Akurat Logo

Modal Asing Senilai Rp11,52 Triliun Masuk Pasar Keuangan Indonesia, SBN Jadi Primadona

Gianto | 25 Januari 2025, 21:53 WIB
Modal Asing Senilai Rp11,52 Triliun Masuk Pasar Keuangan Indonesia, SBN Jadi Primadona

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) mencatat adanya aliran modal asing masuk ke pasar keuangan Indonesia senilai Rp11,52 triliun pada periode 20–23 Januari 2025.

Instrumen Surat Berharga Negara (SBN) menjadi pilihan utama investor asing, meskipun terdapat aliran keluar dari pasar saham.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan, aliran modal asing ini menunjukkan minat tinggi investor terhadap instrumen keuangan Indonesia, khususnya SBN dan Sekuritas Rupiah BI (SRBI).

“Non-residen mencatat beli neto Rp11,52 triliun, terdiri dari jual neto Rp0,35 triliun di pasar saham, beli neto Rp9,60 triliun di pasar SBN, dan beli neto Rp2,27 triliun di SRBI,” ujar Ramdan, Sabtu (25/1/2025).

Angka ini menjadi perbaikan signifikan dibandingkan periode 13–16 Januari 2025, di mana modal asing keluar sebesar Rp9,57 triliun.

Saat itu, pasar saham mencatat beli neto Rp0,01 triliun, tetapi pasar SBN dan SRBI mengalami jual neto masing-masing Rp4,17 triliun dan Rp5,41 triliun.

Baca Juga: Menteri UMKM Dorong Insentif Pajak dan Penghapusan Utang untuk Kebangkitan UMKM

Selain itu, penguatan tercermin pada nilai tukar rupiah yang berada di posisi Rp16.235 per dolar AS pada Jumat (24/1/2025), menguat dari Rp16.275 per dolar AS pada penutupan Kamis (23/1/2025). Hal ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Meski mencatat perbaikan pekan ini, aliran modal asing secara keseluruhan sejak awal tahun hingga 23 Januari 2025 masih menunjukkan defisit.

BI mencatatkan jual neto Rp2,03 triliun di pasar saham dan Rp1,91 triliun di pasar SBN, sementara beli neto Rp2,95 triliun terjadi di SRBI.

Namun, Ramdan optimistis tren positif ini akan berlanjut. “Perbaikan ini sejalan dengan optimisme pasar terhadap kebijakan ekonomi Indonesia,” ungkapnya.

Seiring dengan meningkatnya kepercayaan pasar, Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun turun ke 73,01 basis poin (bps) pada 23 Januari, dibandingkan 76,14 bps pada 17 Januari. Penurunan ini mencerminkan risiko investasi yang lebih terkendali.

Selain itu, tingkat imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun juga menurun dari 7,06 persen pada Kamis (23/1/2025) menjadi 7,03 persen pada Jumat (24/1/2025), menandakan kepercayaan investor yang terus membaik terhadap stabilitas pasar obligasi Indonesia.

Baca Juga: Apple Intelligence Akan Aktif Otomatis, Begini Cara Mematikannya

BI menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait guna menjaga stabilitas ekonomi. Strategi bauran kebijakan akan terus dioptimalkan untuk mendukung ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.

Ramdan menekankan pentingnya upaya bersama dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan global.

"Langkah ini menjadi kunci menjaga kepercayaan investor dan mendorong aliran modal masuk ke Indonesia," tegasnya.

Dengan aliran modal asing yang terus menguat dan stabilitas nilai tukar rupiah yang terjaga, pasar keuangan Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Instrumen SBN dan SRBI tetap menjadi daya tarik utama bagi investor asing, mencerminkan prospek positif pasar keuangan Tanah Air.

Baca Juga: Xiaomi Hadirkan Alat untuk Mainkan Game PC di Tablet Android

Ke depan, BI dan pemerintah berkomitmen menciptakan iklim investasi yang kondusif untuk menarik lebih banyak modal asing.

Hal ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan memperkuat posisi Indonesia di tengah tantangan global.

“Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan pasar dan memastikan kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional,” tutup Ramdan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

G
Reporter
Gianto
Herry Supriyatna