Akurat

Inflasi AS Mereda, Minat Investasi Kripto Meningkat

Silvia Nur Fajri | 4 Juli 2024, 14:53 WIB
Inflasi AS Mereda, Minat Investasi Kripto Meningkat

AKURAT.CO Penurunan inflasi Amerika Serikat (AS) mencerminkan potensi positif bagi investor untuk beralih ke instrumen investasi yang lebih berisiko seperti aset kripto.

Menurut Crypto Analyst Reku Fahmi Almuttaqin, sinyal pelonggaran kebijakan ekonomi AS dapat menarik minat investor untuk berinvestasi pada instrumen yang cenderung berisiko seperti kripto.

"Namun, dengan dinamika yang sangat tinggi di pasar kripto, investor perlu berhati-hati dan selalu membuat keputusan investasi dengan bijak,” ujar Fahmi dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (4/7/2024).

Inflasi Indeks Harga Belanja Personal (PCE) AS turun menjadi 2,6 % secara tahunan (YoY) pada Mei 2024 dari 2,7 % pada April 2024. PCE inti naik sebesar 0,1 % secara bulanan (MoM) pada Mei 2024, yang merupakan kenaikan terkecil sejak November 2023.

Setelah rilis data inflasi PCE tersebut, harga Bitcoin mulai pulih, mencatat kenaikan hampir 6 % dari level USD60.000 ke USD63.500 pada Senin (1/7/2024) dan Selasa (2/7/2024) setelah melemah selama beberapa pekan sebelumnya.

Baca Juga: Hore, Bappebti Bakal Rilis Whitelist Aset Kripto

Pemulihan harga juga tercermin pada sejumlah aset kripto lainnya, terutama dari sektor infrastruktur seperti ENS, ZRO, TAIKO, dan meme coin seperti WIF, POPCAT, WEN, dan MOG. Aset kripto utama seperti Solana (SOL) dan Toncoin (TON) juga turut terapresiasi. Namun, pada Rabu siang, Bitcoin kembali terkoreksi dan berada di level USD60.900.

Fahmi menegaskan bahwa dinamika terbaru ini semakin menyoroti pengaruh perkembangan situasi ekonomi AS terhadap pasar kripto. 

“Beberapa indikator seperti Alts Buy Signal yang dikompilasi oleh Cryptokoryo di platform Dune, saat ini mengindikasikan situasi strong buy untuk altcoin pada strength level yang belum pernah terlihat sebelumnya,” jelasnya. 

Ini mengindikasikan masih besarnya potensi yang ada pada aset kripto alternatif selain Bitcoin pada kondisi saat ini.

Meski begitu, Fahmi juga mengingatkan bahwa altcoin cenderung memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan Bitcoin. “Selain karena kapitalisasi pasar dan likuiditas Bitcoin yang lebih besar, popularitas altcoin juga tidak setinggi Bitcoin," tambahnya.

Namun, banyak altcoin yang memiliki potensi teknologi menjanjikan yang dapat memberikan nilai manfaat yang berpotensi jauh lebih besar dibandingkan Bitcoin di masa depan.

Di tengah potensi yang ada, Fahmi mengimbau investor untuk mengambil keputusan yang cermat dan tidak tergesa-gesa. Investor dianjurkan melakukan menabung rutin dan memantau kondisi pasar secara reguler, serta melakukan diversifikasi ke altcoin lainnya sambil memanfaatkan fitur yang disediakan Reku.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.