Akurat

7 Strategi Riset UI/UX yang Wajib Dikuasai agar Desain Tidak Gagal di Pasar

Eko Krisyanto | 23 Desember 2025, 23:16 WIB
7 Strategi Riset UI/UX yang Wajib Dikuasai agar Desain Tidak Gagal di Pasar

AKURAT.CO Keberhasilan sebuah produk digital tidak semata ditentukan oleh tampilan visual yang menarik. Di balik desain yang efektif, terdapat pemahaman mendalam tentang pengguna—mulai dari kebutuhan, perilaku, hingga motivasi mereka. Di sinilah peran UI/UX researcher menjadi krusial.

Seorang UI/UX researcher bertugas menggali insight pengguna melalui riset terstruktur agar desain yang dihasilkan benar-benar relevan dan tepat sasaran.

Dikutip dari Maze, pengumpulan data pengguna dilakukan dengan mengombinasikan metode kuantitatif dan kualitatif untuk memperoleh gambaran utuh tentang pengalaman pengguna.

Proses ini mencakup penentuan tujuan riset, pemilihan metode, perekrutan partisipan, analisis data, hingga penerapan hasil riset ke dalam desain produk.

Peneliti UI/UX bekerja erat dengan tim desain dan pengembang untuk memastikan setiap fitur dan elemen antarmuka mampu menjawab kebutuhan nyata pengguna, bukan sekadar asumsi.

7 Strategi Pengumpulan Data oleh UI/UX Researcher agar Desain Lebih Tepat Sasaran

1. Menentukan Tujuan dan Pertanyaan Riset

Langkah awal dalam riset UX adalah menetapkan tujuan yang jelas. UI/UX researcher perlu memahami masalah apa yang ingin diselesaikan dan merumuskan pertanyaan riset yang relevan.

Tujuan riset bisa berupa meningkatkan pengalaman pengguna, menguji hipotesis desain, atau menemukan hambatan (pain point) dalam alur penggunaan produk. Tanpa tujuan yang terarah, proses riset berisiko kehilangan fokus.

2. Memilih Metode Riset yang Tepat

Pemilihan metodologi sangat bergantung pada jenis pertanyaan dan konteks produk. Maze menjelaskan bahwa metode kuantitatif seperti survei dan A/B testing digunakan untuk mengukur skala suatu fenomena, sementara metode kualitatif seperti wawancara mendalam dan usability testing membantu

memahami alasan di balik perilaku pengguna. Kombinasi kedua pendekatan ini sering digunakan untuk menghasilkan insight yang lebih komprehensif.

3. Merekrut Partisipan yang Representatif

Akurasi riset UX sangat dipengaruhi oleh kualitas partisipan. Peneliti harus memastikan bahwa responden benar-benar mewakili target pengguna produk.

Rekrutmen dapat dilakukan melalui komunitas pengguna, platform riset daring, atau basis data pelanggan. Partisipan yang tepat akan menghasilkan data yang lebih relevan dan aplikatif.

4. Melakukan Pengumpulan Data

Tahap ini merupakan inti dari proses riset. UI/UX researcher melakukan wawancara, observasi, atau pengujian sesuai metode yang dipilih.

Dalam usability testing, misalnya, pengguna diminta menyelesaikan tugas tertentu untuk mengidentifikasi kendala dalam antarmuka. Proses ini dapat dilakukan secara langsung maupun daring, dan seluruh data harus dicatat secara sistematis untuk dianalisis lebih lanjut.

5. Menganalisis dan Mensintesis Temuan

Data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk menemukan pola, tren, dan insight utama. Proses ini melibatkan pengelompokan data, identifikasi masalah utama, serta penyusunan rekomendasi.

Kemampuan UI/UX researcher mengolah data mentah menjadi insight yang mudah dipahami menjadi kunci agar hasil riset dapat ditindaklanjuti oleh tim produk.

6. Validasi dan Uji Iterasi

Setelah desain diperbaiki berdasarkan temuan riset, langkah selanjutnya adalah melakukan validasi.

Pengujian ulang, seperti A/B testing atau usability testing lanjutan, dilakukan untuk memastikan perubahan desain benar-benar meningkatkan pengalaman pengguna. Pendekatan ini membantu tim menghindari keputusan berbasis asumsi semata.

7. Mengomunikasikan dan Mengimplementasikan Hasil Riset

Tahap akhir adalah menyampaikan hasil riset kepada seluruh pemangku kepentingan, mulai dari desainer, pengembang, hingga tim bisnis.

UI/UX researcher biasanya menyajikan temuan dalam bentuk laporan visual, infografik, atau dashboard agar mudah dipahami. Komunikasi yang efektif akan mempercepat implementasi desain dan menyatukan visi pengembangan produk.

Pada akhirnya, desain yang sukses bukan hanya soal kreativitas visual, tetapi tentang sejauh mana produk mampu menjawab kebutuhan pengguna secara nyata.

Pendekatan riset yang sistematis membuat desain tidak hanya menarik, tetapi juga relevan, efisien, dan memberikan pengalaman terbaik bagi penggunanya.

Laporan: Salsabilla Nur Wahdah/magang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.