Rupiah Melemah, Bos BCA Sebut Tak Ada Anomali DPK Valas

AKURAT.CO Di tengah tren pelemahan rupiah terhadap dolar AS, PT Bank Central Asia (BCA) Tbk menegaskan tak ada pergerakan besar atau anomali Dana Pihak Ketiga (DPK) Valuta Asing (valas) nasabah mereka.
Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadtja menegaskan secara umum DPK melambat di awal tahun 2024 ini, baik tabungan, giro maupun deposito. DPK BCA sendiri tumbuh 70% sepanjang 2023 lalu.
"Untuk yang amount kecil mungkin iya, tetapi kalau amount jumlah besar yang memengaruhi market, untuk individual player, saya rasa hampir tidak ada atau sedikit sekali," kata dia dalam konferensi pers virtual, Senin (22/4/2024).
Baca Juga: Laba Bersih BCA Tembus Rp12,9 T di Kuartal I-2024, Tumbuh Double Digit
Jahja turut mengapresiasi langkah BI yang tak melakukan intervensi pasar meskipun menyadari penurunan nilai tukar rupiah terus terjadi seiring faktor global dan ketegangan di Timur Tengah. Menurutnya, operasi pasar di saat seperti ini ibarat membuang garam ke lautan, alis sia-sia.
Menurut Jahja, setidaknya ada empat faktor yang menekan rupiah ambles ke level Rp16.200 dan mendorong lonjakan permintaan terhadap dolar AS. Yakni kebutuhan Idul Fitri yang membuat pengusaha harus membeli lebih banyak bahan impor dan material mentah.
Kemudian banyak masyarakat yang liburan atau bepergian ke luar negeri dan membutuhkan dolar AS sebagai akomodasi. Lalu, investor asing yang masuk ke pasar saham dan obligasi Indonesia mengurangi investasi dan menarik dana dari Tanah Air.
Terakhir, momen musim pembagian dividen (dividen payout) emiten-emiten pasar saham yang juga dimiliki oleh investor besar dari luar negeri. Dengan demikian, banyak juga dividen ini yang mengalir ke luar negeri dalam bentuk dolar AS
"Meskipun ada faktor-faktor seperti peningkatan permintaan impor menjelang Idul Fitri, BCA tetap optimis pemerintah dan BI bakal menjaga stabilitas nya (rupiah)," imbuhnya.
Dalam konteks risiko kredit, Jahja memberi apresiasi terhadap kebijakan relaksasi yang membantu perbankan pulih pasca pandemi. "Hal ini bisa membantu perbankan untuk bangkit pasca pandemi," ujarnya.
Dia juga menyoroti ketidakpastian seputar kebijakan suku bunga Amerika yang dapat berdampak pada pasar valas, sambil menekankan pentingnya tidak meramalkan situasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









