Akurat Logo

Bos BI Sebut Saham RI Masih Murah, Tata Kelola Jadi Kunci Investor Asing Kembali

Esha Tri Wahyuni | 30 Oktober 2026, 08:50 WIB
Bos BI Sebut Saham RI Masih Murah, Tata Kelola Jadi Kunci Investor Asing Kembali
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti - AKURAT.CO/Esha Tri Wahyuni

AKURAT.CO Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti menilai, pasar modal Indonesia masih memiliki peluang untuk menarik kembali investor asing meski pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia memicu tekanan arus modal keluar (capital outflow).

Menurut Destry, tekanan tersebut berpotensi bersifat jangka pendek. Namun, pemulihan kepercayaan investor global akan sangat bergantung pada keseriusan regulator dalam menyelesaikan berbagai persoalan tata kelola (governance) yang menjadi perhatian pasar.

"Kalau saya yakin, jangka panjang kita sangat punya peluang. Jadi kalau MSCI, kita melihatnya jangka pendek yang memang ada shock di situ. Dan kita berharap, tentu kalau isu-isu yang menjadi concern itu sudah di-address, tentunya dia akan bisa berbalik lagi," kata Destry dalam acara Rapimnas Kadin di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Baca Juga: Caplok Asuransi Etiqa, Maybank Indonesia Mulai Beroperasi sebagai Grup Keuangan Terintegrasi

Destry menilai fundamental ekonomi Indonesia masih memiliki daya tarik bagi investor yang berorientasi jangka panjang. Karena itu, respons terhadap persoalan MSCI tidak cukup hanya dengan meredam gejolak pasar dalam waktu dekat, tetapi juga harus disertai pembenahan struktural di pasar modal.

Menurutnya, pengumuman MSCI dapat menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat perbaikan transparansi, tata kelola, dan regulasi pasar modal Indonesia. Langkah tersebut penting untuk menjawab kekhawatiran investor sekaligus memperkuat kepercayaan terhadap kualitas pasar keuangan domestik.

Destry juga menyoroti pandangan seorang analis saham yang menilai valuasi saham Indonesia relatif murah. Dalam paparannya, ia menyebut rasio harga saham terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) berada di kisaran tujuh kali.

Baca Juga: Maybank Indonesia dan Sunway Medical Centre Jalin Kemitraan Strategis, Manjakan Nasabah Premier Lewat Akses Kesehatan Eksklusif

Selain itu, ia menyampaikan bahwa level harga saham Indonesia disebut telah kembali ke posisi 1993. Menurut pandangan yang disampaikan Destry tersebut, kondisi ini menunjukkan bahwa harga saham belum sepenuhnya mencerminkan potensi ekonomi Indonesia.

Meski demikian, valuasi yang murah tidak serta-merta menjamin masuknya kembali modal asing. Investor tetap mempertimbangkan kualitas tata kelola, transparansi informasi, likuiditas, serta kepastian regulasi sebelum menempatkan dana dalam jumlah besar di suatu pasar.

Oleh karena itu, perbaikan tata kelola menjadi salah satu faktor penting untuk mengubah potensi valuasi tersebut menjadi daya tarik investasi yang lebih berkelanjutan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.