BNI Cermati Dampak Konflik Timur Tengah

AKURAT.CO PT Bank Negara Indonesia (BNI), mengungkapkan dampak ketidakpastian ekonomi global terhadap perekonomian domestik Indonesia, utamanya konflik di Timur Tengah.
Menurut Direktur Human Capital & Compliance BNI Mucharom, kondisi global saat ini sangat mempengaruhi situasi ekonomi di dalam negeri, menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara keduanya. Mucharom mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi global secara umum menunjukkan tren penurunan.
"Saat ini, meskipun kita masih optimis dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5%, tantangan global yang ada dapat memengaruhi prospek ekonomi domestik," jelasnya dalam virtual seminar ‘Virtual Seminar LPPI #100 POJK 5/2024: Mengukuhkan Fondasi Perbankan di Tengah Volatilitas Global’, pada Jumat (26/7/2024).
Baca Juga: BNI Mobile Banking Versi Android Error, Akun Medsos BNI Diseruduk Warganet
Ia juga mencatat bahwa Cina, yang sebelumnya mengalami pertumbuhan ekonomi antara 6% hingga 8%, kini hanya tumbuh sekitar 3% hingga 4%. Penurunan ini disebabkan oleh dampak pandemi Covid-19 dan perubahan struktural dalam ekonominya.
"Cina menyumbang sekitar 15 persen terhadap ekonomi global, sehingga penurunan pertumbuhannya turut mempengaruhi perekonomian global dan Indonesia," tambah Mucharom.
Lebih jauh, Mucharom menyoroti dampak ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah. Ketegangan ini, menurut Mucharom, dapat meningkatkan biaya global antara 5% hingga 30%, yang pada gilirannya mempengaruhi rantai pasok dan biaya barang impor. Mucharom juga membahas dampak dari ketegangan di Timur Tengah terhadap sektor perbankan dan bisnis.
"Kami perlu memantau dengan cermat bagaimana ketegangan ini memengaruhi biaya dan ketersediaan barang impor, serta bagaimana hal ini dapat memengaruhi operasional perusahaan-perusahaan yang bergantung pada impor," katanya.
Dalam konteks perbankan, Mucharom menekankan pentingnya strategi mitigasi risiko kredit, likuiditas, dan permodalan untuk menjaga ketahanan finansial. Selain itu, Mucharom juga menyoroti perlunya penyesuaian dalam strategi perbankan untuk menghadapi tantangan ini.
"Kami berkomitmen untuk menjaga kualitas aset dan kinerja finansial, sambil beradaptasi dengan kondisi pasar yang berubah. Ini termasuk pengelolaan portofolio yang lebih baik dan penyesuaian terhadap fluktuasi pasar," tambahnya.
Ia menyebutkan bahwa perbankan harus siap menghadapi kemungkinan perubahan dalam suku bunga dan nilai tukar yang dapat mempengaruhi biaya dana. Lebih lanjut, Mucharom menekankan pentingnya diversifikasi portofolio dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.
"Diversifikasi portofolio dan pengelolaan risiko yang baik adalah kunci untuk menghadapi tantangan yang ada. Kami juga terus memperkuat manajemen risiko kredit untuk menghadapi potensi risiko kredit yang meningkat," ujarnya.
Mucharom juga menyebutkan bahwa BNI terus melakukan evaluasi dan pembaruan terhadap rencana pemulihan (recovery plan) sebagai bagian dari strategi mitigasi. "Kami sudah menyusun dan memperbarui recovery plan kami secara berkala untuk memastikan kesiapan menghadapi krisis, serta memastikan bahwa rencana tersebut dapat diterapkan secara efektif dalam kondisi pasar yang berubah," jelasnya.
Sehingga, Mucharom menegaskan komitmen BNI untuk tetap solid dan adaptif dalam menghadapi ketidakpastian global. "Kami tetap berkomitmen untuk menjaga kinerja perbankan kami dan mendukung pertumbuhan ekonomi domestik, meskipun menghadapi tantangan yang tidak mudah," tandasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










