Cina Salip Amerika Serikat dalam Penguasaan Teknologi Kritis

AKURAT.CO Cina semakin menegaskan diri sebagai pemimpin global dalam pengembangan teknologi kritis. Negara ini kini melampaui Amerika Serikat di berbagai bidang yang menjadi penentu masa depan inovasi.
Salah satu indikator utama adalah dominasi publikasi ilmiah yang dihasilkan para peneliti Cina. Produksi riset mereka bukan hanya lebih banyak, tetapi juga lebih berpengaruh di tingkat global.
Dikutip dari Information Technology & Innovation Foundation, Rabu (24/9/2025), lonjakan paten Cina lahir dari kebijakan industri yang agresif. Dukungan pemerintah berupa subsidi besar dan integrasi ekosistem riset membuat inovasi berkembang pesat.
Cina kini unggul dalam robotika, pasokan baterai, bioteknologi, serta komunikasi kuantum dengan proyek QKD sepanjang 1.200 mil. Selain itu, negara ini juga semakin mendekati Amerika dalam kecerdasan buatan dan semikonduktor.
Penelitian Australian Strategic Policy Institute (ASPI) menunjukkan dominasi serupa. Dari 64 kategori teknologi kritis, Cina memimpin pada 57, sedangkan AS hanya unggul dalam 7 kategori.
Di bidang energi dan lingkungan, publikasi ilmiah top dari Cina mencapai 46 persen, sementara AS hanya menyumbang 10 persen. Bahkan dalam kecerdasan buatan, publikasi unggulan Cina mencapai 30 persen, melampaui 18 persen milik Amerika.
ASPI memperingatkan bahwa 24 teknologi berisiko tinggi bisa dimonopoli Cina. Beberapa di antaranya memiliki aplikasi pertahanan langsung, seperti radar, mesin pesawat canggih, hingga drone militer.
Keunggulan ini tidak terjadi secara instan, melainkan hasil investasi puluhan tahun di bidang riset dan pendidikan. Fokus Cina pada STEM membuat lulusan sains dan teknologi mereka empat kali lebih banyak dibandingkan Amerika Serikat.
Pemerintah Cina juga menerapkan strategi Civil-Military Fusion yang menghapus batas antara sektor sipil dan militer. Pendekatan ini mempercepat pemanfaatan teknologi sipil untuk kebutuhan pertahanan dan ambisi strategis nasional.
Para analis menilai Amerika Serikat perlu bergerak cepat untuk menutup kesenjangan ini. Usulan yang muncul termasuk memperbesar anggaran riset, menyederhanakan proses hibah, serta meningkatkan insentif pajak R\&D untuk sektor swasta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan
- 10Indonesia dan Mesir Tegaskan Solusi Dua Negara Kunci Perdamaian Palestina






