Miris, Glorifikasi Gen-Z Di Media Sosial Ternyata Berbeda Dengan Realitanya

AKURAT.CO Media sosial telah menjadi salah satu alat yang paling kuat dan berpengaruh dalam budaya kontemporer, terutama di kalangan Generasi Z (Gen-Z), yang merupakan kelompok usia yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an.
Gen-Z telah tumbuh dalam era digital, dan banyak dari mereka aktif di berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, Twitter, dan lainnya.
Dalam platform tersebut, Gen-Z kerap kali dianggap sebagai generasi yang unggul serta produktif pada hal yang mereka kerjakan, seperti pendidikannya, bidang kerjanya, atau dalam aktivitas yang mereka jalani.
Namun ternyata anggapan tersebut tidaklah merata untuk seluruh Generasi Z, sebab pada realitanya berbeda dengan apa yang dilihat dalam media sosial.
Baca Juga: Menuju Awet Muda Dengan Menghindari Jenis Makanan Dan Minuman Ini, Dijamin Enggak Kalah Sama Gen Z
Realita Generasi Z
Dikutip dari berbagai sumber, Selasa (7/11/2023), berikut adalah beberapa realita yang dihadapi oleh generasi Z:
1. Pendidikan
Faktanya tidak semua dari generasi ini memiliki kesempatan untuk mengejar pendidikan mereka, karena 30% dari anggota Gen-Z ternyata tidak dapat mengakses sekolah akibat keterbatasan finansial.
Penyebab utama ketidakpartisipan pendidikan di kalangan Gen-Z adalah masalah ekonomi, yang mencapai 75% dari total. Dari persentase tersebut, sekitar 67% di antaranya menghadapi kesulitan dalam membayar biaya pendidikan mereka, sementara 8% sisanya terpaksa mencari pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan finansial mereka.
Gen-Z yang tidak bersekolah ini, pada kenyataannya, tidak dapat digolongkan sebagai kelompok yang diagungkan pada media sosial, seperti Gen-Z yang fasih berbahasa Inggris atau Gen-Z yang telah terpenuhi kebutuhan mereka sejak masa kecilnya.
2. Pekerjaan
Generasi Z (Gen-Z) di Indonesia saat ini mengalami tingkat stres yang tinggi karena kesulitan dalam mencari pekerjaan.
Ketika membicarakan Gen-Z, masyarakat seringkali membayangkan generasi muda yang penuh karya, kreatifitas, dan penuh semangat dalam upaya mereka.
Namun, yang sebenarnya, Gen-Z sedang berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan.
Dikutip dari proyek Multatuli, lebih dari 3 juta anggota Generasi Z sedang berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan demi membantu memerbaiki kualitas hidup mereka.
3. Citra di media sosial dan kesehatan mental
Generasi Z (Gen-Z) sering diberi citra sebagai generasi unggul yang selalu kekinian dan memiliki kemampuan mencapai kesuksesan melalui cara-cara mereka sendiri.
Namun, ekspektasi tinggi yang diletakkan pada mereka seringkali berdampak negatif pada kesehatan mental Gen-Z.
Baca Juga: Gagasan Pemuda, Wadah Aspirasi Gen-Z Dan Milenial Untuk Ganjar-Mahfud
Tingginya tekanan untuk mencapai citra kesempurnaan ini menyebabkan Gen-Z mudah mengalami masalah kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, dan gangguan mental lainnya.
Sehingga, mereka merasa terlalu tertekan untuk menciptakan citra yang sempurna di media sosial.
Meski Gen-Z dianggap memiliki kualitas positif yang lebih tinggi, seperti kreativitas dan semangat inovasi, namun mereka juga menghadapi sejumlah tantangan yang tidal selalu terlihat dalam citra di media sosial. (Ami Fatimatuz Zahro’)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









