Perkembangan Energi Panas Bumi di Asia Tenggara Terhambat, Ini Sebabnya

AKURAT.CO Energi panas bumi yang dikenal sebagai sumber energi bersih dengan potensi besar di Indonesia dan Filipina menghadapi berbagai kendala yang memperlambat pengembangannya.
Energi panas bumi memanfaatkan panas bumi dari reservoir bawah tanah untuk menghasilkan listrik. Namun, eksplorasi awalnya membutuhkan biaya tinggi dan berisiko, sehingga sulit menarik investor.
Bank Dunia dan lembaga internasional lainnya telah menyediakan dukungan finansial untuk mengurangi risiko ini. Di Indonesia, misalnya, Bank Dunia memberikan pinjaman sebesar Rp2,25 miliar, sementara Dana Iklim Hijau dan Dana Teknologi Bersih menyumbang Rp1,91 miliar.
Meski dukungan mulai meningkat, kontribusi energi panas bumi terhadap pasokan listrik nasional masih rendah. Indonesia hanya memanfaatkan kurang dari 10 persen cadangan panas bumi, sementara Filipina telah mengembangkan 8 persen kapasitasnya.
Pemerintah kedua negara kini menargetkan peningkatan kapasitas. Indonesia berencana menambah pangsa energi panas bumi hingga 8 persen pada 2030, sementara Filipina menargetkan tambahan hampir 1,5 gigawatt.
Kebijakan seperti penyederhanaan izin dan skema lelang energi hijau di Filipina diharapkan dapat menarik investasi. Namun, tantangan sosial juga menjadi perhatian.
Di Indonesia, protes masyarakat terhadap proyek panas bumi sering kali muncul karena kekhawatiran lingkungan dan keamanan. Di Filipina, protes dari kelompok adat mendorong perusahaan untuk membayar royalti guna meredam konflik.
Marit Brommer, CEO Asosiasi Panas Bumi Internasional yang berbasis di Jerman, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perusahaan dan masyarakat.
"Kita perlu menunjukkan bahwa perkembangan ini menguntungkan semua orang, bukan hanya perusahaan," ujarnya, dikutip dari Apnews.com, Selasa (3/12/2024).
Dengan dukungan finansial yang lebih luas dan pendekatan kolaboratif yang menghormati masyarakat lokal, energi panas bumi dapat menjadi solusi energi bersih yang signifikan di Asia Tenggara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









