Akurat

Ungkap Motif di Balik Kasus Kematian Prada Lucky yang Dianiaya Seniornya

Eko Krisyanto | 13 Agustus 2025, 15:42 WIB
Ungkap Motif di Balik Kasus Kematian Prada Lucky yang Dianiaya Seniornya

AKURAT.CO Penganiayaan terhadap Prada Lucky Chepril Saputra Namo, Prajurit TNI AD yang meninggal dunia dianiaya seniornya, adalah terkait dengan kegiataan pembinaan prajurit.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat, Brigjen TNI Wahyu Yudhayana, menyebut insiden ini berawal dari pelaksanaan pembinaan terhadap prajurit yang dilakukan oleh pada seniornya, bukan karena alasan pribadi atau orientasi seksual.  

Dalam penjelasan resmi TNI AD, pembinaan yang dimaksud melibatkan berbagai bentuk mulai dari fisik, mental, hingga kesehatan dengan tujuan meningkatkan kemampuan prajurit dalam menjalankan tugas. 

Baca Juga: TNI AD: Gudang Amunisi Sudah Didesain dengan Alat Pemadam Kebakaran

Namun, dalam kasus yang menimpa Prada Lucky, pembinaan yang seharusnya bersifat mendidik tersebut, justru berkembang menjadi kekerasan fisik yang brutal hingga berujung pada hilangnya nyawa sang prajurit muda.

Hingga kini, 20 anggota TNI dari Teritorial Pembangunan 834 Wakanga Mere, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan dalam proses hukum lebih lanjut. 

Di sisi lain, keluarga Prada Lucky membantah dugaan bahwa kematiannya putranya terkait isu orientasi seksual seperti tuduhan gay. Keluarga mengatakan itu sebagai fitnah untuk menutupi penyiksaan yang dialami. 

Pihak rumah sakit mengungkapkan bahwa Prada Lucky mengalami tanda-tanda penyiksaan fisik yang sangat parah termasuk ginjal bocor yang diduga kuat akibat penganiayaan berulang. 

Adanya kasus Prada Lucky turut mengungkap sisi gelap praktik pembinaan militer yang sering digunakan sebagai alasan untuk melakukan kekerasan. 

Baca Juga: Pelaku Penganiayaan Prada Lucky Harus Dihukum Maksimal dan Dipecat

Kejadian ini menuntut adanya reformasi menyeluruh dalam budaya dan sistem pembinaan di lingkungan militer. 

Reformasi ini bukan hanya soal aturan, tetapi juga perubahan mindset dan pengawasan ketat untuk melindungi hak asasi setiap prajurit. 

Aqila Shafiqa Aryaputri (Magang)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R