Kokoh, Bisnis FWD Insurance Tak Terdampak Fenomena Dissaving

AKURAT.CO Fenomena dissaving, atau makan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari oleh masyarakat kelas menengah bawah mulai menghantui RI. Mengacu data time series Survei Konsumen Bank Indonesia, selama setahun terakhir (Januari-Desember 2023), porsi pendapatan yang ditabung masyarakat terus menipis di semua kelompok pengeluaran.
Menurunnya daya beli ini dikonfirmasi dengan data penurunan kelas menengah menjadi aspiring middle class atau bakal kelas menengah. Jika pada 2019 lalu kelas menengah mewakili 21,45% total penduduk RI, maka tahun 2024 ini hanya tersisia 17,44% saja. Banyak dari mereka yang terjun ke kelompok aspiring middle class.
Di tengah fenomena yang meresahkan ini, industri asuransi jiwa pun tak luput darinya. Pasalnya, pelemahan daya beli juga bisa mengganggu kinerja pendapatan premi perusahaan asuransi jiwa, yang ujungnya memicu lapse atau surrender. Namun tidak dengan FWD Insurance. Faktanya pendapatan premi perusahaan tembus Rp1,08 triliun per Juni 2024.
Baca Juga: Perkuat Kemitraan Bisnis, FWD Insurance dan OCBC Tandatangani Kerja sama Bancassurance
Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance, Rudy Manik, menjelaskan bahwa dampak Covid-19 selama 2,5 tahunan yang lalu memang dialami hampir seluruh pelaku industri, tak terkecuali FWD Insurance. Namun setahun terakhir, sudah mulai rebound atau pulih.
Berdasarkan catatan AAJI, hingga akhir Juni 2024, total pendapatan premi mencapai Rp88,49 triliun, tumbuh sebesar 2,6% dibandingkan dengan capaian semester l-2023, yaitu sebesar Rp86,24 triliun.
"Secara industri pertumbuhan premi di akhir 2022 itu kan masih minus (kontraksi), tapi laporan AAJI per Juni 2024 itu sudah ada traction, sudah 2 persenan lebih tumbuh, seiring mungkin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia juga," ujarnya di sela bincang-bincang Media, Jumat (27/9/2024).
Sisi positif lainnya, perusahaan memang secara konsisten lebih fokus kepada produk protection ketimbang PAYDI atau unitlink. Tercatat portofolio produk FWD Insurance per Juni 2024 lalu didominasi (50% lebih) produk proteksi.
"Mungkin sudah sering kita dengar dengan adanya Covid-19, pasar modal hancur dan sebagainya. Tapi untungnya, kita fokus ke produk protection. Jadi memang kita ingin kembali ke fitrahnya asuransi. Meskipun memang secara berbarengan pada saat itu ada POJK 5/ 2022 yang mengarahkan untuk ke sana. Tapi kita tidak merasa kesulitan beradaptasi dengan POJK tersebut karena memang dari dalam kita sudah ada niat ke sana," papar Rudy.
Hal tersebut, lanjut Rudy, sangat membantu perusahaan menekan atau memperbaiki lapse. "Sebenarnya lapse banyak terjadi di produk PAYDI, kalau diproteksi itu tidak atau lebih stabil. Nah jadi arahnya ke sana sehingga kita pelan-pelan juga bisa meningkatkan kualitas yang lapse atau surrender itu," tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK









