Penyebab Saham PGEO Hancur-hancuran Sepanjang Tahun Ini

AKURAT.CO Saham emiten panas bumi Pertamina Holding, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) memerah sepanjang tahun 2024. Penyebabnya tak lain adalah penolakan demi penolakan masyarakat terhadap proyek panas bumi di Tanah Air.
Mengutip Google Finance, Saham PGEO amblas 95 poin atau 7,51% ke Rp1.170 secara year to date (ytd) pada penutupan perdagangan Kamis (10/10/2024). Dalam 6 bulan terakhir saham PGEO juga memerah dan hanya menguat pada periode 1 bulan, 1 pekan dan 1 hari terakhir.
Melemahnya saham perseroan dalam jangka panjang menimbulkan kekhawatiran investor pada kinerja fundamental perusahaan. Maklum, gelombang penolakan masyarakat setempat terhadap proyek-proyek panas bumi yang dianggap merusak ekologi tak pernah surut.
Baca Juga: PGE Sabet 3 Penghargaan di BISRA 2024
Masyarakat lokal di Padarincang (Serang), Dieng (Wonosobo), Mataloko dan Poco Leok (NTT) kompak tegak lurus menolak PLTP. Masyarakat Padarincang rutin menggelar doa bersama tiap tahun agar proyek PLTP yang digarap oleh Grup Sintesa itu terhenti, karena ancaman kesulitan air akibat geothermal di depan mata.
Kaum perempuan di sana termasuk yang vokal menolak karena merupakan pihak yang memiliki peran dalam pemenuhan kebutuhan dasar keluarga untuk hidup sehari-hari.
Sementara masyarakat di Dieng juga menolak PLTP garapan Geo Dipa, salah satunya karena sumber mata air yang berlokasi dekat dengan PLTP Dieng dan selama ini dimanfaatkan warga untuk kebutuhan rumah tangga dan lahan pertanian dalam beberapa tahun ini telah berubah keruh.
Kemudian disusul pula dengan perubahan rasa menjadi asin dan kerak‑kerak yang terbentuk dalam bak mandi, ditambah lagi bau menyengat yang menyertainya. Selain itu aktivitas ekstraksi panas bumi yang rakus air juga telah menyebabkan penurunan debit air di beberapa desa di kawasan Dieng.
Situasi nya sama di NTT dimana PLN mengeola beberapa PLTP di sana. Semua penolakan masyarakat akibat kerusakan ekologi yang diciptakan PLTP (garapan kompetitor PGEO) mau tidak mau turut membawa sentimen negatif ke bisnis dan investasi panas bumi secara umum, termasuk juga Bank Dunia yang perlahan menarik diri dari pendanaan proyek sejenis.
Adapun PGEO sendiri bukan berarti bersih. Menurut laporan Celios dan Walhi dalam laporan bertajuk "Dilema
Potensi
dan
Eksploitasi
atas
Nama
Transisi
Energi", disebutkan buntut operasional
PLTP
Lahendong di Sulawesi Utara juga
menyisakan
cerita
getir
rusaknya
Danau
Linow, yang selama ini banyak
dimanfaatkan oleh masyarakat.
Salah satu indikator pencemaran badan air tersebut dibuktikan dengan hilangnya populasi sayok dan komo di Danau Linow semenjak operasional PLTP. Sayok dan komo merupakan serangga endemik Danau Linow yang hidup di permukaan air. "Karena serangga ini sangat rentan dan sensitif terhadap perubahan sekecil apa pun pada badan perairan, maka serangga ini dijadikan sebagai bio‑indikator pencemaran air danau," tulis laporan tersebut dikutip Kamis (10/10/2024).
Sengkarut isu sosio ekologi di seputar bisnis panas bumi yang belum terselesaikan kian memperburuk persepsi pasar, yang melihat proyek-proyek geothermal di Indonesia sebagai investasi yang berisiko tinggi.
Penurunan ini juga menjadi cerminan bahwa dalam industri energi terbarukan, faktor sosial dan lingkungan memiliki dampak signifikan terhadap kelangsungan bisnis, terutama ketika melibatkan masyarakat yang hidup dari alam dan lahan pertanian mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










