China Balas Trump, Tetapkan Tarif Baru Produk AS hingga Batasi Ekspor

AKURAT.CO China dengan cepat merespons kebijakan tarif 10 persen yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dengan menetapkan tarif baru pada berbagai produk AS serta menerapkan pembatasan ekspor.
Beijing menerapkan strategi ini untuk mengurangi dampak ekonomi dalam jangka pendek. Langkah ini juga menunjukkan kesiapan pemerintah untuk mengambil tindakan lebih lanjut jika ketegangan perdagangan semakin meningkat.
China segera membalas tarif AS dengan mengenakan bea masuk pada batu bara, gas dan barang lainnya. Beijing juga membatasi ekspor mineral penting dan menyelidiki Google atas dugaan monopoli.
Para ahli ekonomi memperkirakan bahwa tarif China akan berdampak pada sekitar $20 miliar (sekitar Rp326 triliun) ekspor AS, jauh lebih kecil dibandingkan tarif Trump yang menyasar lebih dari $450 miliar (sekitar Rp7.335 triliun) barang dari China.
Dikutip dari The New York Times, Kamis (6/2/2025), tarif ini baru akan diberlakukan penuh pada 10 Februari, memberi ruang bagi negosiasi lebih lanjut. Selain terhadap China, kebijakan tarif AS juga menyasar Kanada dan Meksiko.
Namun, kedua negara tersebut berhasil mencapai kesepakatan dengan AS terkait keamanan perbatasan dan fentanyl, yang membuat mereka mendapatkan penangguhan tarif selama 30 hari. Di sisi lain, Uni Eropa juga menjadi target potensi tarif Trump, yang memicu kekhawatiran dampak negatif terhadap ekonomi global.
Para pejabat Eropa menekankan bahwa perang dagang hanya akan merugikan kedua belah pihak. Di pasar keuangan, indeks S&P 500 sempat menguat setelah bursa saham Asia pulih dari penurunan sebelumnya.
Namun, ketidakpastian akibat perang dagang masih membayangi pasar Eropa. Sementara itu, Trump dijadwalkan mengadakan pembicaraan dengan Presiden China, Xi Jinping, dalam waktu dekat.
China sendiri menegaskan bahwa mereka menolak kebijakan tarif dan mendorong penyelesaian melalui dialog. Sebagai bagian dari langkah balasannya, China membuka penyelidikan antimonopoli terhadap Google.
Meskipun layanan mesin pencari Google tidak tersedia di China, perusahaan teknologi ini tetap terkena dampak dari ketegangan geopolitik yang semakin memanas. Ketegangan perdagangan antara AS dan China masih jauh dari kata selesai, dengan kedua negara terus mempertahankan sikap masing-masing.
Dunia kini menantikan bagaimana negosiasi antara Trump dan Xi Jinping akan menentukan arah hubungan ekonomi kedua negara di masa mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 24 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 4Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 5Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 6Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 7Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Biaya Marketplace Makin Tinggi, Brand Lokal Mulai Mengandalkan Website Sendiri
- 9Silmy Karim Didakwa Terima Rp1,2 Miliar dari Pungli Dokumen Imigrasi
- 10KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah








