5 Alasan Jangan Pakai Pinjol Meski Sudah Kepepet

AKURAT.CO Di tengah perkembangan teknologi yang memudahkan banyak aspek kehidupan, pinjaman online atau pinjol menjadi salah satu pilihan untuk mengatasi kebutuhan finansial.
Hanya dengan beberapa langkah di aplikasi, uang pinjaman bisa langsung ditransfer ke rekening tanpa proses panjang atau jaminan. Tampak menggiurkan, bukan?
Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, ada bahaya besar yang mengintai.
Meskipun pinjol terlihat sebagai solusi cepat, banyak orang yang justru terjebak dalam utang tanpa akhir.
Tak sedikit cerita orang yang terpuruk secara finansial, kehilangan harta dan bahkan mengalami tekanan mental akibat bunga tinggi, penagihan yang agresif hingga pencemaran nama baik.
Berikut alasan mengapa tidak disarankan menggunakan pinjol, seperti dikutip dari berbagai sumber (Rabu, 6/11/2024):
1. Bunga tinggi
Salah satu alasan utama untuk menghindari pinjol adalah suku bunga tinggi yang diterapkan.
Berbeda dengan pinjaman bank yang memiliki bunga lebih rendah dan transparan, banyak pinjol mengenakan bunga harian atau mingguan yang bisa berlipat ganda dalam waktu singkat.
Dengan bunga harian, utang pokok akan terus membesar jika tidak segera dilunasi.
Ini sering kali menyebabkan jumlah utang yang harus dibayar menjadi jauh lebih besar dari jumlah yang dipinjam.
Baca Juga: Denny Cagur Klarifikasi Dugaan Promosi Judi Online: Siap Kooperatif Jalani Proses Hukum
2. Terjebak lingkaran utang
Kemudahan dalam pengajuan pinjol sering kali membuat seseorang terjebak dalam lingkaran utang.
Ketika seseorang mengambil pinjaman dengan niat untuk segera melunasi, tetapi di kemudian hari tidak mampu membayar, mereka sering kali mengambil pinjaman lain untuk menutup utang yang sudah ada.
Praktik gali lubang tutup lubang ini sangat berisiko dan bisa menjadi lingkaran yang sulit dihentikan.
Semakin lama, jumlah utang semakin besar dan tidak terkendali, yang pada akhirnya membuat kondisi keuangan peminjam semakin buruk.
Lingkaran utang ini juga menimbulkan tekanan psikologis yang besar karena peminjam harus terus mencari cara untuk membayar utang dengan penghasilan yang terbatas.
3. Privasi data rentan dilanggar
Saat mengajukan pinjaman online, calon peminjam harus memberikan akses ke berbagai data pribadi, termasuk kontak telepon, foto dan informasi lainnya yang tersimpan di ponsel.
Pinjol ilegal sering kali menyalahgunakan data ini untuk melakukan penagihan yang agresif, bahkan melibatkan kontak pribadi peminjam.
Mereka mungkin akan menghubungi teman, keluarga, atau rekan kerja untuk menagih utang dan ini sangat merusak reputasi serta kehormatan peminjam.
Selain itu, ada risiko penyalahgunaan data pribadi yang lebih serius, seperti pencurian identitas atau penjualan data kepada pihak ketiga tanpa persetujuan.
Pelanggaran privasi ini menjadi salah satu alasan utama mengapa pinjol harus dihindari, terutama yang tidak resmi atau tidak terdaftar di OJK.
Baca Juga: Terungkap! Ini Alasan Netanyahu Pecat Menteri pertahanan Israel Yoav Gallant
5. Merusak kesehatan mental
Tekanan dari utang yang menumpuk dan penagihan yang kasar sering kali berdampak langsung pada kesehatan mental peminjam.
Banyak yang mengalami stres, kecemasan, hingga depresi akibat situasi keuangan yang sulit ini.
Peminjam bisa merasa putus asa karena merasa tidak mampu keluar dari lingkaran utang, apalagi jika pendapatan tidak cukup untuk melunasi semua utang yang dimiliki.
Dalam jangka panjang, kesehatan mental yang terganggu dapat mempengaruhi kualitas hidup dan kinerja seseorang, bahkan merusak hubungan sosial serta keluarganya.
Tekanan psikologis yang dihadapi oleh peminjam ini bisa begitu besar, sehingga beberapa di antaranya mengalami krisis mental yang cukup serius.
7. Kesulitan akses layanan keuangan resmi
Riwayat kredit yang buruk akibat pinjol dapat membuat seseorang sulit mengakses layanan keuangan resmi, seperti pinjaman bank atau kartu kredit, di masa mendatang.
Beberapa perusahaan pinjol yang terdaftar di Otoritas Jasa keuangan (OJK) dapat melaporkan keterlambatan pembayaran ke sistem informasi kredit, sehingga mempengaruhi skor kredit peminjam.
Riwayat ini dapat menjadi beban bagi peminjam, terutama jika mereka ingin mengajukan pinjaman resmi di masa depan untuk keperluan penting, seperti membeli rumah atau kendaraan.
Dengan catatan kredit yang buruk, bank atau lembaga keuangan resmi cenderung menolak pengajuan kredit dari orang tersebut. (Maulida Sahla Sabila)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK







