Bripka Masagus Ditahan Akibat Meledek Pendemo: Ini Bahaya Menghina Orang Lain Menurut Hadis Nabi

AKURAT.CO Peristiwa yang menyeret nama Bripka Masagus setelah tindakan meledek terhadap pendemo menjadi pengingat bahwa ucapan seorang aparat tidak hanya dinilai dari maksud pribadi, tetapi juga dari dampaknya terhadap orang lain. Dalam situasi demonstrasi yang penuh ketegangan, satu ucapan atau gestur yang dianggap merendahkan dapat memperbesar emosi dan memperkeruh suasana. Karena itu, persoalan tersebut dapat dilihat bukan hanya dari sisi disiplin dan hukum, tetapi juga dari perspektif etika Islam.
Islam memberikan perhatian besar terhadap cara seseorang berbicara kepada orang lain. Bahkan, Al-Qur'an melarang seseorang merendahkan, mencela, atau memberikan julukan yang menyakitkan kepada sesamanya. Larangan tersebut menunjukkan bahwa menjaga kehormatan manusia merupakan bagian dari akhlak yang tidak boleh diabaikan, termasuk ketika seseorang sedang berhadapan dengan pihak yang berbeda pandangan.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka.”
Pesan ayat tersebut cukup jelas: perbedaan posisi, status, profesi, maupun pandangan tidak memberikan alasan bagi seseorang untuk merendahkan orang lain. Bahkan, manusia tidak pernah benar-benar mengetahui nilai seseorang di hadapan Allah. Orang yang dianggap rendah oleh manusia bisa saja memiliki kedudukan yang lebih baik di sisi-Nya.
Baca Juga: Belajar dari Kasus Lapas Cibinong: Mengapa Sifat 'Hubbud Dunya' Bisa Merusak Keadilan?
Rasulullah SAW juga memberikan peringatan keras mengenai bahaya merendahkan sesama. Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi menjelaskan bahwa kesombongan bukan sekadar persoalan penampilan atau kekayaan, tetapi juga berkaitan dengan sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Artinya, “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
Hadis tersebut memperlihatkan bahwa meremehkan manusia bukan persoalan sepele. Ketika seseorang merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain, komunikasi dapat berubah menjadi penghinaan. Dalam konteks ruang publik, terlebih ketika dilakukan oleh seseorang yang memiliki kewenangan, ucapan semacam itu juga dapat dipersepsikan sebagai tindakan yang merendahkan martabat pihak lain.
Hal ini menjadi semakin penting dalam situasi demonstrasi. Aksi penyampaian pendapat pada dasarnya melibatkan perbedaan kepentingan dan pandangan. Polri sendiri dalam sejumlah kesempatan menegaskan pentingnya penyampaian aspirasi secara tertib, damai, dan bertanggung jawab. Karena itu, baik aparat maupun demonstran sama-sama memiliki tanggung jawab menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi penghinaan atau tindakan provokatif.
Islam bahkan mengajarkan bahwa kekuatan seseorang tidak selalu ditunjukkan dengan kemampuan membalas atau memenangkan perdebatan. Nabi Muhammad SAW justru mengajarkan pengendalian diri ketika menghadapi kemarahan. Dalam hadis yang sangat populer, Rasulullah bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Artinya, “Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
Pesan tersebut relevan dalam situasi yang mudah memancing emosi. Ketika seseorang berada dalam tekanan atau menghadapi massa yang berbeda pandangan, kemampuan mengendalikan ucapan justru menjadi bentuk kekuatan. Sebaliknya, ejekan dapat memperlebar jarak dan mengubah persoalan yang sebenarnya dapat diselesaikan secara dialogis menjadi konflik yang lebih besar.
Baca Juga: Adab Naik Kendaraan Umum: Cara Islam Menjaga Kehormatan Wanita di Ruang Publik
Kasus yang melibatkan Bripka Masagus akhirnya dapat menjadi pelajaran bahwa menjaga kehormatan orang lain merupakan tanggung jawab bersama. Aparat memiliki kewenangan, sementara masyarakat memiliki hak menyampaikan aspirasi. Keduanya tetap berada dalam ruang etika yang sama: tidak merendahkan, tidak menghina, dan tidak menggunakan perbedaan sebagai alasan untuk menghilangkan martabat manusia.
Pada akhirnya, kritik boleh disampaikan dan perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan sosial. Namun, kritik tidak harus berubah menjadi ejekan. Dalam perspektif Islam, kualitas seseorang justru terlihat dari kemampuannya menjaga lisan ketika berada dalam situasi sulit. Sebab sebuah ucapan mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi dampaknya terhadap kehormatan seseorang dan suasana sosial bisa jauh lebih panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 4Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 5Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 6Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 7Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 8Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah




