Akurat

Perbedaan Senyawa Organik dan Anorganik: Kenali Ciri, Sifat, dan Contohnya

Eko Krisyanto | 23 September 2025, 23:49 WIB
Perbedaan Senyawa Organik dan Anorganik: Kenali Ciri, Sifat, dan Contohnya

AKURAT.CO Dalam dunia kimia, ada dua kelompok besar senyawa yang sering dibahas: senyawa organik dan senyawa anorganik.

Keduanya sama-sama penting, namun memiliki perbedaan yang cukup jelas. Yuk, kita bedah satu per satu.

Apa Itu Senyawa Organik?

Senyawa organik adalah senyawa yang kerangka utamanya dibangun dari atom karbon (C) dan hidrogen (H).

Selain itu, unsur lain seperti oksigen, nitrogen, fosfor, sulfur, atau halogen juga sering hadir dalam strukturnya.

Senyawa ini umumnya berasal dari makhluk hidup atau proses biologis, misalnya fotosintesis, fermentasi, dan metabolisme.

Beberapa contoh senyawa organik yang akrab di kehidupan sehari-hari adalah gula, etanol, protein, lemak, hingga benzena.

Apa Itu Senyawa Anorganik?

Berbeda dengan senyawa organik, senyawa anorganik tidak dibangun terutama dari kerangka karbon-hidrogen.

Meski bisa saja mengandung karbon, konteks dan strukturnya tetap berbeda.

Senyawa ini biasanya ditemukan pada mineral, batuan, air, maupun unsur logam dan non-logam.

Baca Juga: Cara Membuat Kalimat Tanya dalam Bahasa Inggris

Contoh senyawa anorganik antara lain air (H₂O), garam dapur (NaCl), karbon dioksida (CO₂), asam sulfat (H₂SO₄), dan natrium hidroksida (NaOH).

Perbedaan Sifat Senyawa Organik dan Anorganik

Perbedaan keduanya bisa dilihat dari sifat fisika maupun kimianya.

Senyawa organik umumnya memiliki titik didih dan titik leleh yang relatif rendah, serta mudah terbakar karena banyak mengandung ikatan C–H. Reaksinya juga bisa lebih lambat karena molekulnya sering kompleks.

Sebaliknya, senyawa anorganik cenderung memiliki titik didih dan titik leleh tinggi. Banyak yang bersifat ionik sehingga mudah larut dalam air dan dapat menghantarkan listrik.

Dari sisi kestabilan, senyawa anorganik biasanya tidak mudah terbakar dan lebih tahan panas.

Awalnya, orang percaya senyawa organik hanya bisa berasal dari makhluk hidup.

Namun, keyakinan itu runtuh setelah ilmuwan Friedrich Wöhler berhasil mensintesis urea dari bahan anorganik pada tahun 1828.

Sejak itu, definisi senyawa organik tidak lagi berdasarkan asal-usulnya, melainkan pada struktur atomnya.

Singkatnya, senyawa organik adalah senyawa kaya karbon dan hidrogen yang banyak ditemukan pada makhluk hidup, sedangkan senyawa anorganik lebih banyak ditemukan di alam tak hidup seperti mineral, air, dan garam.

Baca Juga: Kemenkes Tegaskan Tidak Ada Kasus Cacar Monyet di Meranti

Senyawa organik cenderung mudah terbakar dan memiliki titik didih rendah, sedangkan senyawa anorganik umumnya lebih stabil, punya titik didih tinggi, dan sering mampu menghantarkan listrik.

Dengan memahami perbedaan keduanya, kita bisa lebih mudah mempelajari reaksi kimia sekaligus melihat bagaimana kedua jenis senyawa ini hadir dalam kehidupan sehari-hari maupun di dunia industri.

Laporan: Marina Yeremin Sindika Sari/magang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.