Aplikasi AI Video ByteDance Bikin Hollywood Resah, Seedance 2.0 Disebut Setara Produksi Film

AKURAT.CO Industri film Hollywood tengah dibuat resah oleh kemunculan model kecerdasan buatan (AI) terbaru asal China. Teknologi bernama Seedance 2.0, yang dikembangkan ByteDance, disebut mampu menghasilkan video berkualitas sinematik hanya dari instruksi teks singkat.
Berbeda dari generator video AI sebelumnya, Seedance 2.0 tak hanya menyatukan visual dan teks, tetapi juga efek suara serta dialog dalam satu sistem terpadu. Hasilnya, video yang dihasilkan terlihat seperti potongan film profesional lengkap dengan tata kamera dan adegan aksi yang kompleks.
Sejumlah klip yang diduga dibuat dengan Seedance viral di media sosial, termasuk adegan karakter populer seperti Spider-Man dan Deadpool. Bahkan muncul video bergaya blockbuster yang menampilkan Will Smith dalam adegan unik bertema spaghetti, yang kualitas produksinya dinilai sangat realistis.
Kenapa Seedance 2.0 Bikin Heboh?
Versi pertama Seedance sebenarnya sudah dirilis pada Juni 2025, namun pembaruan delapan bulan kemudian inilah yang memicu gelombang perhatian global. Sejumlah pelaku industri kreatif menyebut kualitas visual dan sinematografinya melampaui ekspektasi.
"Untuk pertama kalinya, saya tidak berpikir bahwa ini terlihat bagus untuk AI. Sebaliknya, saya berpikir bahwa ini terlihat langsung dari jalur produksi yang sebenarnya," kata Jan-Willem Blom selaku studio kreatif Videostate, dikutip dari BBC, Senin (23/2/2026).
Jika dibandingkan dengan model Barat seperti OpenAI Sora atau Midjourney, Seedance dinilai lebih solid dalam menyatukan elemen naratif, audio dan visual sekaligus. Adegan aksi yang dihasilkan pun terlihat lebih halus dan dramatis, seolah digarap oleh tim produksi profesional.
Bagi studio kecil, teknologi ini menjadi peluang besar karena membuat produksi film fiksi ilmiah, drama periode, hingga aksi dengan anggaran terbatas. Dengan AI video seperti Seedance, biaya yang sebelumnya mahal akibat kebutuhan efek visual kompleks kini bisa ditekan signifikan.
Sebagai gambaran, drama mikro di Asia biasanya diproduksi dengan dana sekitar $140.000 (sekitar Rp2,36 miliar) untuk puluhan episode berdurasi pendek. Dengan dukungan AI, kualitas visual produksi murah berpotensi naik kelas.
Isu Hak Cipta dan Risiko Hukum
Di sisi lain, kehadiran Seedance memicu polemik serius terkait hak cipta. Disney dan Paramount dilaporkan memprotes penggunaan karakter berlisensi seperti Spider-Man dan Darth Vader, sementara Jepang menyelidiki dugaan pelanggaran atas karakter anime populer.
ByteDance menyatakan sedang memperkuat sistem perlindungan konten. Meski begitu, isu serupa sebelumnya juga menjerat OpenAI, Microsoft, Google, hingga Perplexity terkait penggunaan data tanpa izin untuk melatih model AI.
Pakar etika AI menilai persoalan utama bukan hanya kualitas video yang semakin realistis, tetapi transparansi lisensi dan mekanisme kompensasi bagi pemilik karya. Tanpa regulasi yang jelas, potensi penyalahgunaan akan semakin besar.
Menariknya, sebagian perusahaan justru memilih jalur kolaborasi. Disney, misalnya, dikabarkan meneken kesepakatan bernilai miliaran dolar dengan OpenAI agar dapat menggunakan karakter waralaba mereka secara legal dalam ekosistem AI.
China Makin Agresif di Arena AI Global
Kehadiran Seedance 2.0 juga mempertegas posisi China dalam persaingan teknologi global. Sebelumnya, model AI DeepSeek sempat menggebrak pasar dengan pendekatan biaya rendah dan langsung meroket di App Store AS.
Pemerintah China sendiri menjadikan AI dan robotika sebagai prioritas strategi ekonomi nasional. Investasi besar diarahkan ke produksi chip canggih, otomatisasi industri, hingga pengembangan AI generatif.
Beberapa perusahaan teknologi China sengaja merilis produk AI saat musim liburan agar lebih banyak dicoba publik. Analis menilai 2026 berpotensi menjadi momentum adopsi massal AI di China, dari chatbot hingga pembuat video seperti Seedance.
Dampaknya bagi Industri Kreatif
Bagi Hollywood dan industri hiburan global, kemunculan Seedance 2.0 menjadi sinyal bahwa AI video telah memasuki fase baru. Teknologi ini tak lagi sekadar eksperimen, tetapi mulai mendekati standar produksi film komersial.
Di satu sisi, AI membuka peluang efisiensi dan demokratisasi produksi konten. Di sisi lain, ancaman terhadap hak cipta, tenaga kerja kreatif, dan model bisnis lama semakin nyata.
Pertanyaannya bukan lagi apakah AI mampu membuat film. Kini yang menjadi sorotan adalah seberapa cepat industri beradaptasi dan siapa yang paling siap menghadapi era produksi berbasis algoritma.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








