Keamanan IT Mahal, OJK Ingatkan Bank Untuk Sisihkan Dividen

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperingatkan bank untuk menyisihkan laba untuk investasi information technology IT guna meningkatkan keamanan IT mereka. Pasalnya, perbankan menjadi sasaran empuk para penyerang siber.
Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), terdapat lebih dari 700 juta serangan siber yang terjadi di Indonesia pada 2022. Sektor keuangan sendiri termasuk empat sektor yang paling sering diserang.
Senada, data dari Checkpoint Research 2022 menunjukan sektor jasa keuangan termasuk perbankan mendapatkan 1.131 kali serangan siber setiap pekannya. Sementara, data International Monetary Fund (IMF) pada 2020 menyebutkan total kerugian rata-rata tahunan akibat serangan siber di sektor jasa keuangan secara global mencapai sekitar USD100 miliar.
Baca Juga: Gubernur BI: Transaksi Digital Biayanya Rendah Tapi Rentan Terhadap Serangan Siber
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa keuangan (OJK), Dian Ediana Rae mengatakan OJK secara khusus melalui POJK Tata kelola Nomor 17 Tahun 2023 tentang Penerapan Tata Kelola Bagi Bank Umum (POJK Tata Kelola) telah mengatur rasio pembagian dividen atau DPR (divident paypur ratio) agar bank menyisihkan sebagian labanya untuk investasi IT yang tergolong mahal.
"IT tentu akan sangat tergantung dengan eksposur bank atau seberapa besar bisnis suatu bank. Tapi pada intinya sekcil apapun penggunaan IT itu pasti mahal, oleh karena itu kenapa misalnya di POJK yang baru kita keluarkan, kita mengatur masalah divident payout ratio misalnya," ujar Dian di Jakarta, Selasa (14/11/2023).
Pengaturan soal pembayaran dividen itu, menurut Dian bukan untuk membatasai pembayaran dividen agar tidak dikeluarkan setiap tahunnya, melainkan regulator ingin mencari keseimbangan atara pemanfaatan keuntungan oleh pemilik dengan penguatan bank.
"Nah salah satunya adalah terkait masalah IT. Karena IT ini kan mahal oleh karena itu harus ada yang diinvestasikan dari dividen itu untuk pengembangan IT di bank," kata Dian.
Ditambahkan Dian, gara-gara investasi IT yang dianggap enteng, salah satu bank tanah air diserang oleh penyerang siber. Padahal penyebabnya termasuk sepele, yakni karena salah satu perangkat IT di bank tersebut sudah obsolete atau usang namun tak kunjung diupgrade.
"Pilihannya kan kalau sudah diserang, apakah kita harus menyerah begitu saja (memenuhi tuntutan penyerang). Masalahnya nilai tuntutannya juga sudah semakin besar dari yang awalnya ratusan ribu dolar sudah jutaan dolar," tandas Dian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9Panggil Bahlil ke Istana, Prabowo Terima Laporan Penguatan Tata Kelola Migas dan Peningkatan Layanan Energi
- 10Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas







