204 Juta Data KPU Bocor, Ini 7 Cara dan Langkah Penting yang Dapat Dilakukan Masyarakat

AKURAT.CO Beberapa hari terakhir ramai pemberitaan terkait kasus dugaan kebocoran data dari sistem jaringan Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Menurut informasi, sistem jaringan KPU berhasil dibobol hacker bernama 'Jimbo' yang lantas menjual 204 juta data daftar pemilih tetap (DPT) dari website KPU.
Hacker anonim Jimbo itu mengaku meretas situs kpu.go.id dan meyakinkan bahwa apa yang dilakukannya valid dengan menjual data curian ke BreachForums.
Lebih lanjut, berikut ini beberapa hal mengenai kebocoran data dan apa yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengatasinya.
Baca Juga: Bahas Kebocoran Data DPT Dengan Menkominfo, Komisi I DPR Salahkan KPU
Apa yang Dimaksud dengan Kebocoran Data?
Kebocoran data adalah pemaparan data sensitif yang tidak disadari, baik secara elektronik maupun fisik, yang dapat terjadi secara internal atau melalui perangkat fisik seperti hard drive eksternal atau laptop.
Jika penjahat siber menemukan kebocoran data, mereka dapat menggunakan informasi tersebut untuk mempersenjatai diri mereka sendiri demi serangan pembobolan data.
Ketika data sensitif dicuri dari pembobolan data atau serangan ransomware dan dipublikasikan di web gelap, peristiwa ini juga diklasifikasikan sebagai kebocoran data.
Berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam menangani kebocoran data.
1. Mengganti PIN Data yang Sudah Bocor
Jangan pernah menggunakan PIN dengan data yang sudah bocor, atau menggunakan PIN tanda lahir.
Tanggal lahit mudah ditemukan di berbagai situs dan media sosial hanya dengan satu pencarian saja, dengan begitu angka-angka tertentu yang biasa terlihat di dunia maya bisa diganti.
2. Enkripsi Semua Data
Pejahat siber mungkin akan kesulitan mengeksploitasi kebocoran data jika data dienkripsi. Terdapat dua kategori enkripsi data, yakni Enkripsi Kunci Simetris dan Enkripsi Kunci Publik.
Meskipun data yang dienkripsi dapat membingungkan para peretas amatir, penyerang siber yang cakap dapat mendekripsi data tanpa kunci dekripsi.
Karena alasan tersebut, enkripsi data tidak boleh menjadi satu-satunya taktik pencegahan kebocoran data, tetapi harus digunakan bersama dengan semua metode dalam lainnya.
Baca Juga: Data KPU Bocor, Menkominfo Kena Getahnya...
3. Gunakan Password yang Kuat
Gunakan atau ubah password kata kunci dengan kuat guna mengamankan akun yang dimiliki.
Disarankan untuk menggunakan 12 karakter ke atas demi mencegah usaha percobaan pelaku kejahatan siber.
4. Aktifkan OTP
Aktifkan One Time Password (OTP) di semua layanan digital, khususnya layanan yang dianggap penting.
Pengamanan OTP dianggap sangat efektif untuk membantu mengamankan akun digital dari eksploitasi jika terjadi kebocoran kredensial.
5. Ganti Email
Masyarakat dapat mengganti email yang digunakan di akun-akun penting, seperti akun Bank, uang digital dan akun e-commerce.
6. Identifikasi Semua Data Sensitif
Pencegahan Kehilangan Data harus menjadi prioritas utama bagi seseorang. Oleh sebab itu, perlu mengidentifikasi semua data sensitif yang perlu diamankan.
Data ini kemudian perlu diklasifikasikan dengan benar sesuai dengan kebijakan keamanan yang ketat.
7. Have I Been Pwned?
Situs Have I Been Pwned dapat digunakan untuk melacak pelanggaran yang menggunakan email.
Pengguna hanya perlu memasukkan alamat email agar situs melakukan pengecekan terhadap email.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








