Bisakah Uang Membeli Kebahagiaan?

AKURAT.CO Uang bukanlah segalanya, namun segalanya butuh uang. Demikian bunyi pepatah yang sering kita dengar. Pernyataan bahwa uang bukanlah segalanya memberi pengertian bahwa terdapat banyak hal dalam hidup yang tidak dapat diukur atau dibeli dengan uang seperti kebahagiaan.
Sementara, penyataan segalanya butuh uang menunjukkan realitas bahwa hampir segala aspek dalam kehidupan modern memerlukan uang, salah satunya untuk mendapatkan kebahagiaan. Lantas, bagaimana sebenarnya ilmu ekonomi memandang hubungan antara uang dengan kebahagiaan? LPS dalam laporan Reserach Digest edisi September 2023 mencoba menjelaskan fenomena ini.
"Dalam disiplin ilmu ekonomi, kebahagiaan seringkali diasosiasikan dengan konsep utilitas. Utilitas mengacu pada tingkat kepuasan atau manfaat yang diterima individu akibat konsumsi barang atau jasa. Prinsip ini merupakan fondasi dari teori konsumen yang menjelaskan bagaimana individu mengambil keputusan dengan tujuan memaksimalkan utilitasnya," tulis laporan LPS dikutip Rabu (5/10/2023).
Baca Juga: Ini Alasan FOMO Bikin Gen Z Dan Milenial Susah Kaya
Konsep utilitas ini yang kemudian menjadi jembatan bagi konsep kebahagiaan di dalam ilmu ekonomi. Jeremy Bentham, seorang filsuf dan ekonom Inggris abad ke-18, berpendapat bahwa kebahagiaan merupakan hasil dari kenangan (pleasure) dengan penderitaan (pain). Konsep ini dikenal dengan istilah utilitarianisme yang menjadi landasan filosofis bagi individu untuk mendapatkan kebahagiaan dengan cara meningkatkan kesenangan dan mengurangi penderitaan. Apabila kesenangan yang didapatkan lebih besar dari penderitaan maka seseorang akan dianggap bahagia.
Untuk mengukur tingkat kebahagiaan biasanya digunakan konsep utilitarianisme terhadap kepuasan hidup. World Bank dan OECD menggunakan istilah subjective well-being untuk menguantifikasi kebahagiaan melalui evaluasi subjekif seorang individu terhadap kehidupan mereka. Untuk mengukur kebahagiaan, seseorang akan diminta untuk mengukur secara relatif kehidupan mereka sekarang dibandingkan kemungkinan terbaik dan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi pada hidup mereka.
Indikator tersebut akan dihitung pada skala antara 0 hingga 10 yang disebut sebagai Cantril Ladder (CL). Rata-rata CL tersebut yang kemudian dihitung untuk menentukan tingkat kebahagiaan dari sebuah negara. Selain cara ini, juga terdapat beberapa cara lain yang digunakan untuk mengukur kebahagiaan, namun CL ini yang cukup popular digunakan oleh beberapa institusi.
Paradoks Easterlin
Penelitian tentang kebahagiaan telah cukup lama dilakukan oleh berbagai ekonom. Banyak ekonom mempercayai bahwa kebahagiaan merupakan salah satu yang memotivasi tindakan seseorang dalam melakukan sesuatu. Dengan konsep utilitarian, kegiatan seseorang diarahkan untuk mendapatkan kepuasan dan mengurangi penderitaan melalui kekayaan material yang dimiliki. Dalam hal ini, salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah sejauh mana pengaruh uang, pendapatan atau kekayaan terhadap kebahagiaan seseorang.
Sebuah studi ekonomi yang dilakukan pada tahun 1974 oleh Prof. Richard Easterlin menemukan adanya sebuah paradoks yang dikenal sebagai paradoks easterlin. Studi ini dilakukan menggunakan data dari 19 negara dengan periode observasi yang bervariasi, dari dekade 1950-an hingga 1960-an.
"Paradoks ini menyatakan bahwa hingga titik tertentu (dalam jangka pendek), kebahagiaan berkorelasi dengan pendapatan, baik dalam konteks domestik maupun internasional. Namun, setelah mencapai ambang pendapatan tertentu (dalam jangka panjang), peningkatan pendapatan tidak lagi menghasilkan peningkatan signifikan dalam kebahagiaan," lanjut riset tersebut.
Salah satu hipotesis yang mendasari fenomena ini adalah kebahagiaan dipengaruhi oleh perbandingan antara pendapatan pribadi dan persepsi mengenai pendapatan rata-rata di masyarakat.
Beberapa penelitian lain juga menemukan banyak hasil serupa dengan Paradoks Easterlin. Penelitian Daniel Kahneman dengan Angus Deaton tahun 2010 menemukan hal yang serupa. Dari 450 ribu penduduk AS yang disurvei pada tahun 2008 dan 2009, uang hanya dapat meningkatkan kebahagiaan hingga titik tertentu yaitu hingga pendapatan tahunan mencapai USD75.000.
Sementara, penelitian Killingsworth tahun 2021 memiliki ambang batas yang lebih tinggi hingga USD200.000. Penelitian World Bank dan OECD juga menemukan pola logaritmik pada hubungan tingkat kebahagiaan dan PDB per kapita. Kebahagiaan memiliki hubungan kuat searah dengan PDB per kapita di bawah USD40.000. Kemudian, hubungan antara tingkat kebahagiaan semakin melemah di atas PDB per kapita tersebut. Berbagai hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa uang dapat membeli kebahagiaan pada level tertentu. Ketika PDB per kapita masih rendah, maka kenaikan pendapatan akan sejalan dengan kenaikan tingkat kebahagiaan. Namun dengan PDB per kapita yang telah mencapai level tertentu, maka hubungan tingkat kebahagiaan dengan pendapatan semakin berkurang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









