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di BEI, Unilever Indonesia kembali mengalami tekanan pada 2024. Laba tahunan tercatat turun 29,83% menjadi Rp3,36 triliun dibandingkan Rp4,8 triliun pada 2023.
Baca Juga: Unilever Indonesia (UNVR) Utamakan Inklusi, Kesetaraan dan Keragaman
Searah dengan laba bersih, penjualan bersih emiten bersandikan UNVR juga tercatat menurun sebesar 8,99% Year-onYear YoY, menjadi Rp35,14 triliun dari penjualan bersih tahun sebelumnya senilai Rp38,61 triliun.
Pelemahan ini terutama disebabkan oleh penurunan segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh sebesar 10,83% YoY menjadi Rp22,42 triliun. Sementara itu, segmen makanan dan minuman menyumbang Rp12,71 triliun, turun 5,56% YoY.
Sejalan dengan penurunan penjualan, harga pokok penjualan juga terkoreksi 5,18% YoY menjadi Rp18,41 triliun. Kondisi ini berdampak pada penurunan laba kotor sebesar 12,89% menjadi Rp16,71 triliun sepanjang 2024.
Laba usaha tercatat sebesar Rp4,41 triliun, turun 29,69% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp6,27 triliun. EBITDA pun mengalami penurunan 26,83% menjadi Rp5,29 triliun dari Rp7,23 triliun pada 2023.
Dari sisi neraca keuangan, total aset UNVR per 31 Desember 2024 turun 3,71% menjadi Rp16,04 triliun. Namun, liabilitas justru meningkat 4,62% menjadi Rp13,89 triliun, sementara ekuitas merosot 36,44% menjadi Rp2,14 triliun.
Sementara itu, kas dan setara kas juga emiten konsumer ini juga mengalami penurunan signifikan sebesar 34,24% YoY menjadi Rp671,18 miliar, dibandingkan Rp1,02 triliun pada periode tahun sebelumnya.
Pada perkembangan lain, UNVR baru saja dikeluarkan dari indeks MSCI Global Standard. Evaluasi ini berlaku untuk periode Maret hingga Juni 2025. Selain itu, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga dikeluarkan dari indeks.
Terkait rekomendasi saham UNVR sendiri, menurut konsensus Bloomberg, mayoritas analis yang mengulas UNVR memberikan rekomendasi jual. Dari 31 analis, 17 di antaranya merekomendasikan jual, 12 menyarankan hold, dan hanya 2 analis yang merekomendasikan beli.
Analis BNI Sekuritas, Patricia Gabriela, memberikan rekomendasi hold untuk UNVR dengan target harga Rp2.000 per saham, sementara analis Indo Premier Sekuritas, Andrianto Saputra, juga menetapkan peringkat hold dengan target harga Rp1.750 per saham.
Sementara itu, analis JP Morgan, Benny Kurniawan, menilai UNVR dengan peringkat underweight dan menetapkan target harga Rp1.480 per saham. Di sisi lain, analis OCBC Sekuritas, Jessica Leonardy, merekomendasikan beli dengan target harga Rp2.980 per saham.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










