Berisiko Hambat Inovasi, Rencana AI Trump Dinilai Kontradiktif

AKURAT.CO Pemerintahan Trump merilis Rencana Aksi AI untuk mendorong kemajuan teknologi Amerika Serikat. Namun, pengamat menilai isinya bertentangan dengan kebijakan lain yang berlaku.
Meski memuat ide seperti pengembangan data berkualitas dan riset AI, kebijakan ini dinilai mengabaikan keamanan. Pemerintahan Trump bahkan menghapus unsur bias, disinformasi dan isu iklim dari penilaian risiko AI.
Selain itu, sejumlah data publik penting yang selama ini menjadi sumber penelitian dilaporkan dihapus. Tindakan ini dinilai melemahkan upaya pengembangan AI yang transparan dan bermanfaat bagi kepentingan publik.
Rencana tersebut menyoroti pentingnya infrastruktur listrik untuk mendukung era AI. Namun, kebijakan pajak energi bersih dan izin proyek surya serta angin justru menghambat transisi energi.
Alih-alih mempercepat adopsi energi bersih, pemerintah mendorong penggunaan pembangkit listrik fosil dan generator diesel cadangan. Upaya ini berpotensi meningkatkan polusi udara dan menambah beban biaya listrik.
Di bidang penelitian, anggaran R\&D untuk lembaga seperti Departemen Energi, Yayasan Sains Nasional dan EPA dipangkas. Padahal, riset akademis dan pendanaan publik penting untuk memajukan AI yang aman dan berkelanjutan.
Dari sisi geopolitik, pilar ketiga rencana ini mendorong negara lain membeli produk AI AS dan membatasi pengaruh Tiongkok. Namun, kebijakan isolasionis membuat banyak negara lebih tertarik pada tawaran Tiongkok yang terbuka berbagi teknologi.
Dikutip dari Tech Policy, Minggu (10/8/2025), Tiongkok merilis rencana saingan yang menawarkan kemitraan dengan negara berkembang dan mengandalkan sumber terbuka. Hal ini dinilai mengisi kekosongan yang ditinggalkan kebijakan luar negeri AS.
Rencana Trump juga mengatur agar perusahaan memastikan model AI mereka "bebas dari bias ideologis". Kritikus menilai istilah ini terlalu kabur dan berpotensi digunakan sebagai alat politik untuk membungkam inovasi.
Pengamat memperingatkan bahwa tanpa perubahan arah, AS berisiko kehilangan reputasi global dan tertinggal dalam kompetisi teknologi. Pemulihan kepercayaan internasional disebut dapat memakan waktu bertahun-tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







