Jangan Asal Klik dan Share! Begini Panduan Tabayyun dalam Islam saat Menghadapi Berita Viral

AKURAT.CO Berita viral sering kali menyebar lebih cepat daripada proses pemeriksaan kebenarannya. Satu unggahan dapat dibagikan ribuan kali hanya dalam hitungan menit, meskipun informasi di dalamnya belum tentu benar. Karena itu, sebelum menekan tombol share, penting bagi setiap Muslim untuk memastikan informasi yang diterima tidak menyesatkan atau merugikan orang lain.
Dalam Islam, sikap memeriksa kebenaran informasi dikenal dengan istilah tabayyun. Prinsip ini ditegaskan Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Yā ayyuhalladzīna āmanū in jā’akum fāsiqun binaba’in fatabayyanū an tuṣībū qauman bijahālatin fa tuṣbiḥū ‘alā mā fa‘altum nādimīn.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya membuat kamu menyesali perbuatanmu.”
Ayat tersebut mengajarkan bahwa informasi tidak boleh diterima begitu saja, terlebih jika berpotensi menimbulkan kerugian bagi pihak lain. Semangat tabayyun menjadi semakin relevan di era media sosial, ketika siapa pun dapat menyebarkan informasi tanpa melalui proses penyuntingan atau verifikasi.
Baca Juga: Doa saat Overthinking, Memohon Petunjuk Allah agar Diberi Jalan Terbaik dalam Hidup
Periksa sumber sebelum membagikan
Langkah pertama adalah memeriksa asal informasi. Perhatikan siapa yang menyampaikan berita, apakah berasal dari media atau lembaga yang jelas, serta apakah unggahan tersebut menyertakan sumber yang dapat ditelusuri.
Jika informasi hanya beredar melalui tangkapan layar, pesan berantai, atau akun anonim, jangan buru-buru menganggapnya sebagai fakta. Cari pemberitaan dari sumber lain yang kredibel untuk melihat apakah informasi serupa juga telah dikonfirmasi.
Jangan hanya membaca judul
Judul yang provokatif sering digunakan untuk menarik perhatian dan mendorong orang membagikan suatu unggahan. Padahal, isi berita bisa saja tidak sepenuhnya sesuai dengan judul.
Karena itu, baca informasi secara utuh. Periksa tanggal publikasi, konteks peristiwa, serta pernyataan narasumber. Foto atau video lama juga dapat kembali beredar dengan keterangan baru sehingga menimbulkan pemahaman yang keliru.
Tahan diri ketika informasi memancing emosi
Berita yang memicu kemarahan, ketakutan, atau kebencian sering membuat seseorang ingin segera bereaksi. Dalam keadaan emosional, orang lebih mudah membagikan informasi tanpa memeriksa kebenarannya.
Islam mengingatkan agar setiap perkataan dan tindakan dipertanggungjawabkan. Allah berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 36:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Wa lā taqfu mā laisa laka bihī ‘ilm. Inna as-sam‘a wal-baṣara wal-fu’āda kullu ulā’ika kāna ‘anhu mas’ūlā.
Artinya: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
Ayat ini menjadi pengingat bahwa informasi yang didengar, dilihat, dan diyakini bukan sesuatu yang bebas dari tanggung jawab. Membagikan kabar yang belum jelas kebenarannya juga dapat menjadi bagian dari persoalan tersebut.
Ingat, menyebarkan kabar juga memiliki konsekuensi
Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadis riwayat Muslim:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
Kafā bil-mar’i kadziban an yuḥadditsa bikulli mā sami‘a.*
Artinya: “Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang didengarnya.”
Baca Juga: Doa saat Merasa Lelah Menjalani Kehidupan, Memohon Kekuatan dan Ketenangan kepada Allah
Hadis ini mengajarkan agar seseorang tidak menjadi penyambung setiap kabar yang sampai kepadanya. Tidak semua informasi harus diteruskan, terutama jika kebenarannya belum dapat dipastikan.
Pada akhirnya, tabayyun bukan sekadar kebiasaan memeriksa fakta, melainkan bagian dari tanggung jawab moral seorang Muslim dalam berkomunikasi. Menahan diri untuk tidak membagikan berita yang belum terverifikasi dapat mencegah fitnah, kesalahpahaman, dan kerugian bagi orang lain.
Di tengah derasnya arus informasi, terkadang tindakan paling bijak bukan menjadi orang pertama yang membagikan berita, melainkan menjadi orang yang memastikan kebenarannya terlebih dahulu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 3Soal Gugatan Syarat Pendidikan Gibran ke MK, Margarito Kamis: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- 4Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 5Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 6Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 7Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 8Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 9Rocky Gerung Minta Buruh Kawal RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Jangan Mundur jika Berhadapan Kekuasaan
- 10Hanya Kompromi Politik, Fahri Hamzah Tantang DPR Tetapkan Ambang Batas Parlemen Nol atau 20 Persen



