Akurat

Survei Ungkap 24 Persen Data di Perusahaan Indonesia Masuk Kategori Dark Data

Petrus C. Vianney | 28 Agustus 2025, 14:09 WIB
Survei Ungkap 24 Persen Data di Perusahaan Indonesia Masuk Kategori Dark Data

AKURAT.CO Perusahaan di Indonesia tengah menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan data. Temuan terbaru Hitachi Vantara State of Data Infrastructure Survey menunjukkan 24 persen data perusahaan di Indonesia tergolong dark data, jauh di atas rata-rata global 10 persen.

Dark data adalah informasi yang dikumpulkan namun tidak dimanfaatkan untuk mendukung keputusan bisnis. Kondisi ini tidak hanya menyimpan potensi yang belum tergali, tetapi juga menimbulkan risiko seperti biaya penyimpanan lebih tinggi, masalah kepatuhan, hingga ancaman keamanan.

Survei tersebut melibatkan 50 responden dari Indonesia, bagian dari 1.200 responden global yang berasal dari berbagai industri. Beberapa sektor dominan antara lain kesehatan dan life sciences (28 persen), manufaktur (20 persen), serta teknologi informasi (18 persen).

Selain masalah dark data, survei juga menyoroti rendahnya kepercayaan terhadap kualitas data di Indonesia. Hanya 14 persen responden yang mengaku data mereka tersedia saat dibutuhkan, dan hanya 6 persen yang mempercayai hasil keluaran model kecerdasan buatan (AI).

Meski demikian, tren investasi AI di Indonesia terus meningkat. Perusahaan diproyeksikan menaikkan investasi hingga 124 persen, sejalan dengan komitmen mempercepat transformasi digital dan memanfaatkan AI untuk mendorong efisiensi serta inovasi.

Seiring meningkatnya pemanfaatan AI, kebutuhan penyimpanan data juga diperkirakan melonjak hampir 30 persen dalam dua tahun mendatang. Hal ini menuntut perusahaan memiliki strategi data yang menyeluruh agar informasi tetap terorganisasi, terlindungi dan mudah diakses.

Dari sisi adopsi, sebanyak 80 persen responden Indonesia bekerja sama dengan Global Systems Integrators (GSI) untuk mendukung penerapan AI. Strategi yang digunakan bervariasi, mulai dari memanfaatkan model AI gratis atau open-source (74 persen) hingga solusi berbayar (62 persen).

Namun, tantangan keamanan masih menjadi perhatian besar. Sebanyak 50 persen responden mengkhawatirkan kehilangan data akibat kesalahan internal AI, 32 persen khawatir terhadap serangan siber berbasis AI dan 39 persen cemas terhadap potensi denda regulator akibat kebocoran data.

"Organisasi yang berorientasi pada data dan memprioritaskan tata kelola serta analitik berada dalam posisi yang lebih baik," ujar Ming Sunadi selaku Country Managing Director Hitachi Vantara Indonesia, saat acara konferensi pers di kawasan SCBD, Jakarta Pusat, Rabu (27/8/2025).

Ia menambahkan bahwa perusahaan di Indonesia perlu membangun ekosistem data yang tangguh untuk mendukung pertumbuhan dan efisiensi operasional. Analitik berbasis AI juga dapat membantu menggali wawasan berharga dari dark data.

"Kolaborasi strategis dengan mitra ekosistem terpercaya sangat penting dalam menghadapi tantangan kompleks integrasi AI dan manajemen siklus hidup data," kata Sony Chahyadi selaku Enterprise Solutions Consultant Lead Hitachi Vantara.

Sony menegaskan bahwa solusi terpadu yang menyentuh perangkat keras, penyimpanan, perangkat lunak, hingga tenaga ahli akan membantu perusahaan lebih siap mengoperasionalkan aset data mereka. Dengan begitu, nilai bisnis yang terukur dapat dicapai secara lebih cepat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.