Bursa Asia Ditaksir Masih Terjepit Sentimen Global
Hefriday | 10 Januari 2025, 11:55 WIB

AKURAT.CO Menjelang akhir pekan, investor di pasar Asia berharap ketenangan yang sempat hadir di pasar dolar AS dan perdagangan obligasi AS pada Kamis dapat berlanjut ke sesi lokal Jumat (10/1/2025).
Setelah pekan yang penuh gejolak akibat lonjakan imbal hasil obligasi jangka panjang global, perdagangan di Asia diperkirakan akan tetap dalam kisaran yang relatif tenang.
Salah satu perhatian utama investor adalah laporan ketenagakerjaan AS untuk bulan Desember. Dengan data ekonomi yang beragam dan laporan bahwa Presiden terpilih Donald Trump tengah mempertimbangkan deklarasi darurat ekonomi terkait inflasi, pasar tetap berhati-hati.
Dikutip dari Reuters, Jumat (10/1/2025), di Jepang, Nikkei diperkirakan dibuka datar. Secara mingguan, indeks ini berada di jalur penurunan sekitar 0,7%, lebih buruk dibandingkan MSCI Asia ex-Japan yang stagnan sepanjang pekan.
Sementara itu, saham-saham China diperkirakan akan mengakhiri pekan ini tanpa perubahan signifikan, meskipun hasil tersebut menyisakan dua perspektif berbeda.
Di satu sisi, tidak adanya penurunan lebih lanjut adalah kabar baik mengingat kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi China. Namun, setelah anjlok lebih dari 5% pekan lalu penurunan mingguan terburuk dalam lebih dari dua tahun ketidakmampuan untuk bangkit kembali menunjukkan tanda-tanda buruk bagi pasar China.
Awal tahun 2025 memang tidak mudah bagi para optimis di pasar China. Saham-saham China tertinggal jauh dibandingkan rekan-rekan regional dan globalnya. Selain itu, penurunan imbal hasil obligasi serta ketidakpastian terkait potensi perang dagang dengan AS semakin membebani prospek ekonomi.
Goldman Sachs mencatat bahwa kondisi keuangan di China saat ini adalah yang paling ketat sejak April tahun lalu. Di pasar negara berkembang secara keseluruhan, kondisi keuangan bahkan mencatat level tertinggi sejak November 2023.
Data inflasi terbaru dari China pada Kamis (9/1/2025) juga tidak memberikan banyak harapan. Harga konsumen dan produsen untuk Desember sesuai dengan perkiraan, menguatkan pandangan bahwa tekanan deflasi tidak akan segera mereda.
Ekonom Barclays bahkan memangkas perkiraan inflasi CPI 2025 untuk China dari 0,8% menjadi hanya 0,4%. Mereka juga memperkirakan inflasi PPI akan tetap dalam deflasi sepanjang tahun, menandai lebih dari tiga tahun penurunan harga di tingkat pabrik. Jika ancaman tarif agresif dari pemerintahan Trump terealisasi, situasi ini dapat memburuk lebih jauh.
"Jika perang dagang baru antara China dan AS terjadi, kami memperkirakan dampak deflasi secara keseluruhan, mengingat tekanan pada ekspor akan memperburuk masalah kapasitas berlebih di China," ujar para ekonom Barclays dalam peringatannya.
Sementara itu, di Jepang, data pengeluaran rumah tangga untuk bulan November menjadi sorotan. Investor berharap tanda-tanda awal dari kenaikan upah baru-baru ini yang tertinggi dalam beberapa dekade mulai terlihat dalam pengeluaran konsumen. Bank of Japan (BoJ) mengungkapkan pada Kamis bahwa kenaikan upah sudah mulai meluas, memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga dalam waktu dekat mungkin terjadi.
Beberapa data penting yang diperkirakan akan memengaruhi pasar pada Jumat ini meliputi pengeluaran rumah tangga Jepang, produksi industri India, dan produksi industri Malaysia, semuanya untuk bulan November. Investor di kawasan ini akan memantau dengan cermat perkembangan ini untuk mendapatkan arah lebih jelas bagi pasar menjelang akhir pekan.
Sebelumnya Eastspring Investment mencatat pasar saham Asia melemah pada perdagangan Kamis (9/1/2025) karena sentimen pasar tertekan oleh prospek pemangkasan suku bunga The Fed yang lebih lambat dari perkiraan dan berlanjutnya pelemahan perekonomian China.
MSCI Asia Pacific turun 0,71%, Nikkei Jepang melemah 0,94%, dan Hang Seng Hong Kong turun 0,20%. Sementara itu, CSI 300 China turun 0,25% setelah data CPI (Desember) hanya tumbuh 0,10% YoY dari 0,20% YoY (November), sementara data PPI (Desember) -2,3% YoY (vs. November -2,5% YoY) lebih baik dari perkiraan.
Investor menantikan pertemuan Kongres Rakyat Nasional pada bulan Maret untuk target pertumbuhan China pada 2025 dan rinci dari rencana peningkatan konsumsi. Sentimen pasar tetap berhati-hati setelah risalah The Fed mengisyaratkan pemangkasan suku bunga tambahan yang lebih lambat, ditambah rencana baru pembatasan ekspor chip AI AS yang semakin membebani selera risiko.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









