Apple Pimpin Kenaikan Saham Teknologi Usai Tarif Trump Longgar terhadap Chip

AKURAT.CO Saham teknologi global melonjak setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melonggarkan rencana tarif 100 persen terhadap chip dan semikonduktor. Perusahaan teknologi besar seperti Apple pun mendapat angin segar dari kebijakan tersebut.
Trump menyebut tarif hanya akan berlaku untuk chip impor yang tidak diproduksi di AS. Namun, perusahaan yang sudah berinvestasi atau berencana membangun pabrik di AS akan dikecualikan dari tarif tersebut.
Apple menjadi sorotan usai mengumumkan rencana investasi tambahan sebesar $100 miliar (sekitar Rp1.627 triliun) di AS. Saham Apple naik 2,9 persen di perdagangan pra-pasar.
Mitra Apple seperti Applied Materials, Texas Instruments, GlobalFoundries dan Broadcom juga mencatat kenaikan saham. Kenaikannya berada di kisaran 1,1 persen hingga 8,5 persen.
Saham produsen chip lainnya seperti AMD, Intel dan Nvidia ikut terdongkrak, masing-masing naik 2,2 persen, 0,8 persen dan 1,5 persen. Kenaikan serupa juga terjadi pada produsen chip Eropa seperti ASML, ASMI dan BE Semiconductor.
Analis BofA menyebut tarif tersebut terdengar mengkhawatirkan, tapi dampaknya diperkirakan tidak terlalu besar. Sementara itu, J.P. Morgan memperkirakan tarif baru ini tidak akan menambah beban tarif 15 persen yang telah disepakati antara AS dan Uni Eropa.
Produsen chip asal Taiwan, TSMC, juga diperkirakan aman dari tarif karena memiliki pabrik di AS. Saham TSMC pun naik hampir 5 persen dan mencetak rekor tertinggi. Saham Samsung dan SK Hynix dari Korea Selatan juga ikut menguat masing-masing 2,5 persen dan 1,4 persen.
Dikutip dari Reuters, Jumat (8/8/2025), Korea Selatan memastikan produk chip dari kedua perusahaan tersebut tidak terkena tarif. Hal ini karena keduanya telah berinvestasi di pabrik chip di AS.
Sejak menjabat, Trump memang mendorong produksi dalam negeri dengan mengancam tarif tinggi, terutama untuk semikonduktor. Upaya ini bertujuan untuk merombak rantai pasok global.
Namun, beberapa negara seperti Filipina dan Malaysia masih mencari kejelasan lebih lanjut. Filipina mengkhawatirkan dampak besar terhadap ekspor semikonduktornya, sementara Malaysia telah menghubungi AS untuk klarifikasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 3Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 4Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 5Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 6Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 7Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 9Anak Usaha Lyman Group Urus HGB Kota Baru Parahyangan ke ATR/BPN, KPK Dalami Setorannya
- 10KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat







