Akurat Logo

Di Tengah Perang Palestina-Israel Dan Tensi Geopilitik Global, OJK: Sektor Keuangan RI Tetap Stabil

Aris Rismawan | 30 Oktober 2023, 13:25 WIB
Di Tengah Perang Palestina-Israel Dan Tensi Geopilitik Global, OJK: Sektor Keuangan RI Tetap Stabil

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan sektor keuangan Indonesia tetap stabil dan mampu menghadapi di tengah gejolak global, seperti meningkatnya suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS) yang berkepanjangan dan tensi geopolitik yang memanas.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK Oktober 2023.

Mahendra menambahkan, tetap stabilnya sektor jasa keuangan didorong dari mampunya Indonesia dalam memitigasi dari ketidakpastian global.

“terjaganya permodalan yang kuat, kondisi likuiditas yang memadai, dan profil risiko yang terjaga sehingga, meningkatkan optimisme bahwa sektor jasa keuangan mampu memitigasi risiko dari meningkatnya ketidakpastisn global baik dari terminologi higher for longer suku bunga global, maupun tensi geopolitik,” kata Mahendra yang dipantau secara daring, Senin (30/10/2023).

Baca Juga: 6 Rekomendasi Drakor Terpopuler Dibintangi Park Eun Bin, Terbaru Jadi Pemeran Utama Di Castaway Diva

Dari tensi geopolitik Mahendra menjelaskan, memanasnya konflik Israel dan Hamas yang berpotensi mempengaruhi ekonomi dunia secara signifikan terutama jika terjadi eskalsi di Timur Tengah yang lebih luas. 

Kemudian Mahendra menyampaikan, membaiknya pasar tenaga kerja dan inflasi yang tetap persisten tinggi di Amerika Serikat (AS), telah mendorong meningkatnya aksi jual (share off) pasar obligasi di salah satu negara ekonomi terkuat dunia tersebut.

kenaikan hasil obligasi AS (yield US Treasury) telah meningkatkan keluarnya modal dari pasar negara berkembang (emerging market) termasuk Indonesia dalam mendorong pelemahan pada nilai tukar dan pasar obligasi yang signifikan. 

“Volatilitas di pasar keuangan, baik saham, obligasi dan nilai tukar dalam tren yang meningkat” ucap Mahendra.

Kemudian, di Eropa kinerja ekonomi diprediksi masih mengalami stagflasi. Sedangkan di Tiongkok pemulihan ekonomi masih belum sesuai harapan dan kinerja ekonomi yang masih di level pandemi. Tentunya ini akan meningkatkan kekhawatiran bagi pemulihan perekonomian global.

Sementara, tingkat inflasi Indonesia juga tercatat sebesar 2,28 persen secara tahunan (yoy) atau sejalan dengan ekspektasi pasar 2,2 persen (yoy). 

“Namun secara umum, daya beli masyarakat masih tertekan yang terlihat dari inflasi inti yang kembali turun, serta penurunan indeks kepercayaan konsumen dan kinerja penjualan ritel yang rendah,” ungkap Mahendra.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.