Apa Itu DeepSeek AI? Komdigi Bahas Potensi dan Risikonya di Indonesia

AKURAT.CO Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengkaji manfaat serta risiko yang mungkin timbul dari kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) DeepSeek di Indonesia.
Sejak diperkenalkan oleh perusahaan rintisan asal China beberapa waktu lalu, DeepSeek menjadi sorotan global.
Kemampuannya menghasilkan model AI sekelas ChatGPT dengan biaya lebih rendah membuatnya menarik perhatian.
Namun, isu keamanan siber turut mengiringi popularitas DeepSeek hingga memicu pemblokiran di berbagai negara.
Baca Juga: Dianggap Berisiko, Sejumlah Negara Melarang DeepSeek AI
"Kami sebagai kementerian, ke depan akan lebih berhati-hati dan mendalami langkah-langkah yang perlu diambil terkait DeepSeek," ujar Pelaksana Tugas Kepala Pusat Kebijakan Strategis Komdigi, Oki Suryowahono, di Jakarta, Rabu (12/2/2025).
Komdigi juga perlu memastikan apakah DeepSeek benar-benar menjadi ancaman atau ada dinamika lain yang melibatkan kompetitornya.
"Mungkin ada persoalan lain yang kita belum tahu, sehingga beberapa negara memutuskan untuk memblokirnya," kata Oki.
Saat ini, pemerintah memilih bersikap hati-hati dalam merespons penggunaan DeepSeek.
Baca Juga: CEO ARM Prediksi DeepSeek Akan Dilarang di AS
Komdigi berkomitmen tidak akan membuat kebijakan tergesa-gesa tanpa terlebih dahulu memahami manfaat dan ancaman dari teknologi tersebut.
"Kita harus bijak, jangan sampai gegabah memblokir DeepSeek. Bisa jadi ada banyak pihak yang mendapat manfaat dari penggunaannya," lanjut Oki.
DeepSeek sendiri terus mengalami lonjakan popularitas yang menjadikannya chatbot AI terpopuler kedua dunia setelah ChatGPT.
Dengan total biaya daya komputasi untuk model dasar hanya sekitar USD5,6 juta, DeepSeek dinilai jauh lebih efisien dibandingkan ratusan juta Dolar yang dihabiskan oleh perusahaan Amerika Serikat untuk pengembangan AI serupa.
Baca Juga: Apple Pertimbangkan DeepSeek untuk Bawa Apple Intelligence ke China
Namun, kesuksesan ini juga menghadirkan tantangan.
Sejumlah negara, termasuk Australia, Italia, Taiwan hingga badan pemerintah AS seperti Pentagon dan NASA, telah melarang penggunaan DeepSeek.
Alasan utama di balik larangan ini adalah kekhawatiran DeepSeek digunakan sebagai alat mata-mata oleh China.
Ke depan, persaingan global di sektor AI diprediksi akan semakin ketat.
Baca Juga: Tak Gentar Ditantang DeepSeek, Microsoft dan Meta Masih Gencar Investasi di AI
Para ahli percaya kebangkitan perusahaan AI asal China seperti DeepSeek dapat mendorong inovasi lebih cepat di tengah persaingan sehat dengan perusahaan AS.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








