Akurat

Pemerintah Dorong Digitalisasi Kesehatan, Tantangan SDM Masih Jadi Kendala

Petrus C. Vianney | 27 Agustus 2024, 19:23 WIB
Pemerintah Dorong Digitalisasi Kesehatan, Tantangan SDM Masih Jadi Kendala

AKURAT.CO Transformasi digital dalam sektor kesehatan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM).

Dalam proses digitalisasi, ada tiga elemen penting yang harus diperhatikan, yaitu teknologi, SDM dan proses. Ketiga elemen ini menjadi fokus utama dalam upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan.

Pada tahap awal, banyak dokter mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan teknologi digital, seperti penggunaan sistem cloud atau input data digital. Hal ini sering terjadi karena perbedaan pemahaman antara praktisi teknologi dan tenaga medis.

Baca Juga: Technologue Awards 2024, Hadirkan Kategori Baru EV dan GeekTalk Bertema Masa Depan Digital Indonesia

"Untuk mengatasi kendala ini, kami melakukan berbagai disrupsi, termasuk pembentukan tim digital yang membantu percepatan proses transformasi," ujar Setiaji selaku Chief of Technology Transformation Office (TTO) Kemenkes, saat acara Technologue Award 2024 di Jakarta Selatan, Senin (26/8/2024).

Salah satu contoh sukses dari penerapan teknologi ini adalah aplikasi PeduliLindungi, yang awalnya hanya mampu menampung sedikit pengguna, namun setelah dilakukan penguatan sistem, kini dapat melayani hingga 100 juta orang.

Selain itu, tantangan lain adalah bagaimana mendorong dokter, terutama yang senior, untuk mau beralih ke sistem digital.

Untuk mengatasi resistensi ini, pemerintah mewajibkan dokter untuk mengikuti pelatihan online sebagai syarat memperpanjang Surat Tanda Registrasi (STR) mereka.

Ini merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa seluruh tenaga medis terbiasa dengan sistem digital.

Upaya lain yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan platform yang sudah akrab di masyarakat, seperti WhatsApp, untuk menyebarkan informasi kesehatan secara cepat dan mudah dipahami.

Langkah ini dinilai efektif karena banyak masyarakat yang lebih sering menggunakan WhatsApp dibandingkan aplikasi lain.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.