Rencana Presiden Bentuk Komisi Reformasi Kepolisian Didukung, Pengamat Ingatkan Revisi UU Polri

AKURAT.CO Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk segera membentuk tim atau Komisi Reformasi Kepolisian mendapat dukungan dari berbagai kalangan.
Salah satunya datang dari pengamat kepolisian Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Bambang Rukminto.
Meski begitu, Bambang mengingatkan bahwa reformasi Polri harus dipahami sebagai proses jangka panjang, bukan sekadar pergantian pimpinan.
“Kalau pembentukan Tim Reformasi Polri hanya untuk mempercepat pergantian Kapolri tanpa menyentuh problem substansial organisasi, itu tak lebih dari angin surga,” kata Bambang kepada Akurat.co, Senin (15/9/2025).
Menurut Bambang, langkah mendasar yang harus ditempuh adalah merevisi Undang-Undang Kepolisian.
Pasalnya, lebih dari 25 tahun reformasi dan 23 tahun sejak lahirnya UU Polri, penempatan Polri langsung di bawah Presiden serta lemahnya kontrol Kompolnas justru memunculkan persoalan baru.
“Penempatan Polri langsung di bawah Presiden berpotensi menjadikannya alat politik. Situasinya mirip era Orde Baru, hanya beda struktur,” ujarnya.
Ia menilai hal ini menunjukkan adanya kesalahan dalam reformasi 1998. Alih-alih membangun sistem yang kuat, Polri malah sangat bergantung pada visi personal Presiden.
“Kalau ingin membangun Polri yang profesional dan independen, harus dimulai dengan revisi UU Kepolisian, termasuk memperkuat independensi Kompolnas, bukan menambah kewenangan Polri,” tegas Bambang.
Sebelumnya, Presiden Prabowo melakukan dialog dengan sejumlah tokoh Gerakan Nurani Bangsa (GNB) di Istana Merdeka, Kamis (11/9/2025).
Dalam pertemuan itu, para tokoh mendesak pembebasan aktivis, mahasiswa, dan pelajar yang masih ditahan pasca prahara akhir Agustus, sekaligus menekankan pentingnya reformasi kepolisian.
Pendeta Gomar Gultom yang hadir dalam pertemuan menyebut tuntutan tersebut langsung direspons positif Presiden.
“Pak Presiden menyambut baik dan menyatakan akan segera membentuk tim atau komisi reformasi kepolisian. Jadi gayung bersambut dengan apa yang disuarakan masyarakat,” kata Gomar.
Ia menilai dialog ini memperkuat kesamaan pandangan antara Presiden dan kelompok masyarakat sipil.
Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah tokoh lintas agama dan masyarakat, di antaranya Sinta Nuriyah Wahid, Quraish Shihab, Franz Magnis Suseno, Alissa Wahid, Komaruddin Hidayat, Lukman Hakim Saifuddin, Erry Riyana Hardjapamekas, Laode M. Syarif, hingga Uskup Antonius S. Bunjamin.
Baca Juga: Solo Jadi Magnet Dunia, 17 Negara Ambil Bagian di Piala Dunia Para Anggar 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 4Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 5Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 6Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 7Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 8Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah









